Tugas Pokok Wanita Menurut Islam

MuslimahZone.com – Sampai hari ini, sebagian media massa dan aktivis feminis masih saja berusaha mendorong wanita muslimah di Indonesia untuk bekerja di berbagai bidang layaknya pria. Di antara usaha mereka itu, ada yang berbentuk himbauan langsung dan ada yang berbentuk pencitraan positif. Himbauan langsung agar para muslimah berpartisipasi aktif sebagaimana pria biasanya dilakukan oleh para aktivis feminis, sedangkan pencitraan positif biasanya dilakukan oleh media massa.

Akibat usaha massif yang dilakukan oleh mereka itu, banyak muslimah yang terjebak pada pandangan yang mengecilkan peran wanita sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Padahal dalam Islam, justru peran itulah yang dianggap utama bagi wanita. Atau dalam kata lain, peran ibu dan pengatur rumah tangga merupakan tugas pokok bagi wanita menurut Islam.

Alasan utama yang menjadi landasan untuk menyimpulkan bahwa tugas pokok wanita adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga adalah adanya hukum-hukum mengenai wanita yang semuanya memberikan petunjuk ke arah pemahaman tersebut. Seperti hukum dalam masalah kehamilan, kelahiran, persusuan, pengasuhan dan hukum-hukum yang berkaitan dengan masalah ‘iddah.

Oleh karena itu, apapun lapangan pekerjaan wanita dan apapun beban yang dipikulnya, maka seorang wanita harus tetap mempertahankan fungsinya yang paling mendasar, yaitu sebagai ibu dan pengatur rumah tangga, termasuk sebagai pendidik bagi anak-anaknya.

Meski begitu, tidak berarti bahwa aktivitas wanita hanya dibatasi pada perannya sebagai ibu dan pengatur rumah tangga saja dan ia dilarang dari melakukan aktivitas-aktivitas yang lain. Sebaliknya, Islam telah menetapkan kebolehan wanita untuk menekuni aktivitas pertanian, industri, perdagangan dan bahkan mewajibkan aktivitas-aktivitas lain di luar peran ibu dan pengatur rumah tangga seperti mengemban dakwah dan menuntut ilmu.

Dengan demikian, anggapan bahwa Islam mengekang dan melakukan diskriminasi terhadap wanita adalah anggapan keliru bahkan ngawur karena tidak memiliki landasan sama sekali. Justru, yang diperbuat Islam itulah yang disukai oleh para wanita, termasuk wanita dari kalangan Barat.

Media Harian Seputar Indonesia menulis, “Saat ini kecenderungan wanita di dunia dalam beragam tingkat ekonomi, lebih memilih mengasuh anak dibandingkan mencari rezeki di luar.” Kesimpulan tersebut tercermin dari survei terbaru di Amerika Serikat yang menunjukkan turunnya angka wanita pekerja dalam beberapa dekade terakhir. “Penurunan pekerja wanita ternyata terlihat nyata di antara semua kelompok ekonomi masayarakat, totalnya kira-kira sama,” kata Philip Cohen PhD, profesor sosiologi di Universitas North Carolina, Chapel Hill, Amerika Serikat.

Dalam sebuah penelitian lain yang dilakukan pada tahun 2005, US Cencus Bureau melaporkan, diperkirakan sekitar 5,6 juta wanita memilih menjadi ibu rumah tangga dan tinggal di rumah. Data ini menunjukkan kenaikan 22% dari 1994.

Bukti lain, dalam sebuah buku berjudul The Cinderella Complex, ditemukan fakta betapa banyak wanita Amerika yang ternyata lebih senang berperan sebagai ibu rumah tangga dibanding keluar rumah untuk bekerja. Penulis buku tersebut, Colette Dowling, bahkan mengakui bahwa ia sendiri menikmati kesenangan menjadi seorang istri dan menginginkan pekerjaan merawat, membuat kue dan membersihkan kamar-kamar.

Bahkan dalam buku tersebut juga ditemukan fakta betapa banyak wanita yang keluar dari pekerjaannya dengan alasan bahwa bekerja telah menimbulkan stres pada mereka dan ketika mereka telah berhenti dari pekerjaan dan kembali berada di rumah, mereka mengakui telah merasakan kelegaan yang luar biasa.

Demikianlah betapa Islam telah menetapkan segala sesuatunya sesuai dengan tabiatnya. Maka ketika suatu ketetapan tidak dijalankan berdasarkan Islam, justru malah menimbulkan kerusakan yang besar, yang itu diakibatkan ketidaktahuan manusia mengenai hakikat objek yang ia beri ketetapan tersebut.

Dengan demikian, agar kerusakan tidak berlangsung terus-menerus, maka kewenangan membuat peraturan harus diserahkan kepada Yang Maha Tahu, yaitu Allah SWT, termasuk dalam soal penetapan tugas yang pokok atau utama bagi wanita. Dan bila suatu ketetapan telah diputuskan oleh-Nya, maka setiap hati mukminin dan mukminat harus menerimanya dengan penuh kepasrahan, selayaknya sikap seorang hamba terhadap keputusan tuannya.

Oleh : Adnan Syafi’i

(detikislam/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk