Ramadhan Pertama Mualaf Hungaria

MuslimahZone.com – Aku merayakan ramadhan pertamaku…hmm…lihatlah, itu sudah berlangsung enam tahun yang silam! Waktu berjalan, subhanallah!

Aku ingat, saat itu pertengahan September, sekolah baru saja dimulai. Matahari kehilangan daya sengatnya, hari-hari kala itu terasa panjang.

Waktu itu, aku baru setengah tahun menjadi Muslim.

Cerita Lucu Sahur Pertamaku

Aku telah menyaksikan kawan-kawan komunitas Muslimah menjalani hari-hari saat Ramadhan tahun lalu, dan jujur saja, mereka terlihat biasa-biasa saja, tak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa mereka sedang berpuasa. Aku cukup terkejut kala itu. Aku pun mencoba berpuasa pada suatu hari di musim dingin, ketika siang hari pendek, betapa itu terasa singkat.

Dengan begitu katakanlah aku mendapatkan sebuah pelajaran: jangan makan terlalu banyak saat sahur! Namun, kemudian (ketika aku sudah menjadi muslim dan benar-benar hendak berpuasa) aku menjadi gelisah dan ragu, apa yang dapat aku harapkan selama seharian berpuasa nanti (jika hanya makan sahur sedikit). Maka, aku putuskan untuk berada pada posisi aman dan membuat lebih banyak roti isi dari biasanya. Aku sampai membuat sebuah sandwich ukuran besar dan tiga buah ukuran sedang!

Aku kira, aku tak perlu menceritakan bagaimana (kekenyangan) yang masih aku rasakan saat malam tiba; aku bahkan tidak menyentuh menu iftharku. Tapi tak mengapa, paling tidak aku jadi tahu bahwa jumlah makanan yang sama dengan yang kita ambil untuk sarapan pada hari-hari biasa cukup pula untuk sahur saat Ramadhan. Tak terlalu buruk sebagai permulaan!

Ramadhan Itu…

Bagaimanapun, aku sangat senang telah berhasil menjalani hari pertama puasa, namun Ramadhan tetap menyisakan sedikit rasa khawatir. Berpuasa sebulan penuh di siang hari yang panjang dan cuaca yang panas kelihatannya sangat berat, ditambah bahwa Ramadhan itu bukan hanya meninggalkan makan minum, namun juga kita harus mengendalikan amarah dan lidah, meninggalkan perbuatan dosa, dan melakukan amal baik yang diridhai Allah.

Ramadhan tak semudah yang disangkakan, kamu harus bekerja keras dan memanfaatkan tiap momen untuk mendekat kepada Allah. Artinya, aku harus lebih sabar, tak perlu lagi berargumen atau bertengkar dengan orangtua atau kakakku, dan sekaranglah waktunya untuk menghindarkan diri dari dosa-dosa kecil. Namun demikian, karena kekurangberanianku untuk menghadapi mereka, aku mencoba untuk menunda sampai tiba waktu yang tepat seperti dalam hal mendengarkan musik atau chatting yang tak perlu dengan kawan laki-laki di kelasku.

Jadwal Ramadhanku

Ketika akhirnya bulan Ramadhan datang, aku merasa memiliki rencana agenda yang banyak di kepalaku; bangun untuk sahur (semakin mendekati Shubuh semakin baik), shalat Fajr, membaca Al Quran terjemah sampai tiba waktunya bersiap-siap ke sekolah (sekitar 45 menit), shalat lima waktu, menghindari hal-hal yang haram di sekolah semampunya,mendengarkan lantunan Al Quran dalam perjalanan di dalam bus atau ketika berjalan kaki.

Di rumah, aku mempelajari pelajaran esok hari, kemudian membaca dan mendengarkan Al Quran secara bersamaan minimal dua halaman per hari, (aku baru saja tahu bagaimana cara membaca dan menulis Arab), dan membaca buku-buku lain tentang Islam untuk menambah wawasanku. Jika ada kuliah pada siang hari, aku berusaha menghadirinya. Pada malam hari, aku berbuka puasa, shalat Tarawih paling tidak 4 rakaat, tapi sebenarnya keseluruhannya adalah 8+3 rakaat. Demikianlah program Ramadhanku yang sedikit banyak berhasil aku tempuh, alhamdulillah.

Ifthar Spesial yang Pertama

Komunitas tempat aku belajar Islam, menyediakan ifthar spesial pada hari pertama Ramadhan: mereka mengundang banyak pembicara yang memiliki wawasan keislaman yang luas, mereka memberikan ceramah yang menarik dan informatif dengan topik yang berbeda-beda setiap sore hari, kami juga mendengarkan pelantunan Quran secara langsung, kami berbuka puasa dan shalat maghrib berjamaah.

Sebagai mualaf, aku merasa tak akan dapat merasakan tempat sebaik di sini; persaudaraan sesama Muslim yang tak pernah aku alami sebelumnya, benar-benar menyentuh dan membahagiakan. Apalagi, tentu saja, hidangan-hidangan yang menggugah selera dan aneka permen kuliner Turki dan Arab. Subhanallah, di bulan Ramadan saya benar-benar bisa merasakan hadits Nabi Muhammad (saw) mengatakan:
“Ketika bulan Ramadhan datang, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dirantai.” (Al-Bukhari)

Saat Ramadhan yang pertama aku masih seorang siswa SMA tingkat akhir. Saat itu sekolah baru saja dimulai, tak ada tes, tak ada ulangan. Di rumah, aku pun dibebaskan dari tugas-tugas rumah, ibuku sendiri yang memasak untuk kami, aku juga belum menjadi seorang istri, intinya, saat itu aku belum memiliki tanggungan pekerjaan, jadi aku benar-benar bebas untuk fokus beribadah dan mendekat padaNya. Sepanjang sore aku hanya membaca Al Quran kemudian belajar.

Tentu saja, kondisi tersebut membuat Ramadhan lebih mudah dijalani ketimbang ketika kita menjalaninya sambil bekerja 8 jam sehari kemudian berlari pulang untuk ifthar sambil kelelahan atau ketika harus menjalani Ramadhan sambil menyelesaikan tugas-tugas rumah seperti memasak, membersihkan rumah, mengurus anak,…dst.

Aku merasa Allah membuat puasa menjadi demikian mudah untukku, alhamdulillah, dan aku merasa tidak terganggu ketika satu ketika ada seseorang yang minum atau makan di sebelahku, karena aku merasa aku berpuasa hanya untuk Allah, jadi mengapa aku mesti pedulikan apa yang orang-orang lakukan di sekitarku? Dapat kukatakan, Ramadhan pertamaku benar-benar membuatku dekat dengan Allah.

Hikmah-Hikmah Ramadhan

Sepanjang berpuasa, aku tak merasa lapar sama sekali, hanya merasa haus, satu hal yang menjadi pengalaman baru untukku. Maksudku, tentu saja aku pernah merasa haus sebelumnya, namun tentu tidak sepanjang hari. Namun, kau tahu? Kita, manusia, seringkali tidak mensyukuri pemberian Allah. Kita terbiasa dengan ketersediaan hampir seluruh jenis makanan dan minuman di hipermarket 24 jam sehari 7 hari sepekan.

Kita makan bahkan ketika kita tidak lapar; pertemuan keluarga, pesta barbeque dengan teman atau kolega semua dipenuhi dengan makanan-makanan enak yang kita tak mampu menahan diri untuk tidak mencicipi semuanya, betulkan? Atau jika kita satu ketika menginginkan coklat atau sepotong kue pada siang hari, dengan mudahnya kita cukup berjalan ke supermarket dan membelinya. Sangat mudah!

 

Lantas kita makan di depan laptop sambil surfing di internet, atau sambil menonton TV hingga piring makan kita kosong tanpa menikmati betul-betul rasa makanan yang kita makan. Kita nampak hampir pasti melupakan fungsi dasar makanan tersebut: menghasilkan tenaga dan energi kepada tubuh untuk bekerja sebagaimana hadits mengajarkan kita bagaimana pola makan yang sehat:

“Tak ada wadah yang paling buruk yang dipenuhi oleh manusia kecuali perutnya. Cukup untuk anak Adam beberapa potong makanan untuk meluruskan punggungnya. Namun, jika harus, sepertiga bagian untuk makanan, sepertiga bagian air, dan sepertiga bagian untuk bernafas.” (At Tirmidzi)

Kita sepenuhnya lupa bahwa makanan tersebut adalah pemberian dari Allah yang tidak diberikan kepada setiap manusia. Tak pernah pula terfikir dalam benak kita bagaimana rasanya jika tidak dapat makan ketika kita sangat membutuhkannya. Namun, di dalam Ramadhan kita dapat merasakan hal tersebut; bagaimana jutaan orang di luar sana hidup setiap hari tanpa makanan, tanpa minuman.

 

Mensyukuri Setiap Pemberian Allah

Di hari-hari Ramadhan, Allah mengingatkan kita untuk menghargai tiap suap makanan yang masuk ke dalam mulut kita dan tiap teguk air yang kita minum yang hanya merupakan satu dari anugerahNya yang tak terhitung. Tapi demikianlah kita, manusia: ketika memiliki sesuatu biasanya tidak mensyukurinya sampai ketika kita kehilangannya.

Ramadhan adalah waktu yang sangat tepat untuk menyadari jutaan bahkan miliaran karunia Allah yang telah Allah berikan dan terus menerus Dia berikan setiap harinya. Di Ramadhan Allah mengingatkan kita untuk bersyukur padaNya atas semua karunia tersebut dalam setiap doa-doa kita, semoga kita tidak melupakannya, insya Allah!

Aku mencintai Islam dengan beragam alasan dan salah satunya adalah karena Islam telah mengajariku untuk tidak sekedar berjalan di atas bumi dan sekedar melewati hidup, tetapi harus dengan mengambil pelajaran dari tiap-tiap hal di sekelilingku dan dari pengalaman sehari-hari, karena sesungguhnya semua hal, bahkan diriku sendiri, merefleksikan kekuasaan dan kasih sayang Allah.

Semoga Allah menerima puasa kita, doa-doa kita dan semua amal shalih kita di Ramadhan ini, dan menjadikan kita bagian dari orang-orang yang beriman yang kelak memasuki surga sebagaimana disebutkan dalam hadits:

“Surga memiliki 8 pintu, dan satu pintu bernama Ar Rayyan yang tidak akan dimasuki kecuali oleh mereka yang berpuasa.”

Dikisahkan oleh  Aya Timea dalam onislam.net

(esqiel/muslimahzone.com)

Komentar Anda

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Menikah Muda Why Not ?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Anak-anak dan Membaca
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Wanita Muslimah yang Tangguh
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Tips Kecantikan ala Aisyah Istri Nabi
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk