Saatnya Menolak Kesetaraan Gender

MuslimahZone.com – Patricia Arquette menyerukan kesetaraan gender (persamaan hak-hak perempuan) pada saat berpidato penerimaan penghargaaan Academy Award untuk aktris pembantu terbaik untuk perannya dalam “Boyhood”, Minggu (22/2). Pidatonya mendapat tepukan dan seruan bergemuruh di seluruh gedung Dolby Theater. Pidato itu menambah kritikan terhadap industri film yang memiliki jurang perbedaan tinggi antara honor aktor dan aktris.

Patricia Arquette adalah satu dari sekian perempuan yang berjuang atas nama hak-hak perempuan. Saat ini perjuangan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan begitu gencar dilakukan oleh para pejuang kesetaraan gender (Kaum Feminis).

Banyak perempuan yang saat ini lebih memilih sebagai wanita karir ketimbang menjadi wanita konvensional yang sinonim dengan sebutan ‘ummun wa rabbatul bait’ (ibu dan manager rumah tangga). Kehebatan perempuan dalam dekade ini semakin menonjol di hampir semua bidang karir karena mereka mengejar posisi yang sama dengan laki-laki.

Inilah ideologi feminisme, yang memperjuangkan isu-isu kesetaraan gender. Akibatnya, ada banyak perempuan yang memiliki prestasi yang lebih tinggi daripada laki-laki karena tingkat pendidikan yang tinggi, posisi dan kemampuan mereka dalam mendominasi perekonomian.

Ide persamaan atau kesetaraan gender (feminisme) ini menyebabkan banyak kaum perempuan yang tersibuki dengan dunia kerjanya, dan melalaikan kewajiban pengurusan dan pengaturan rumah tangganya. Anak-anak dan suaminya tidak diurusi. Akibatnya anak-anak terlantar, melarikan diri keluar rumah mencari perhatian dengan terjun ke dunia narkoba, seks bebas, tawuran. Alhasil kehancuran keluarga tidak terelakkan. Perceraian semakin meningkat dari tahun ke tahun.

Ide feminisme atau kesetaraan gender ini adalah racun mematikan, mengancam perempuan dan generasi. Sesungguhnya ide feminisme lahir sejak abad 18 seiring dengan kemunculan kapitalisme. Perubahan sosial yang terjadi di Eropa ketika sistem kapitalisme menggantikan feodalisme itu ternyata tidak serta-merta mengubah kondisi kaum perempuan, mereka tetap tertindas dan tidak lebih dari warga negara kelas kedua. Bahkan ketika kapitalisme mampu menancapkan kukunya dan menjadikan proses industrialisasi sebagai penyangga utama eksistensinya nasib kaum perempuan semakin terpuruk.

Akan tetapi gerakannya sendiri baru muncul pada awal abad ke 20. Salah satu yang menonjol adalah Women’s Lib yang berpusat di Amerika, orientasi gerakannya bersifat sosial politik. Perjuangannya dilakukan melalui parlemen, turun ke jalan (demonstrasi), dan juga aksi pemboikotan.

Pada tahap awal isu yang diangkat adalah persamaan hak untuk memilih, karena pada saat itu kaum perempuan disamakan dengan anak-anak di bawah umur yang tidak boleh mengikuti pemilu.

Selain itu tuntutan yang mereka ajukan antara lain: (1) mengubah undang-undang perkawinan yang memuat aturan bahwa perempuan dan hartanya mutlak berada pada kekuasaan suaminya, (2) memberi jalan untuk meningkatkan pendidikan perempuan, (3) menuntut hak perempuan untuk bekerja, (4) memberikan hak penuh untuk berpolitik.

Gagasan feminisme atau kesetaraan gender ini pada akhirnya merebak ke seluruh dunia, termasuk di dunia Islam. Adalah Huda Sya’rawi (1879-1947), pendiri Gerakan Feminis pertama Mesir yang mempropagandakan “kebebasan sosial” dengan melepas kerudung (khimar) ketika turun dari kereta api di stasiun kereta api utama Kairo pada tahun 1923. Keputusan melepas kerudung tersebut tidak lain adalah bagian dari gerakan perempuan yang lebih besar dan dipengaruhi oleh seorang feminis Mesir kelahiran Perancis, Eugenie Le Brun.

Kelas politik (political class) tempat Huda Sya’rawi berasal adalah golongan yang dididik dengan nilai-nilai dan keyakinan politik Inggris. Imperialisme Inggris telah menghasilkan golongan elit perempuan berpendidikan Inggris yang menjadi agen perubahan politik. Agen-agen tersebut menentang Khilafah Islam, nilai-nilai dan keyakinannya.

Mentalitas Inggris yang nyata terhadap tradisi Islam bagi perempuan dapat disimpulkan dari kutipan Lord Cromer, Konsulat Jenderal Inggris untuk Mesir (1883-1907) ketika ia menyatakan bahwa ;
“Adalah tuntutan Islam tentang kerudung dan pemisahan para wanita yang menjadi penghalang fatal bagi pencapaian rakyat Mesir dari peningkatan pemikiran dan karakter; sesuatu yang harus menyertai dalam mengenalkan peradaban barat. Oleh karena itu, rakyat Mesir harus dibujuk atau dipaksa untuk membuang kerudung dari masyarakatnya.”

Pencapaian peradaban barat untuk masyarakat Mesir ini diperkenalkan melalui agen-agen seperti Huda Sya’rawi.

Umat muslim menyaksikan serangan yang masih terjadi terhadap aturan berpakaian Islam di abad ke-21 ini. Sebuah serangan panjang yang sesungguhnya berakar pada imperialisme kolonial Inggris dan pendudukannya terhadap negeri-negeri Muslim.

Hal ini tentu saja tak boleh diabaikan oleh kaum muslimin. Kehadiran ide yang menuntut kesetaraan tanpa batas ini telah membawa perubahan mendasar dalam tatanan kehidupan masyarakat. Ide ini mencabut fitrah perempuan dan merampas kepemimpinan laki-laki. Tak sedikit kaum muslimin dan muslimah yang ikut mengusung ide yang bersumber dari paham sekulerisme tersebut, tanpa menyadari bahaya dan kerusakannya terutama jika dilihat dari perspektif Islam, serta dampaknya bagi masa depan umat Islam.

Islam memandang bahwa Allah Swt telah menciptakan manusia dengan jenis laki-laki dan perempuan dengan memberikan seperangkat potensi yang sama pada keduanya, berupa akal yang berfungsi untuk memahami sesuatu, serta potensi hidup (naluri dan kebutuhan jasmani) dan cara pemenuhannya. Dan hal ini bukan karena adanya kesetaraan gender, tetapi karena memang demikianlah aturan Allah.

Disamping itu Islam memandang bahwa masyarakat adalah kesatuan yang utuh, tidak mungkin dipilah menjadi komunitas perempuan dan komunitas laki-laki yang satu sama lain saling berebut peran dan posisi masing-masing. Justru adanya pembagian peran dan fungsi menyebabkan mereka dapat bekerjasama untuk meraih tujuan-tujuan bersama. Toh, yang terpenting dalam Islam penilaian prestasi diukur oleh tingkat ketaatan manusia terhadap aturan yang telah ditetapkan.

Dengan demikian, keduanya memiliki peluamg yang sama untuk meraih ketinggian derajat orang-orang bertakwa di sisi Allah Swt.
Jelaslah bahwa ide-ide feminisme dan turunannya harus diwaspadai, bahkan ditolak. Masalahnya, di balik mulut manisnya terselip racun-racun ideologis yang sangat mematikan dan bertentangan dengan Islam.

Memang kita semua harus berupaya memajukan perempuan (dan laki-laki juga) dan mencerdaskan kehidupannya. Akan tetapi, haruskah kita bunuh diri dengan menenggak racun-racun pemikirannya? Bukankah realita kehidupan kapitalistik liberalistik hanya melahirkan ketidakadilan? sementara Islam menawarkan keadilan dan kebahagiaan hakiki bagi semua, maka sudah sangat jelas ke mana seharusnya perempuan melangkahkan kaki .

Oleh karena itu, muslimah harus melanjutkan perjuangan untuk menolak serangan yang telah dilancarkan selama berabad-abad terhadap nilai-nilai dan tradisi Islam tentang perempuan. Serangan yang dilancarkan oleh agen-agen seperti Huda Sya’rawi, pendukung Barat mereka juga ditopang oleh gerakan dan organisasi feminis sekuler.

Sudah saatnya kita sadar, bahwa tidak ada satu alasanpun yang membuat kaum muslim harus ikut-ikutan mengadopsi, mempropagandakan bahkan memperjuangkan ide feminisme. Karena Islam telah memiliki pandangan yang unik tentang keberadaan laki-laki dan perempuan sekaligus mengenai hubungan keduanya serta bentuk kehidupan masyarakat yang hendak dibangun di atas landasan akidah dan aturan-aturannya. Wallahu a’lam bishawwab.

Oleh: Lilis Holisah (Pendidik Generasi di HSG SD Khoiru Ummah Ma’had Al-abqary Serang – Banten)

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
Pesta Seks Bukan Nikmat Terbesar di Surga
Secular Radicalism, The Real Blasphemy
Biasakanlah Anak Minta Izin Ketika Masuk Kamar Orangtua
Meraih Sifat Qana’ah
Ustadz Abdul Somad : Mengapa Allah Menyisakan Kaum Yahudi?
Curahan Hati Petani
Babak Final Perjuangan Islam
Akhir Hidup Para Tiran
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Nasehat Tere Liye Seputar Jodoh
Ketika Istri Marah
Mengukur Kembali Rasa Cinta
Mengapa Ayah Lebih Sabar daripada Ibu
Belajar Matematika Untuk Anak Usia Dini, Apa Dulu yang Diajarkan?
Pameran Kehebatan Anak
Apakah Pembicara Parenting Tak pernah Bermasalah dengan Anaknya?
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Mengenal Ulama Hadits Syu’bah bin Al-Hajjaj
Abdurrahman bin Auf ‘Manusia Bertangan Emas’
Ketika Bayi Menendang Perut Ibu
Menikmati Pengalaman Sebagai Ibu Menyusui
Dibalik Ketenaran Blewah di Bulan Ramadhan
Tetap Sehat Berpuasa Ketika Hamil
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Tips Merebus Telur yang Baik
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk