Suara Hati untuk Bu Elly Risman

Muslimahzone.com – Miris melihat generasi muda saat ini. Banyak dari mereka yang sudah tidak memiliki rasa hormat kepada orang yang lebih tua. Mereka tidak segan-segan berkata kasar dan bahkan membully di media sosial.

Salah satu kasus yaitu yang terjadi pada Bunda Elly Risman. Ini menggambarkan bahwa kerusakan moral pada generasi muda di Indonesia memang sudah di luar batas.

Para netizen pun banyak mengungkapkan keprihatinannya. Salah satu bentuk keprihatinan tersebut di antaranya tulisan dari seorang ibu bernama Cahya Naurizza, yang diunggah dalam akun facebooknya.

***

Saya merasa sangat sedih dengan apa yang menimpa Bu Elly.

Menurut saya, beliau tak sepenuhnya salah.

Hanya standar saja yang berbeda. Apalagi hal yang beliau komentari terkait erat dekat dengan salah satu pemicu kerusakan moral generasi. Ya soal pornoaksi dan pornografi.

Bagi orang normal dan masih menjunjung tinggi adat ketimuran, pakaian dan gaya GB itu jelas mempertontonkan pornografi dan pornoaksi.

Apalagi jika kita  cek berita, saat manggung ada personel yang memakai rok saking pendeknya sampai celdamnya kelihatan.

Kostum yang dipakai saat aksi panggung/video clip  adalah pakaian ketat atau  rok super pendek, baju  you can see, dan juga memperlihatkan pusar. *saya sudah cek beberapa di youtube

Seksi sekali bukan?

Itu untuk ukuran orang normal dan masih menjunjung budaya timur, iya. Apalagi jika menggunakan standar muslim. Lebih jelas lagi.

Kita tahu Bu Elly adalah seorang muslimah plus orang yang  separuh hidupnya didedikasikan untuk berjuang di jalur parenting.

Beliau menangani banyak korban kecanduan pornografi. Mendengar langsung curhatan korban atau ortu korban. Melihat dan mendengar langsung cerita atau foto-foto kasus pornografi.

*sudah banyak beredar contoh-contoh kasus pornografi sampai seks bebas di kalangan remaja yang dipaparkan Bu Elly dalam seminarnya. Mengerikan saat anak SMP hanya memerlukan waktu beberapa menit saja untuk melakukan penetrasi, itupun di tangga (sekolah?), karena foreplaynya sudah melalui gadget. Dll… Dll…

Beliau merasakan langsung.

Maka, sangat wajar ketika mendengar soal SNSD girlband seksi itu akan diundang ke Indonesia beliau sangat gusar.

Soal perbedaan penafsiran ‘simbol seks’ bagi orang normal tentu dapat memahami apa yang dimaksud oleh Bu Elly apalagi dengan latar belakang beliau. Walau bagi masyarakat yang sudah terbiasa terpapar pemandangan demikian dianggap terlalu berlebihan.

Soal pemisalan ‘pelacur’ bukankah memang begitu jamaknya pakaian para pelacur? Sengaja mengumbar aurat untuk memancing kumbang datang?

Memang mereka dari luar negeri, dari negara bebas yang mungkin berpakaian seperti itu adalah biasa, mereka tak bisa disalahkan toh? Di Indonesia juga banyak artis yang manggung dengan kostum dan goyangan hot.

Tapi, hei, tunggu dulu, bukankan mereka akan diundang ke negeri ini? Secara resmi, oleh negara pula. Lepas dari dalih bahwa kedatangan mereka bukan pada moment kemerdekaan, tapi untuk Asian Games, tapi jelas, untuk apa negara mengundang girlband macam itu?

Belum cukupkah kerusakan moral remaja yang terjadi di negeri ini hingga harus ditambah dengan sajian mubadzir dan pornoaksi dari girlband yang difasilitasi negara? Apa manfaat yang bisa diambil?

Dan… Lihatlah reaksi dari para fans girlband tersebut  dan para netizen atas cuitan Bu Elly, sangat jauh dari adab sopan santun pada orang tua, seorang tokoh pula, bukan tokoh sembarangan tapi seseorang yang sangat tulus, dan besar cinta dan kepeduliannya dalam membawa misi penyelamatan anak-anak Indonesia dari kesalahan pengasuhan dan juga bahaya pornografi. Orang yang memperjuangkan mereka.

Andai mereka tahu getar suara beliau, isak yang tertahan hingga air mata yang mengalir serta seraknya suara beliau saat memaparkan parahnya kondisi  remaja kita. Andai mereka tahu perjuangan seorang nenek yang pantang menyerah berjuang demi generasi masa depan. Andai mereka tahu…

Tapi, lihatlah, terpampang di hadapan kita jiwa-jiwa yang sakit. Akibat dari rusaknya akhlak, rusaknya otak, rusaknya pergaulan hingga kerusakan itu menjelma nyata lewat lisan-lisan (tangan-tangan yang menulis) menghujat, mencaci maki dan menghina dengan kata-kata yang begitu kurang ajar.

Allah…

Kami saja, para orang tua yang hanya sibuk memikirkan anak sendiri begitu pedih membacanya, apalagi Bu Elly yang telah sekian lama menganggap anak-anak Indonesia adalah anak dan cucunya. Tak terbayangkan betapa hancur dan sedihnya beliau. Terbayang betapa masih panjangnya perjuangan, betapa semakin beratnya beban. 

Apalagi hingga kemudian muncul petisi menuntut beliau meminta maaf.

Allah…

Lihatlah betapa kebatilan begitu terorganisir. Lihatlah jumlah orang yang menandatangani petisi itu. Pertanda apa ini?  Pertanda jungkir baliknya logika. Pertanda akhir zaman dimana yang buruk dipandang baik dan sebaliknya. Pertanda bangsa muslim terbesar tapi jauh dari nilai-nilai islam. 

Juga begitu nyatanya ghadzwul fikri, perang pemikiran. Dan sosmed adalah medan perangnya.

Lalu, apa yang dilakukan Ibunda kita tercinta?

Beliau dengan lapang dada dan berani menyatakan permintaan maaf. Untuk sebuah kata yang menurut saya sebenarnya tak sepenuhnya salah. Lihatlah pemilik jiwa satria ini. Betapa mulia dirinya. Bahkan dalam kondisi terhina, beliau memberikan sebuah keteladanan. Laksana mutiara yang kilaunya tak tertutup oleh pekatnya lumpur. Maa syaa Allah…

Padahal beliau tak merugikan siapa-siapa. Beliau hanya mengungkapkan perasaan dan pikiran yang jelas sebenarnya didukung adab kesopanan budaya timur dan syariat. Ah, sungguh beliau adalah mutiara.

Jika mau dibandingkan, betapa banyak orang (tokoh) di negeri ini yang telah jelas melakukan kedzaliman, jangankan meminta maaf, merasa salah pun tidak.

Maka, betapa semakin engkau berkilau, Ibunda…

Lalu, apa kabar para pembullynya? Apakah mereka berhenti? Ternyata tidak.  Bahkan ada portal berita yang seringkali menyebar hoax masih membully beliau dengan menyatakan permintaan maaf beliau tidak tulus.

Inilah cermin generasi yang sakit.

Generasi yang sakit dan tinggal di negara yang sakit dengan pemerintahan yang juga sedang sakit.

Saya justru curiga, melihat sepak terjang rezim pemerintah yang mendukung bahkan memfasilitasi segala upaya pengrusakan bangsa, mulai dari penistaan agama, pelanggaran hukum, premanisme, pembubaran ormas, kriminalisasi ulama sampai pencemaran nama baik tokoh dan instansi. Tapi pada saat yang sama melindungi penjahat, membela LGBT, membiarkan organisasi terlarang unjuk gigi dalam simbol, bangga mengundang remaja plagiat daripada yang berprestasi nyata,  dll.

Justru bisa jadi kasus ini digunakan pihak tertentu menjadi salah satu jalan untuk menggebuk para pejuang dalam ranah parenting. Setelah sebelumnya menggebuk pejuang dalam ranah agama dan hukum serta IT. Bukankah banyak akun tak jelas yang membully beliau? Yakinkah semuanya adalah remaja?  Atau sebagian besarnya adalah buzzer bayaran?

Saya bahkan merasa sesak saat tahu bahwa banyak juga akun ibu-ibu yang membully beliau.

Allah… Speechless

Balik lagi ke asal polemik.

Bukankah mengundang girlband adalah salah satu contoh betapa negara merasa  tak peduli pada generasi muda? Bukankah lebih baik menampilkan budaya sendiri yang begitu kaya agar generasi muda bisa mengenalnya dan mewarisinya?

Atau…

Apakah memang negara sedang membentuk generasi hedonis?

Sungguh banyak keanehan memang.

Istana begitu peduli sampai mengundang remaja plagiat tapi mengabaikan remaja berprestasi nyata.

Pun kita saksikan Menteri agama kita justru menghadiri award LGBT dan mensuportnya lewat pernyataannya.

Dan Bu Elly, adalah salah satu pakar yang concern berjuang memerangi pornografi dan LGBT. Apakah sikon ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu? Entahlah, wallahu’alam.

Tapi yang jelas, generasi muda Indonesia sedang benar-benar dalam keadaan kritis. Dikepung pornografi/pornoaksi, narkoba, trend liar dan seks bebas, juga disuguhi tontonan, tokoh yang dipoles dan idola-idola yang jauh dari layak untuk dicontoh.

Dan yang pasti, Indonesia membutuhkan beliau, Bu Elly Risman, untuk tetap tegak berjuang demi menyelamatkan generasi muda dan juga orang tua yang tersesat.

Bu Elly, kami mencintaimu, kami membutuhkanmu.

Terima kasih untuk segala perjuangan Ibu selama ini. Semoga Allah senantiasa melindungi dan memberkahi Ibu dan keluarga serta orang-orang yang berjuang bersama Ibu.

Teruslah berjuang Bu, kami akan terus mendukungmu.

Salam sepenuh cinta,

Cahya Naurizza

-Seorang Ibu yang menyuarakan nurani.-

#KamiBersamaBuEllyRisman

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk