Tendang ke Gelanggang walau Seorang!!

Muslimahzone.com – Kata bijak ini masuk kedalam jiwa saya ketika saya masih remaja dan bergabung dalam sebuah organisasi Pelajar Islam Indonesia.

Situasi yang sangat sulit waktu itu untuk mengajak orang hidup benar secara Islam bukan hidup benar sesuai budaya, melahirkan slogan ini yang bermakna agar siapa saja anggota organisasi ini harus siap berjuang sendirian, apapun dan bagaimanapun situasi yang dihadapi.

Yang ingin ditularkan itu adalah kebenaran karena Allah jadi jangan pernah takut sendirian, karena ada Allah.

Seelok eloknya sebuah permainan kan kalau ada tim, jadi bisa saling menunjang. Seumpama tim sepakbola: bisa saling lempar bola sehingga mampu mencetak goal ke  gawang lawan. Entah dari mana mulainya slogan ini, sehingga tak pakai tim pun tak apa: “Tendang ke gelanggang, walau seorang!”.

Dalam hidup saya selanjutnya, terutama ketika saya membesarkan anak anak saya didalam maupun diluar negeri, saya terus menjadikan slogan ini sebagai pegangan. Saya fikir, selama saya benar mengapa takut?.

Karena kesepakatan kami mengasuh anak menjadikannya hamba Allah yang taqwa dulu, maka di mana saja saya berada saya mengajak ibu-ibu di sekitar saya bersedia mengirimkan anak anaknya ke rumah saya untuk mengaji. Saya perlu anak anak lain untuk belajar bersama dengan anak anak saya, sehingga mereka tidak bosan dan bersemangat. Tentu jadi lebih repot, ya…konsekuensi lah.

Saya harus mengajar anak-anak yang lebih banyak dibandingkan dengan hanya dua orang (waktu itu) anak saya. Harus ngatur giliran dan mesti memikirkan kalau yang satu lagi diajar, yang lain harus diberikan tugas apa supaya nggak becanda, ribut, rebutan barang dan saling mengganggu. Harus ada waktu istirahat dan “snack time!”.

Berarti saya kalau gak membuat sendiri maka harus beli… Belum kalau saya mau anak-anak bersemangat dengan lomba, mesti sediakan hadiah…

Saya teringat suatu periode waktu saya tak bisa meneruskan menjadi “guru ngaji”, maka saya mintalah baik-baik pada sulung saya yang waktu itu SMP untuk menggantikan saya. Meniru ibunya dia juga bikin lomba yang lebih heboh dari ibunya dengan hadiah yang juga heboh.

Karena uang yang terbatas, maka dia memberi hadiah untuk juara 1 dan 2: 1 buku tulis tebal, tapi pakenya separoh separoh, antar sang juara 1 dan 2.. Saya kaget dan mengomentari: ”Hah bagaimana tuh?” anak saya menjawab dengan santai: ”Yang penting mereka happy ma!”, “Yang susah kan cuma mama!”.

Kami adalah satu satunya keluarga yang pertama dari kota kami tinggal yang membawa anak kami menyeberang beberapa state untuk ikut pertemuan keagamaan setiap tahun., sebelum keluarga lainnya ikut.

Banyak sekalilah hal yang saya lakukan yang membuat saya merasa saya sendiri dan berbeda serta sulit mulanya diterima oleh orang lain termasuk keluarga saya.

Misalnya bagaimana ketika kami membangun kesepakatan dengan anak sulung kami untuk berhenti dulu kuliah di Amerika dan pulang ke Indonesia mengaji “nyorog” (menghadap satu-satu ke gurunya/lawan dari metode klasikal) di salah satu pesantren di Yogya, karena usianya sudah melewati usia anak yang bisa jadi santri.

Kalau ada anggota keluarga yang bertanya,”Sekarang kuliah dimana?” Anak saya akan menjawab: ”Oh nggak kuliah Budhe, lagi ngaji dulu di Yogya”.

Pasti anggota keluarga atau teman yang mendengar akan kaget dan mengeluarkan komentar yang kadang tak nyaman bukan hanya di telinga tapi lebih lagi dihati. “Oh jauh jauh pulang dari Amerika, berenti kuliah, Ngajii? Ya ampuun!!”

Sudahlah pasti anak kami akan datang mengadu dan berkeluh kesah pada kami. Kami menghadapinya dengan santai mendengarkan rasanya dan kemudian mengingatkan dia pada komitmen kami sebelumnya.

Kami memompa ulang semangat dan pengertiannya, bahwa kita memang berbeda. Tapi kenapa kita berbeda?..lalu kami uraikan, antara lain karena kami menganut “Life style” yang berbeda.

Orang di sekitar kami umumnya menganut Linear life style : TK- SD-SMP-SMA-Kuliah- Kerja atau kawin kemudian kuliah lagi. Sementara kami menganut “Blended Life style” : yang setelah level tertentu anak boleh berhenti dulu sekolahnya, melakukan hal lain yang bermanfaat atau berbagai aktifitas kegiatan sela termasuk kawin dan punya anak lalu melanjutkan studinya. Termasuklah berhenti kuliah untuk ngaji dulu…

Semua ini dibicarakan sampai anak kami mengerti dan menerimanya kemudian mengadopsinya, sehingga dia merasadan berfikir sama seperti itu. Kalau kemudian dia menghadapi situasi yang serupa, dia yang “own the problem” sehingga dia menggunakan semua kemampuannya untuk mempertahankan sikap dan keputusannya, karena kami tidak selamanya ada bersamanya.

Namanya hidup, tentulah banyak sekali hal lain yang terjadi pada masing masing anak kami cerita yang serupa. Misalnya bagaimana kami harus mempertahankan anak kami tidak ikut ikutan bekerja bersama teman temanya dan mempunyai penghasilan sendiri ketika dia remaja, karena tempat dia akan bekerja itu ada produk haram yang ikut dijual.

Bagaimana anak kedua kami memutuskan untuk menyelesaikan S2 nya dengan membawa serta bayinya semata mata untuk memenuhi impian ayahnya sejak dia SMP.

Kemudian berbagai situasi kami hadapi ketika si bungsu pindah jurusan dari psikologi kejurusan Islamic Reveal Knowledge yang mengharuskan dia belajar bahasa Arab saja selama dua tahun. Cukuplah yang kami tanggungkan bersama dan berusaha: Tendang ke gelanggang walau seorang!.

Hal yang sama terjadi ketika bisnis parenting ini pertama digelindingkan di negeri ini. Saya selalu mengatakan pada sahabat sahabat saya, angkatan pertama di Kita dan Buah Hati untuk siap tegar dan berani sendiri, selama yang kita lakukan adalah benar sebab semuanya yang kita lakukan adalah: untuk dan karenaNya.

Masha Allah tabarakallah teman teman ini melampauinya dengan warna warni mereka sendiri sendiri dan sebagian kini sudah bercucu. Sebagian lagi sedang siap siap akan mengawinkan putra dan putrinya..

Kini yang mengharukan hati adalah ibu dan ayah ayah pejuang seperti Anda, yang memulai menghadapi apa yang telah kami lampaui tapi kini dengan tantangan yang berjuta kali lebih beratdari kami. Persoalan dasarnya sama, kalian harus menghadapi tantangan yang sama dengan apa yang kami dulu lalui: dari lingkungan paling dekat dengan diri sendiri.

Seorang ibu muda menghampiri saya kemarin seusai seminar di Cikarang dan memeluk saya dari samping. Dia berbisik ketelinga saya: ”Ibu..akhirnya saya berhasil meyakinkan suami saya bahwa anak perempuan kami harus memang tidur terpisah, karena mereka sudah menjelang remaja.”.

“Mulanya dia menentang saya panjang lebar bu, kemudian saya dengan sabar menjelaskan antara lain, bahwa mereka tidak bisa tidur di bawah satu selimut” lanjutnya dengan tatapan mata diiringi senyum lembut kemenangan.” Akhirnya suami saya setuju bu!”.. Kami berpelukan.

Saya tahu, untuk orang lain mungkin cerita ini adalah hal yang sangat sepele, tapi saya tahu berapa panjang jalan perjuangannya hanya utuk memenangkan satu hal saja dalam pengasuhan yang benar, baik dan menyenangkan ini.

Begitu jugalah hal yang sama terjadi dengan ibu ibu muda yang bersusah payah jadi panitia kegiatan itu, dan ber bagai kegiatan ditempat dan kota yang lain. Biasanya kami mengobrol tak habis dan tak putus sebelum ataupun sesudah kegiatan..

Bersemangat dan kadang sangat mengharukan!.

Saya yakin, begitu juga anda..

Perjalanan masih sangat panjang, medan juang semakin berat, jalan mendaki dan tantangan luar biasa dahsyatnya..
Umumnya kita sering sekali merasa atau kenyataannya :”sendirian”.

Tetap semangat nak, teruslah berjuang, luruskan niat : Semua hanya Untuk dan KarenaNYA, sebab kita lah yang dipercaya untuk dititipkan amanahNya!. Bayangkan terus keberhasilan seperti apa yang kalian inginkan menanti di ujung perjuangan ini, teguhlah dalam usaha dan balut dengan doa.. Insha Allah akan sampai dan berhasil.

“Tendang ke gelanggang nak, walau kau seorang!”

Peluk erat
Bekasi, 5 Maret 2017
Elly Risman

(fauziya/muslimahzone.com)

No Responses

Leave a Reply

Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Pesta Seks Bukan Nikmat Terbesar di Surga
Secular Radicalism, The Real Blasphemy
Biasakanlah Anak Minta Izin Ketika Masuk Kamar Orangtua
Meraih Sifat Qana’ah
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Hati-hati Merusak Kebahagiaan Orang Lain Tanpa Sadar
Berhenti Menghujat Saudara Sendiri di Sosial Media
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Nasehat Tere Liye Seputar Jodoh
Tepuk Anak Sholeh dan Benih Radikalisme
Kerap Terlupakan Orangtua Mendidik Adab Anak
Mengapa Ayah Lebih Sabar daripada Ibu
Belajar Matematika Untuk Anak Usia Dini, Apa Dulu yang Diajarkan?
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Jika Telah Caesar 3x, Apakah Boleh Steril/Tubektomi?
Sharing : Melahirkan Hanya 3 Kali Mengejan
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk