Tentang Nikmat Kita Akan Ditanya

Muslimahzone.com – Seorang bapak paruh baya suatu saat bertutur, “Ya Allah, aku memohon izin kepada Engkau, hendak menggunakan akal-pikiran dan tubuhku hari ini untuk bekerja mencari nafkah yang halal demi memenuhi kebutuhan keluargaku.”

Mungkin kedengarannya aneh. Namun, demikianlah kata-kata itu hampir setiap pagi ia lafalkan sebelum berangkat ke tempatnya bekerja.

Ketika ia ditanya, sebegitu pentingkah memohon izin kepada Allah SWT untuk sekadar berangkat kerja? Ia menjawab, “Nak, kita sering mengklaim, harta kita milik Allah; istri dan anak-anak kita milik Allah; tubuh dan jiwa kita pun milik Allah. Semua milik Allah. Jadi, apa salahnya kita memohon izin dan ridha Allah saat kita memanfaatkan semua itu? Toh, semuanya memang milik-Nya yang kebetulan Dia titipkan kepada kita,” jawabnya serius, tanpa sedikitpun menyiratkan kepura-puraan.

“Ya, tapi bukankah Allah SWT memang telah menganugerahkan semua yang ada di dunia ini untuk kita, manusia?” kembali ia ditanya.

“Betul, tidak salah. Tapi, itu bukan berarti tanpa syarat. Seperti seseorang yang meminjamkan kendaraannya kepada kita untuk berbelanja, misalnya, tentu tak pantas kendaraan itu kita pakai untuk merampok. Engkau mengerti, kan?” katanya balik bertanya.

“Demikian pula dengan kita. Allah SWT menganugerahkan akal-pikiran dan tubuh kita untuk beribadah kepada Diri-Nya. Allah SWT menyediakan segala karunia-Nya di dunia ini, juga untuk bekal manusia mengabdi kepada Diri-Nya. Masalahnya, apakah semua yang Allah ‘pinjamkan’ kepada kita itu benar-benar telah dimanfaatkan sesuai dengan peruntukkannya itu? Ataukah semua yang hakikatnya milik Allah itu malah kita gunakan untuk bermaksiat dan melanggar perintah-Nya? Sudahkah mata yang Allah titipkan kepada kita, misalnya, benar-benar hanya digunakan untuk melihat yang halal; atau seringnya malah digunakan untuk melihat hal-hal yang haram? Sudahkah lisan kita digunakan hanya untuk mengeluarkan kata-kata yang bermanfaat serta mengandung hikmah dan nilai dakwah; atau seringnya malah untuk mengucapkan kata-kata yang sia-sia tak berguna?”

*****

Di lain waktu, seorang kiai sepuh yang amat wara’ dan zuhud di suatu daerah terpencil pernah ditanya oleh seorang anak muda, mengapa ia tidak pernah berniat menambah koleksi pakaiannya yang hanya beberapa potong saja di rumahnya, tak lebih dari 3-5 potong pakaian saja? Sang kiai sepuh menjawab, “Nak, yang lima potong saja sebagiannya masih sering tergantung begitu saja, jarang dipakai. Saya sering khawatir seandainya nanti hal itu ditanyakan oleh Allah SWT di akhirat nanti. Saya khawatir ditanya, ‘Kamu telah Aku beri nikmat, mengapa tak kamu syukuri; mengapa kamu sia-siakan?’”

Terkait kisah di atas, Allah SWT berfirman:

Kemudian pada hari itu kalian benar-benar akan ditanya tentang nikmat itu (TQS at-Takatsur [102]: 8).

Ayat ini tentu sering kita baca atau kita dengar. Namun, entah mengapa, saat ayat itu dibacakan kembali oleh guru saya, Al-Mukarram KH Hafidz Abdurrahman, dalam suatu kesempatan halaqah, saya tersentak dan tersadar. Saat itu, beliau menceritakan, bahwa Baginda Rasulullah saw. itu sering dilanda rasa lapar karena seringnya beliau tidak mendapati makanan di rumahnya. Saat tak punya makanan di rumahnya, beliau pun berpuasa. Beliau tidak sedih atau galau karena ‘musibah’ rasa lapar itu. Lalu pada saat ada sahabat yang mengirim kurma kepada beliau, bukannya bergembira. beliau malah kelihatan sedih dan galau, seraya mengingatkan kembali ayat di atas.

Begitulah sikap Rasulullah saw. saat mendapatkan nikmat. Mengapa? Karena terkait nikmat yang Allah berikan kepada manusia, sekecil apapun, akan dimintai pertanggung-jawaban. Nikmat yang dimaksud tentu saja adalah seluruh kelezatan dunia (Lihat: As-Suyuthi, Durr al-Mantsur, X/337).

Sebaliknya, Allah SWT tidak akan meminta pertanggungjawaban atas musibah yang Dia timpakan kepada manusia. Karena itu Baginda Rasulullah saw. tidak bersedih karena suatu musibah yang menimpa.

Namun, kita memang jauh berbeda dengan Baginda Rasulullah saw. Kita sering amat sedih saat kenikmatan lepas dari diri kita dan terlalu bergembira saat kenikmatan itu menghampiri kita; lupa jika dengan kenikmatan itu kita akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat nanti.

*****

Terkait dengan nikmat pula, kita tentu sering diingatkan dengan sebuah sabda Baginda Rasulullah saw. sebagaimana dituturkan oleh Ibn Mas’ud ra., “Kaki anak Adam tidak akan bergeser di hadapan Rabb-nya pada Hari Kiamat nanti sebelum ditanya tentang lima perkara (yaitu): umurnya, bagaimana ia lalui; masa mudanya, bagaimana ia habiskan; hartanya darimana ia dapatkan dan bagaimana ia belanjakan; serta tentang apa yang telah ia amalkan dari ilmu yang ia miliki.” (HR at-Tirmidzi).

Dalam hadis lain penuturan Ibn Abbas disebutkan bahwa Baginda Rasulullah saw. pun pernah bersabda, “Ada dua nikmat yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia yaitu: nikmat sehat dan waktu luang.” (HR al-Bukhari).

Padahal, terkait nikmat kesehatan dan waktu luang, kita pun akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban: sejauh mana kesehatan dan waktu luang itu kita manfaatkan; apakah untuk kebaikan atau keburukan; apakah untuk memperbanyak amal salih atau amal salah; apakah untuk memperbanyak amal dakwah atau melulu untuk urusan ma’isyah; dst.

Bagaimana dengan nikmat harta? Terkait sedikitnya harta kita, ia tetap akan dipertanyakan dan dimintai pertanggungjawaban: darimana dan untuk apa? Apalagi jika harta kita berlimpah-ruah, tentu akan lebih banyak lagi pertanyaan Allah SWT kepada kita pada Hari Akhir kelak. Itulah mengapa, Baginda Rasulullah saw. pernah bersabda tentang Abdurrahman bin Auf ra., seorang sahabat yang kaya-raya, “Nanti Abdurrahman bin Auf (karena hartanya yang banyak, pen.) akan masuk surga dalam keadaan merangkak.”

Mendengar sabda Baginda Rasulullah saw. demikian, seketika Abdurrahman bin Auf ra. pun menyedekahkan seluruh hartanya (termasuk emas dan perak) yang diangkut dengan 700 ekor unta (berikut seluruh untanya itu). Padahal harta itu baru saja tiba di Madinah sebagai hasil berbulan-bulan ia berbisnis di luar Kota Madinah. Ia melakukan itu tidak lain karena sangat khawatir atas lamanya penghisaban Allah SWT atas dirinya di akhirat kelak karena hartanya yang melimpah itu.

Wama tawfiqi illa bilLah wa ‘alayhi tawakaltu wa ilayhi unib.

Oleh: Arief B. Iskandar

(fauziya/muslimahzone.com)

No Responses

Leave a Reply

Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
MHTI Kembali Menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara (KIN)
Miris, Pasca Gempuran ke Aleppo Jokowi Malah Tanda Tangan Kerjasama dengan Iran
Keutamaan Ilmu
Tata Cara Mandi Haid dan Mandi Junub
Peran besar muslimah dalam dakwah Islam
Aroma Mewangi Minyak Kasturi
Neraka Jahannam Sepanjang Hidup, Surga Sepanjang Hidup
Rizki di Tangan Allah
Pada Suatu Titik
Mencari Jalan Pulang
Jodoh : Memilih Atau Dipilih ?
Ketika Istri Merasa Tidak Bisa Membahagiakan Suami
Pastikan Izin Suami Jika Ingin Menjalankan Shaum Sunnah
Satu-satunya Cinta yang Perlu Ada dalam Pernikahan bahkan dalam Kehidupan
Kenapa Anakku Susah Banget Sih Disuruh Sholat?
Aku Peduli Iman Anakku
Anak Sukses Bermula dari Bangun Pagi
Jangan Sia-Siakan “Masa SMA”
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Raditya Dika tak lagi Jenaka, Awkarin Malah jadi fenomena: Generasi Islam Mau Kemana?
Kisah Si Kaya dan Si Miskin (Pemilik Dua Kebun: Surat Al-Kahfi 32-44)
Gubernur Al-Hajjaj dan Pelajaran untuk Penguasa Durja
Nilai Ketaatan Isteri pada Suami
Nenek Penjaga Wahyu Al-Qur’an
Cara Mengatasi Anak Susah Makan
Asam Lambung Naik, Coba Obat Alami Ini
Popok Bayi Sekali Pakai VS Popok Kain
Bolehkah Ibu Hamil Makan Nangka?
Tips Merebus Telur yang Baik
Tips Meningkatkan Minat Membaca Buku
7 Tips Menyapih Anak
Tips Menyimpan Daging Kurban dengan Baik dan Sehat
Tips Merebus Telur yang Baik
Resep Aneka Olahan Singkong
Nikmatnya Pangsit Kuah Hangat Buatan Sendiri
Eksperimen Dapur : Kue Ketan Isi Mangga