Rasa Malu Cermin Derajat Keimanan

Muslimahzone.com – Dalam Kitab Fathul Baari, Syarah Shahih Bukhari, Imam Ibnu Hajar Al ‘Asqalaniy dalam Bab Perkara Keimanan menuturkan:
حدثنا عبدُ الله بن محمد الجعفي قال: حدثنا أبو عامر العقدي قال: حدثنا سليمان بن بلال عن عبد الله بن دينار عن أبي صالح عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: “الإيمانُ بِضْعٌ وسِتون شعبةً والحياءُ شعبة من الإيمان”.

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Al Ju’fi dia berkata, telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amir Al ‘Aqadi yang berkata, bahwa telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Abdullah bin Dinar dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: “Iman itu memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman”. (HR. Bukhari).

Bahwa sungguh perasaan malu itu adalah seuntai dari keimanan. Maka siapa saja yang ingin menguji dan melihat indikator keimanannya, hendaklah ia memperhatikan dengan saksama rasa malu. Yakni rasa pada dirinya sendiri, rasa malu di hadapan Tuhan-nya, dan rasa malu terhadap manusia lainnya.

Maka jika ia mendapati rasa malu itu ada terhadap dirinya, maka hendaklah ia memuji kepada Allah SWT, karena sesungguhnya keimanannya dalam keadaan sedang baik. Namun jika tidak, maka hendaklah ia berjanji untuk melakukan instrospeksi keimanannya kepada Allah, sang Pengatur dan Penciptanya. Derajat keimanannya sedang kurang baik.

Rasul saw pernah melewati seorang laki-laki yang sedang menasehati saudaranya tentang perkara malu, yakni ia ingin memperbaiki atas saudaranya itu (karena dirasa kurang memiliki rasa malu). Lantas Rasul saw bersabda;
(دعه، فإن الحياء من الإيمان)

“Biarkanlah (ia). Sesungguhnya malu itu bagian dari iman.” (HR. Abu Daud).

Wahai kaum muslimin…

Jika kita amati di negeri-negeri Islam sekarang ini, kita tidak pernah melihat –dan hal itu sangat disayangkan — perkara akhlak yang mulia ini, yakni adanya rasa malu, kecuali hanya sedikit dari kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah SWT.

Di mana rasa malu itu dari seorang wanita yang keluar dari rumah dengan memperlihatkan perhiasannya (auratnya) secara sempurna di hadapan laki-laki (yang bukan mahramnya)?

Di mana rasa malu itu, sementara mereka wanita-wanita tersebut mengekspresikan keinginanya di jalanan dengan memakai celana panjang tersingkap dan tidak ada yang menutupinya? Atas nama modernitas dan kekebasan berekspresi.

Di mana rasa malu itu, jika masih ada, pada pemuda-pemuda umat ini ? Mereka yang memakai pakaian yang sajikan dan dipolakan oleh Barat, yang memperlihatkan aurat dari pakaian pendek yang sering mereka pakai di pantai? Di mana pula ada rasa malu dari ucapan dan perbuatan mereka?

Di mana pula ada rasa malu dari kalangan pebisnis yang menjadikan kecurangan dan riba sebagai asas dalam jual beli dan transaksi mereka? Di mana juga ada rasa malu dari para pelaku khianat dan para komprador asing –yang terus berbuat zhalim kepada masyarakat — atas nama politik?

Di mana pula rasa malu ada dari sekelompok jama’ah yang mengatasnamakan perjuangan Islam, sementara menjerumuskan diri pada sistem kotor Demokrasi? Sungguh sudah sirna rasa malu itu di berbagai sudut kehidupan ini.

Memang benar wahai kaum muslimin. Bahwa sirnanya akhlak yang mulia ini, raibnya rasa malu dan buruknya akhlak umat ini, terjadi karena sistem Kapitalis yang telah diadopsi oleh para penguasa mereka, dan diterapkan sistem tersebut atas kaum muslimin. Yang pada akhirnya kemudian menjadikan rasa malu itu terangkat dalam kehidupan.

Setelah hukum-hukum Islam itu mulai sirna dalam kehidupan, maka saat itulah aurat mereka juga tersingkap di mana-mana.

Dan sungguh tidak akan pernah kembali terwujud rasa malu itu, yakni rasa malu sebagaimana yang diinginkan Allah SWT, kecuali mereka kembali berada dalam sistem Islam.

Karenanya, saat sistem Islam itu kembali, saat itulah rasa malu akan terwujud kembali, dan akhlak yang mulia akan kembali bersemi.

Oleh: H. Luthfi H.

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
MHTI Kembali Menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara (KIN)
Miris, Pasca Gempuran ke Aleppo Jokowi Malah Tanda Tangan Kerjasama dengan Iran
Keutamaan Ilmu
Tata Cara Mandi Haid dan Mandi Junub
Peran besar muslimah dalam dakwah Islam
Aroma Mewangi Minyak Kasturi
Neraka Jahannam Sepanjang Hidup, Surga Sepanjang Hidup
Rizki di Tangan Allah
Pada Suatu Titik
Mencari Jalan Pulang
Jodoh : Memilih Atau Dipilih ?
Ketika Istri Merasa Tidak Bisa Membahagiakan Suami
Pastikan Izin Suami Jika Ingin Menjalankan Shaum Sunnah
Satu-satunya Cinta yang Perlu Ada dalam Pernikahan bahkan dalam Kehidupan
Kenapa Anakku Susah Banget Sih Disuruh Sholat?
Aku Peduli Iman Anakku
Anak Sukses Bermula dari Bangun Pagi
Jangan Sia-Siakan “Masa SMA”
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Raditya Dika tak lagi Jenaka, Awkarin Malah jadi fenomena: Generasi Islam Mau Kemana?
Kisah Si Kaya dan Si Miskin (Pemilik Dua Kebun: Surat Al-Kahfi 32-44)
Gubernur Al-Hajjaj dan Pelajaran untuk Penguasa Durja
Nilai Ketaatan Isteri pada Suami
Nenek Penjaga Wahyu Al-Qur’an
Cara Mengatasi Anak Susah Makan
Asam Lambung Naik, Coba Obat Alami Ini
Popok Bayi Sekali Pakai VS Popok Kain
Bolehkah Ibu Hamil Makan Nangka?
Tips Merebus Telur yang Baik
Tips Meningkatkan Minat Membaca Buku
7 Tips Menyapih Anak
Tips Menyimpan Daging Kurban dengan Baik dan Sehat
Tips Merebus Telur yang Baik
Resep Aneka Olahan Singkong
Nikmatnya Pangsit Kuah Hangat Buatan Sendiri
Eksperimen Dapur : Kue Ketan Isi Mangga