Sekolah Itu Bernama Anak

Muslimahzone.com – “Sikap yang diharapkan oleh seorang anak dari orang dewasa adalah sungguhnya sikap yang diinginkan oleh orang dewasa dari orang dewasa lainnya. Kita semua ternyata adalah anak-anak jika tanpa kesediaan untuk memahami, memaklumi, kemawasan hati dan pikiran terhadap perbaikan, dan kemandirian atas integritas diri dan pilihan hidup.” (anonim)
 
Allah memberikan manusia banyak sekali pelajaran dari apa-apa yang Dia ciptakan, tak terkecuali pada anak-anak. 
 
Siapakah mereka? Mereka adalah makhluk lemah yang berangsur-angsur tumbuh dan  menguat dengan membawa segudang potensi hidup, fisik, akal, naluri, termasuk pula potensi fujur dan takwa, baik dan buruk yang juga terus berkembang. Dan mereka menjajal tiap-tiap potensinya itu tanpa dikenakan hisab atasnya. Semua coba-coba itu adalah proses belajar  dan masa persiapan yang tanpa raport. Sampai menstruasi dan mimpi datang menyudahi masa kanak-kanak dan mengawali masa-masa taklif (terbebani hukum) yang bukan lagi main-main. 
 
Proses mereka tak ubahnya seperti masa orientasi siswa baru atau masa ospek bagi calon mahasiswa. Namun masa orientasi ini tidak ditempuh dalam jangka waktu satu dua pekan, tetapi memakan waktu bertahun-tahun. Minimal 9 tahun dan maksimal 15 tahun, begitu sebagian ulama berpendapat.  Dan orang tua atau wali anak lah yang menjadi panitia ‘ospek’nya. Dengan lingkungan semesta sebagai tempat percobaannya. Kemudian panitia lah manusia-manusia dewasa yang akan diberikan raport penyelenggaraan masa ‘orientasi’ ini. Orang tua lah yang kelak dihisab atas jalannya proses ini. Bukan mereka, anak-anak para  peserta ‘ospek’.
 
Dalam perjalanannya, otot-otot juga tulang-tulang mereka yang awalnya bahkan tak mampu untuk sekedar menegakkan kepala, berangsur-angsur menguat, bahkan dapat jauh lebih kuat dari panitia ‘ospek’nya. Lisan mereka yang dulu bahkan tak mampu mengucapkan a-i-u-e-o, kini fasih berorasi. Bahkan dalam bahasa yang beragam. Akal mereka yang dulu sering kita asah dengan logika-logika, “kalau begini bagaimana Dek, kalau begitu bagaimana Dek”, kini mampu mengkritik kesalahan-kesalahan logika kita yang kadang sudah kadung mapan. Dan potensi-potensi lainnya terus berkembang hari demi hari, kemampuan mereka melakukan refleksi, merenung, membuat kesimpulan-kesimpulan, berinteraksi dengan kawan-kawannya, bersosialisasi dengan lingkungannya, berkarya ini dan itu, dan lain-lain masih sangat banyak.
 
Dan sekali lagi mereka tak dihisab atas prosesnya ini. Proses trial and error, salah dan benar mereka. Dan sekali lagi kita lah panitia-panitia masa orientasi yang akan ditanya; diorientasikan kemanakah potensi-potensi hidup anak-anak kita yang berkembang terus itu? Dijaga dalam kejernihan fitrahnya atau kita keruhkan dengan tendensi nafsu yang menghinakan atau bahkan malah tidak kita pedulikan hingga mereka kemrusung dalam jurang kesalahan. Na’udzubillahi mindzalik. Wallahulmusta’an. Laa hawla wa laa quwwata illa billah.  
 
Ya, sebab tak jauh-jauh dari kehidupan kita kini betapa banyak anak yang ketika baru saja menginjak akil baligh kemudian mencorengkan arang pada muka orang tuanya. Ia bisa saja meninju sang panitia ‘ospek’ -orang tua- karena ia menganggap orientasi yang dilakukan kemarin sangat menindas. Ada dendam tersimpan yang kemudian menemui jalannya untuk tumpah. Mungkin dalam batinnya, dulu aku lemah, kamu kuat, aku tak mampu berkutik di hadapanmu, tak mampu menegosiasikan ancaman-ancamanmu yang tendensius itu, kini aku kuat dan kau melemah. Aku mampu berontak hari ini. Masya Allah, naudzubillah min dzalik. Padahal masa orientasi baru saja usai. Ketika seharusnya sang panitia memberikan selamat kepada peserta ‘ospek’ atas suksesnya masa orientasi dan memberikan starting tausiyah kepada para peserta itu -yang kini tak pantas lagi digelari anak-anak- untuk menjalani hari-hari yang sebenarnya. 
 
Allah Zat Yang Maha Rahman dan Maha Rahim, tak sudah-sudahnya melimpahkan kasih sayangnya pada kita. Ia menjadikan perjalanan masa kanak-kanak anak-anak kita sebagai perjalanan kita pula, perjalanan pengujian amal-amal kita, siapakah yang paling baik amalnya. Anak-anak itu teori sekaligus praktikum mata pelajaran biologi, psikologi, sosiologi, dan idrak sillah billah, bahkan akuntansi dan lain-lain, kemudian kelak kita menerima raport atas proses belajar kita itu.  
 
Kepolosan celoteh mereka seharusnya menjadi cermin tempat kita berkaca sejujur apa lisan kita bergerak ketika membersama atau ketika tidak bersama mereka. Teriakan lantang dan gerak mereka yang tanpa henti seharusnya menjadi pematri semangat bagi jiwa dan badan kita untuk  senantiasa beramal baik. Tatih-tatih mereka ketiga belajar berjalan kemudian terjatuh dan bangkit kembali seharusnya menjadi pelajaran bagi kita agar selalu mau memperbaiki apa-apa yang salah kemarin. Terlalu banyak pelajaran jika kita mau mengambil pelajaran.
 
Kadang, kekeruhan jiwa kita ketika menghadapi mereka karena ketidaksadaran kita bahwa mereka adalah makhluk-makhluk yang terus tumbuh, tiap waktu mereka berubah. Mungkin karena kita teramat lelah dengan amanah-amanah yang lain, hingga kita lalai dari perubahan itu. Dan gagal memahami perubahan itu. Hingga salah ketika memberikan orientasi. 
 
Ketika mereka melakukan kesalahan. Kita kerap lupa bahwa mereka dikarunia fujur dan takwa, namun masih tanpa hisab. Jadi, sangat wajar jika mereka salah. Sangat-sangat wajar. Dan kita lah yang harus selalu siap mengorbankan daya upaya untuk meluruskan kesalahan itu, karena kita yang dewasa, kita yang harus lebih dulu mengerti dan memahami, karena kitalah panitia ‘ospek’nya yang bertanggung jawab dan kelak akan dihisab. Berat, ya terkadang  memang berat. Tapi Allah mampu membuat apapun yang terlihat berat. 
 
Ketika mereka membuat prestasi. Kita kadang lalai memberikan apresiasi. Malah kita kecilkan prestasinya karena menurut kita dia mampu mencapai standar yang lebih tinggi lagi. Masya Allah. Ini pelajaran bersyukur dan penanaman self esteem (penghargaan terhadap diri sendiri) bagi mereka dan bagi kita pula. Percaya diri mereka bisa saja runtuh seketika itu dan kita menjadi pihak yang paling bertanggung jawab, namun tidak kita sadari. Na’udzubillahi mindzalik.
 
Padahal, jika kita merenung, sikap terbaik kita terhadap anak-anak yang penuh pemakluman, kesediaan memahami, penerimaan yang tulus, lembut namun tegas, tegas tapi tidak mencederai hati, hukuman yang menyadarkan dan membangun, apresiasi yang wajar dengan penuh rasa syukur kepada Allah, dukungan terhadap perbaikan diri adalah sikap-sikap yang kita inginkan dari orang lain terhadap diri kita. Bukankah begitu?
 
Buktinya, kita yang bukan lagi anak-anak, kerap kali cengeng, sehingga merengek-rengek, mengapa dia begini mereka begitu, mengapa orang lain begitu pada saya, kok tega betul dia pada saya, kok bisa ya mereka seperti itu, ya Allah mengapa begini, ya Allah mengapa begitu. Pertanyaan-pertanyaan yang sebetulnya dapat kita dalami ketika ia masih menari-nari di relung pikiran kita. Sebelum ia terlontar menjadi rengekan yang membuat kita tak ubahnya seperti anak-anak. Kita bisa tetap insyaf menggunakan semua potensi diri kita untuk brainstorming dan heartstorming. Sehingga muncul kemampuan untuk memahami apapun yang ada di hadapan kita, memakluminya, dan mengambil sikap menuju arah perbaikan dengan tanpa mempedulikan kata-kata orang yang tidak peduli dengan keberkahan jalan hidup kita. Wallahulmusta’an. Wallahu’alam.
 
Oleh: Ummu Mesia
 
(zafaran/muslimahzone.com)
Tags: ,

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Menikah Muda Why Not ?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Anak-anak dan Membaca
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Wanita Muslimah yang Tangguh
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Tips Kecantikan ala Aisyah Istri Nabi
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk