Sekolah dan Kebangkitan

MuslimahZone.com – Banyaknya sekolah atau institusi pendidikan, serta bertambahnya sarjana dan lulusan pakar di dalam semua bidang, apakah hal itu merupakan tanda kebangkitan, atau hanya jalan menuju kebangkitan? Definisi yang terkenal dari sekolah adalah lembaga yang menghendaki kehadiran penuh kelompok-kelompok umur tertentu dalam ruang-ruang kelas yang dipimpin oleh guru untuk mempelajari kurikulum-kurikulum yang bertingkat. Sekolah saat ini dianggap sebagai lembaga yang melakukan transfer ilmu di waktu dan tempat yang telah ditentukan dengan kurikulum yang baku.

Faktanya menunjukkan bahwa dalam suatu negara banyak terdapat sekolah dan lulusan pakar di bidang tertentu tidak menjamin bangkitnya negara tersebut. Bahkan sekolah dan lulusan pakar yang berasal dari sekolah itu cenderung tidak berguna dan tidak mampu menyelesaikan masalah dan membawa kebangkitan terhadap negara beserta umat dengan keilmuan yang didapatkan di sekolah. Sebut saja India, jumlah lulusan pakar di sana sangat banyak, namun tingkat kemakmurannya belum ada apa-apanya, justru terdapat di sanalah orang-orang termiskin dan termundur di dunia. Yang membuat miris adalah para lulusan pakar tersebut hanya bisa berwacana dengan teori-teori keilmuan mereka, yang tak menghasilkan apa-apa (tidak bekerja menyelesaikan masalah di bidangnya masing-masing). Hal ini juga yang menyebabkan mereka terpaksa mencari alternatif pekerjaan di tempat lain.

Sekolah dan lulusan pakarnya tidak bisa dijadikan standar kebangkitan. Mengapa? Jawabnya karena di dalam sekolah hanya terjadi ta’lim (proses transfer ilmu saja), di mana orang menuntut ilmu hanya untuk pengetahuan dan sifatnya untuk akademis semata. Sekolah terikat dengan kurikulum yang tetap (statis), jadi memang tidak bisa menyesuaikannya dengan kenyataan yang dihadapi di lapang, wajar jika teori-teori keilmuan mereka mengendap dan tidak ada fungsi dan manfaatnya bagi kehidupan.

Fakta lain dari sekolah adalah pengaruh sekolah hanya tampak secara individual. Ia mampu mencerdaskan seorang individu dengan ilmu-ilmu, namun parsial, mampu mempengaruhi perasaan individu, tetapi tidak mempengaruhi pemikirannya. Oleh karena itu ia bersifat teoritis, tidak aplikatif.

Dengan demikian, apakah sekolah yang tidak mampu merangsang pemikiran seseorang dapat membangkitkan? Tentu tidak. Sedangkan, kebangkitan yang diharapkan hadir dari kalangan terpelajar atau cendekiawan tersebut justru tak mampu membangkitkan umat, menyelesaikan masalah-masalah umat. Berarti ada yang salah mengenai konsep kebangkitan. Oleh karena itu, perlu didudukkan kembali makna kebangkitan.

Merujuk Kamus Dewan (Edisi Ketiga). (2002:101). Kebangkitan dapat diartikan dengan bangun, kesadaran, serta kegiatan yang membawa kemajuan. Ini bermakna kebangkitan adalah suatu proses pembangunan dan kesadaran tentang perkara yang perlu direformasikan yang mana melibatkan kegiatan-kegiatan yang membawa kemajuan kepada masyarakat. Ini adalah teori umumnya. Makna sebenarnya dari kebangkitan lebih dalam daripada itu.

Kebangkitan dalam bahasa arab disebut an-nahdhah, yaitu dikaitkan dengan kemajuan di berbagai bidang keilmuan, peningkatan produktivitas, pesatnya perkembangan industri, kecanggihan teknologi, dan banyaknya penciptaan alat-alat yang semakin memudahkan dan memakmurkan kehidupan.

Kebangkitan dapat dikatakan sebagai sebuah kemajuan atau keadaan yang meningkat ke arah/peringkat yang lebih baik. Untuk mencapai tahap itu, bagi orang-orang yang ingin bangkit, maka mau tidak mau haruslah memecahkan permasalahan pokok kehidupan dengan pemecahan yang benar, yakni yang sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal, dan menentramkan hati hingga tidak ada keraguan di dalamnya. Permasalahan pokok tersebut tertuang dalam tiga pertanyaan besar tentang kehidupan, yaitu, darimanakah manusia berasal, untuk apakah manusia hidup di dunia ini, dan akan kemanakah manusia setelah kehidupannya berakhir di dunia. Pertanyaan ini harus dipecahkan dengan benar. Karena ialah yang akan menjadi akidah seseorang, landasan berfikir seseorang, dan kepemimpinan berfikir seseorang, termasuk dalam menyelesaikan masalah-masalah cabang lainnya.

Dengan demikian, negara dan umat semestinya menyadari arti kebangkitan ini. Sehingga tidak serta-merta menstandarkan kebangkitan dari sekolah dan lulusan-lulusan pakar dari sekolah. Karena, sekolah bukanlah proses pembinaan yang di dalamnya terdapat proses berfikir, sehingga tidak dapat menggerakkan pemikiran seseorang. Sedangkan, orang yang dikatakan bangkit adalah yang mampu mengubah jalan pemikirannya/pemahamannya tentang kehidupan. Dan hal itu tidak diajarkan/diterapkan di sekolah. Maka, kembali kepada individu masing-masing, tidaklah mengandalkan sekolah untuk menuju kepada kebangkitan. Tugas ini, dalam mengajak seseorang menggunakan akalnya/berfikir, hakikatnya adalah tugas sebuah jama’ah, bukan sekolah.

Oleh : Crafty Rini Putri (Ketua Komunitas Muslimah Kreatif)

(detikislam/muslimahzone.com)            

Leave a Reply

Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
Pesta Seks Bukan Nikmat Terbesar di Surga
Secular Radicalism, The Real Blasphemy
Biasakanlah Anak Minta Izin Ketika Masuk Kamar Orangtua
Meraih Sifat Qana’ah
Ustadz Abdul Somad : Mengapa Allah Menyisakan Kaum Yahudi?
Curahan Hati Petani
Babak Final Perjuangan Islam
Akhir Hidup Para Tiran
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Nasehat Tere Liye Seputar Jodoh
Ketika Istri Marah
Mengukur Kembali Rasa Cinta
Mengapa Ayah Lebih Sabar daripada Ibu
Belajar Matematika Untuk Anak Usia Dini, Apa Dulu yang Diajarkan?
Pameran Kehebatan Anak
Apakah Pembicara Parenting Tak pernah Bermasalah dengan Anaknya?
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Mengenal Ulama Hadits Syu’bah bin Al-Hajjaj
Abdurrahman bin Auf ‘Manusia Bertangan Emas’
Ketika Bayi Menendang Perut Ibu
Menikmati Pengalaman Sebagai Ibu Menyusui
Dibalik Ketenaran Blewah di Bulan Ramadhan
Tetap Sehat Berpuasa Ketika Hamil
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Tips Merebus Telur yang Baik
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk