Ummu Umar, Sang Ibu Yang Menjadi Juru Masak Mujahidin Suriah

MuslimahZone.com – Pada umurnya yang kini telah menginjak 53 tahun, Ummu Umar memutuskan untuk melancarkan aksi “jihad” nya sendiri di Pegunungan Turkmen, wilayah utara Suriah. Ia bekerja keras di samping panci dan wajan setiap harinya untuk memasak makanan bagi para mujahidin di wilayah itu.

“Saya bangun tidur pukul 5 pagi untuk menyiapkan makanan untuk mereka, dan saya tidak melewatkan satu haripun absen bekerja dalam kurun waktu hampir setahun ini,” katanya, seraya menyendok potongan kentang yang ia iris-iris berbentuk dadu dari sepanci minyak yang sedang mendidih .

“Di bawah turunnya salju, guyuran hujan, dan bahkan hujanan roket, sang ibu tidak pernah berhenti memasak untuk kami,” ujar Assad, seorang mujahid muda di daerah Jabal al-Turkman di provinsi Lattakia, tempat kelahiran klan al-Assad yang telah memerintah negara itu selama lebih dari empat dekade.

Abu Kholid, seorang penembak jitu dari unit mujahidin di dekat situ, juga tak hentinya memuji Ummu Umar, yang baginya ibarat ibu maupun saudara perempuan para mujahid.

“Dia melakukan banyak hal yang mustahil dilakukan, untuk mendapatkan apa yang kami inginkan. Seseorang meminta puding beras dan ia berjuang untuk menemukan bahan-bahan pembuatnya, lalu keesokan harinya, ia membuat puding berasnya,” katanya.

“Di sini, orang-orang yang belum sanggup mengatakan bahwa masakannya lebih baik dari ibu mereka sendiri, hanya bisa berujar, “Masakannya sama enaknya dengan masakan ibuku,” tambahnya, sambil menyajikan masakan nasi dan kentang yang telah dibumbui buatan Ummu Umar pagi itu.

Namun, pekerjaannya itu tidak memberinya kebanggaan yang spesial. Di tengah kesibukannya meramu garam ke dalam panci, ia berceloteh, “Memberi makan pada para pejuang hanyalah salah satu cara saya membantu revolusi. Dan itu membuat pikiran saya sibuk, sehingga saya tidak lagi merasa khawatir tentang penderitaan yang kami rasakan akibat pengeboman dan penghinaan yang dilakukan rezim Assad setiap harinya.”Ummu Umar mengakhiri kalimatnya, “Semoga Allah mengutuk Bashar Assad.”

Ia mengambil keputusan sendiri untuk meninggalkan kota barat Lattakia, tempat dimana dia tinggal. Adapun sebagian Jabal al-Turkman saat ini dikuasai kelompok mujahidin. Sebelah utara daerah ini berbatasan dengan Turki, yang mendukung revolusi Suriah. Sedang para pengikut sekte Alawi menghuni pegunungan selatan, rumah bagi para pendukung minoritas Assad.

“Aku bersumpah pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan meninggalkan pegunungan hingga penguasa tiran jatuh. Kemudian kami bisa kembali ke rumah kami sebagai pemenang, “katanya dengan penuh keyakinan.

“Awalnya, anak-anak saya tidak mengerti, tapi saya menjelaskan kepada mereka apa yang saya lakukan dan sekarang suami saya memutuskan dengan bulat untuk datang bergabung,” tambahnya, bergerak dari satu panci yang mendidih ke panci yang lain. “Pokoknya, saya membuat pilihan saya sendiri, saya melakukan apa yang saya inginkan.”

Sang ibu ini mengikuti rutinitas yang ketat setiap harinya di pegunungan, naik ke atas untuk sholat pada waktu fajar, lalu kembali turun untuk bekerja setelah menikmati kopi hangat.

“Aku pergi dan melihat tetangga, mereka masing-masing memberi saya sedikit untuk makan hari itu, yang kemudian saya bagikan kepada para pejuang dan orang-orang yang tinggal di sekitarnya,” jelasnya.

Di perkebunan keluarga Turkmenistan, dia menggunakan pisau kecil untuk memotong beberapa tangkai sayur mint, peterseli, dan beberapa daun selada. Lalu dia menuju kembali ke “dapur” nya yang dibuat dari tumpukan kayu untuk menghalangi angin dan selembar kanvas sebagai atapnya.

Seorang Chef yang seadanya ini tidak memiliki celemek, namun ia mengenakan satu set seragam tempur yang diberikan para mujahidin padanya.

“Di rumah, saya punya kompor gas di dapur, tapi di sini saya harus belajar untuk memasak menggunakan kayu bakar.” Katanya, di tengah-tengah kesibukannya mengumpulkan ranting dan dahan pohon cemara di sebuah lapangan yang bersebelahan dengan markas brigade mujahidin lokal.

Terkadang, Ummu Omar pergi sendirian memotong kayu bakar untuk dapur gunungnya itu di hutan terdekat.

“Revolusi ini benar-benar memaksa saya untuk menjadi wanita tegar,” katanya sambil tertawa.

(fauziya/shoutussalam/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk