Shalat dan Puasa Padahal Belum Yakin Dirinya Telah Suci dari Haid

MuslimahZone.com – Ramadhan merupakan waktu dimana kita memperbanyak pahala diantaranya dengan melakukan banyak ibadah mahdhoh. Namun, bagi wanita ada beberapa ibadah yang tidak bisa dilakukan disebabkan siklus bulanannya yaitu haid, misalnya shalat dan puasa. Karenanya, sebagian wanita terkadang terburu-buru mandi wajib ketika menganggap sudah tidak keluar darah haid lagi padahal dia belum benar-benar yakin.

Dalam sebuah kasus, seorang wanita melaksanakan mandi besar pada malam hari di waktu sahur, karena mengetahui bahwa siklus haidnya akan berakhir hari ini, dia juga beribadah sahur, mendirikan shalat dan juga berpuasa. Dia tidak mendapati sesuatu yang keluar selama masa dari waktu fajar sampai waktu maghrib tiba. Namun, ketika hendak mendirikan shalat maghrib, dia mendapati siklus haidnya belum selesai, apakah puasa dan shalatnya sah ?

Berikut penjelasannya seperti ditulis islamqa.com:

Tidak diperbolehkan bagi perempuan yang sedang haid, bersegera bersuci dari haidnya untuk mendirikan shalat dan berpuasa sebelum ia meyakini bahwa masa haidnya benar-benar berakhir.

Seorang perempuan akan mengetahui masa haidnya telah berakhir, dengan keluarnya cairan bening yang sudah tidak asing baginya. Dan sebagian wanita mengetahui bahwa dirinya telah suci dari haid dengan mengeringnya darah.

Maka wajib bagi seorang perempuan agar tidak bersuci dari haid sampai ia meyakini kesuciannya.

Imam Bukhori –rahimahullah- berkata :

“Bab masa awal dan berakhirnya haid, beberapa wanita mendatangi ‘Aisyah dengan membawa wadah yang di dalamnya ada semacam kapas dengan bercak kekuningan. Maka ‘Aisyah berkata: “Jangan tergesa-gesa sampai anda mendapati cairan bening pada kapas tersebut”. Maksud ‘Aisyah adalah masa suci dari haidnya. Dan dikabarkan kepada Binti Zaid bin Tsabit bahwa beberapa wanita (pada masa itu) mendekatkan lampu pada malam hari untuk memastikan masa suci, maka dia berkata: “Tidaklah beberapa wanita itu melakukan hal itu, dan menganggap tabu akan hal itu”.

Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata:

“Para ulama sepakat bahwa datangnya masa haid ditandai dengan awal mula keluarnya darah pada masa-masa haid, akan tetapi mereka berbeda pendapat pada masa berakhirnya haid. Sebagian mengatakan, masa berakhirnya haid ditandai dengan mengeringnya darah. Dan sebagian lagi mengatakan, hal itu ditandai dengan keluarnya cairan bening dari tempat keluarnya darah. Dan Imam Bukhori lebih menguatkan pendapat kedua ini”.

Oleh karenanya, cairan bening menjadi tanda berakhirnya masa haid dan awal masa suci. Yang menguatkan pendapat kedua ini menyanggah pendapat pertama, bahwa bersihnya kapas dari darah dan cairan tidak menunjukkan berakhirnya masa haid. Berbeda dengan cairan bening yang keluar dari rahim ketika masa haid berakhir. Imam Malik berkata: “Saya pernah bertanya kepada para wanita, bahwa masa berakhirnya haid itu sudah mereka ketahui bersama dengan mudah”. (Fathul Baari: 1/420)

Syekh Ibnu Utsaimin –rahimahullah- pernah ditanya, apabila seorang perempuan yang haid telah suci sebelum subuh, lalu mengakhirkan mandi besar, bagaimanakah hukumnya?

Maka beliau menjawab:

“Puasanya sah apabila ia yakin bahwa dirinya telah suci; karena sebagian perempuan mengira dirinya suci padahal belum suci. Oleh karenanya, beberapa wanita mendatangi ‘Aisyah dengan membawa kapas dan memperlihatkan kepadanya, lalu beliau berkata: “jangan tergesa-gesa sampai anda menemukan cairan bening”.

Jadi, seorang perempuan hendaknya menahan diri sampai merasa yakin bahwa dirinya telah suci. Apabila telah yakin, baru berniat untuk puasa meskipun belum sempat mandi besar kecuali setelah terbit fajar. Meskipun demikian seorang perempuan hendaknya juga memperhatikan waktu shalat, jadi harus segera mandi agar bisa mendirikan shalat subuh pada waktunya. (Majmu’ Fatawa Syekh Utsaimin: 17/ soal nomor: 53)

Dalam kasus diatas, seseorang telah bersuci / mandi besar pada saat ia belum yakin bahwa dirinya telah suci, sedang ia mengetahui masa akhir haidnya belakangan setelah terbenamnya matahari sebagaimana pernyataannya.

Maka dari itu, apa yang dilakukannya tidak benar, dan puasanya pada hari itu tidak sah, dan wajib baginya untuk menggantinya pada hari lain.

Semoga Allah memberikan taufiq-Nya kepada kita, agar diberikan ilmu yang bermanfaat dan amal sholih. Wallahu A’lam.

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
Pesta Seks Bukan Nikmat Terbesar di Surga
Secular Radicalism, The Real Blasphemy
Biasakanlah Anak Minta Izin Ketika Masuk Kamar Orangtua
Meraih Sifat Qana’ah
Curahan Hati Petani
Babak Final Perjuangan Islam
Akhir Hidup Para Tiran
Jangan Sembarangan Menuduh Muslimah Sebagai Pelacur !
Nasehat Tere Liye Seputar Jodoh
Ketika Istri Marah
Mengukur Kembali Rasa Cinta
Agar Bahagia, Sesuaikan Harapan Pernikahan Anda
Mengapa Ayah Lebih Sabar daripada Ibu
Belajar Matematika Untuk Anak Usia Dini, Apa Dulu yang Diajarkan?
Pameran Kehebatan Anak
Apakah Pembicara Parenting Tak pernah Bermasalah dengan Anaknya?
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Mengenal Ulama Hadits Syu’bah bin Al-Hajjaj
Abdurrahman bin Auf ‘Manusia Bertangan Emas’
Ketika Bayi Menendang Perut Ibu
Menikmati Pengalaman Sebagai Ibu Menyusui
Dibalik Ketenaran Blewah di Bulan Ramadhan
Tetap Sehat Berpuasa Ketika Hamil
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Tips Merebus Telur yang Baik
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk