RAJA Kecil yang Selalu Ingin Mencoba (Serial RAJA, PEMBANTU, dan WAZIR Bagian 3)

MuslimahZone.com – Tujuh tahun pertama anak kita adalah usia mereka berstatus RAJA. Tentu RAJA dengan ruang lingkup yang khas, yakni BERMAIN. Pada usia ini, sang RAJA kecil kita mengalami perkembangan otak yang sangat signifikan, maka rasa ingin tahunya amat dahsyat. RAJA kecil ini akan tidak bisa diam, tidak berhenti bergerak dan tidak berhenti bertanya. Percayalah para orangtua ini adalah perintah otaknya.

Jika pada usia dini, anak kita seperti sulit sekali diatur, selalu berlari, bersemangat menaiki apapun, memegang apapun tanpa memikirkan bahayanya sehingga kita kewalahan, justru orangtua harus bersyukur karena itu pertanda bahwa anak-anak kita melewati tahap yang memang harus mereka lewati sebagai konsekuensi dari perkembangan otak mereka. Dan pada rentang usia inilah fondasi kehidupan anak kita dibangun, penanaman aspek emosi dan penanaman logika benar-benar diserap dengan optimal pada usia emas ini.

Yang harus kita ingat, di sini posisi kita sebagai PELAYAN dari sang RAJA kecil, yang selalu bermain penuh rasa ingin tahu namun miskin pengalaman apa itu bahaya, keselamatan, norma, dan adab-adab. Tentu sebagai PELAYAN ada hal-hal yang harus kita lakukan agar RAJA kecil ini menjalani ruang lingkup BERMAINnya dengan selamat dan sukses. Sehingga fondasi kehidupan anak kita kokoh dan siap untuk memasuki fase status dan fase ruang lingkup berikutnya.

Beri Kebebasan Bereksplorasi namun Sertai dengan Rambu-Rambu yang Benar

Ada yang berkata, jangan katakan “jangan” pada seorang balita, karena itu akan mematikan kreativitasnya. Ya, pernyataan ini bisa jadi benar namun tidak menjadi mutlak seperti itu. Rasa ingin tahu yang besar pada anak usia emas tentu harus kita akomodasi semampunya. Sebagai PELAYAN sang RAJA, orangtua harus menjaga agar kebutuhan akan kebebasan bereksplorasi senantiasa terpenuhi tanpa harus melupakan keamanan, keselamatan, dan adab-adab yang ada.

Sebagai contoh, jika sang RAJA kecil kita kedapatan memainkan handphone baru kita. Mungkin ia akan menekan tombol sembarangan atau melempar atau malah berinisiatif mencucinya karena misal handphone itu kotor terkena coklat di tangannya. Sebagai PELAYAN, kita memang dituntut kesediaan melayani 24 jam, dengan sabar dan santun. Saat RAJA kecil kita asik memainkan handphone, PELAYANlah yang harus mendampingi. Kita bisa sama-sama belajar aplikasi menelepon misalnya atau membuka folder gambar dan lainnya sambil menjelaskan dengan sederhana aturan-aturan menggunakan handphone termasuk perkara izin dahulu sebelum memakai handphone orangtua. Jadi, rasa ingin tahu anak tetap terpenuhi namun dengan menumbuhkan rasa tanggung jawab dibaliknya.

Antara Rasa Ingin Tahu dan Kebiasaan

Ada dua tahap penting yang terjadi pada sang RAJA kecil, yaitu tahap pemenuhan kebutuhan rasa ingin tahu dan tahap pengalaman belajar menjadi pengalaman. Orangtua harus memenuhi tahap pertama, sedangkan pada tahap kedua, untuk membangun kebiasaan yang baik dibutuhkan peraturan dan kedisiplinan untuk membangun karakter positif, begitu menurut Bapak Munif Chatib dalam Orangtuanya Manusia.

Ketika anak tertarik dengan handphone baru kita, kemudian memegang, memencet-mencet tombol, itu merupakan perintah otaknya. Jika orangtua memberikan kesempatan untuk melakukan eksplorasi, disertai dengan ‘pengamanan’ yang cukup, tentu hal tersebut positif. Lain hal jika kemudian anak kita menemukan aplikasi game kemudian larut, terus-menerus tanpa mengindahkan waktu dan aturan. Atau menggunakan telepon seluler siapa saja secara sembarangan karena tak bisa mengendalikan rasa penasarannya. Ini sudah memasuki tahap selanjutnya, kita mengartikannya sebagai awal tahap terbentuknya kebiasaan.

Kebiasaan yang terbentuk akibat rasa ingin tahu tersebut bisa baik atau buruk. Jika anak kita sudah mulai terbiasa bermain game tanpa tahu waktu yang ini tentu suatu hal yang buruk. Pada tahap ini orangtua harus menetapkan semacam peraturan. Antisipasi ini tidak akan mempengaruhi perkembangan otaknya karena tahap pertamanya sudah dilakukan oleh anak.

(esqiel/muslimahzone.com)

Komentar Anda

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Menikah Muda Why Not ?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Anak-anak dan Membaca
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Wanita Muslimah yang Tangguh
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Tips Kecantikan ala Aisyah Istri Nabi
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk