RAJA Kecil yang Sangat Sensitif (Serial RAJA, PEMBANTU, dan WAZIR Bagian 4)

MuslimahZone.com – Masa-masa awal golden age adalah masa dimana bagian otak yang bernama amigdala berkembang sangat pesat dan mencapai puncak perkembangannya sebelum usia anak mencapai 4 tahun*. Amigdala merupakan pusat penyimpanan memori yang berkaitan dengan rasa (emosi). Bapak Munif Chatib dalam Orangtuanya Manusia,   menggambarkan amigdala sebagai sebuah wadah piring tempat menyimpan memori yang terbentuk sempurna sebelum anak berusia 4 tahun. Ketika piring tersebut sudah terbentuk sempurna, maka memori yang terekam di dalamnya tersimpan dengan sangat baik.

 Amigdala teranyam dari sel-sel otak dan terbentuk oleh koneksi antarsel otak (neuron) yang terjalin ketika seorang batita mendapatkan stimulus atau rangsang yang berkaitan dengan emosi. Itulah mengapa anak usia dini memiliki sensitivitas yang tinggi. Mereka mudah menangis, mudah marah, mudah bertengkar, namun sangat mudah pula tertawa, tersenyum, dan berdamai dengan kawan-kawannya.

Dalam buku Saat Berharga Untuk Anak Kita, Ustadz Muhammad Faudzil Adhim menguraikan tentang psikologi komunikasi yang menyatakan bahwa perilaku komunikasi seseorang dipengaruhi oleh pengalaman primordialnya, yakni apa yang pernah ia alami pada situasi yang kurang lebih sama dengan yang ia hadapi sekarang. Seseorang cenderung menggunakan pengalaman primordial sebagai acuan ketika kita berada pada kondisi kosong atau panik. Ketika kita tidak dalam keadaan jernih dan tenang dan dalam kondisi tidak tahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana seharusnya bersikap. Kalau dulu orangtuanya meninabobokan  dengan kipas sate saat ia rewel, ia juga cenderung akan melakukan hal yang sama bila anaknya tak kunjung mau memejamkan mata. Kalau dulu ibunya mengusap-usap lembut kepalanya ketika mengadapi rengekannya, ia pun cenderung demikian terhadap anaknya kelak. Kalau dulu orangtuanya melayangkan cubitannya saat ia menangis,  ia pun  cenderung melakukan hal yang sama ketika emosi sedang mendidih. Jadi, bagaimana sikap kita kini memperlakukan anak kita sangat mungkin terbawa menjadi bagaimana ia bersikap kelak.

Hal ini semakin nyata ketika sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dr. Hasan Ahdi, Kepala Divisi Psikiatri National Society for Care of Children terhadap 500 narapidana. Simpulan penelitian itu menyatakan bahwa penyebab utama tindak kriminal pertama anak-anak usia 12-13 tahun adalah kurangnya cinta dan kasih sayang keluarga terhadap mereka pada masa kecilnya*.

Imam Ghazaliy dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menasihati kita para orangtua: Jangan terlalu banyak mencelanya (anak) setiap waktu, karena ia akan menganggap remeh setiap mendengar celaan saat melakukan kejelekan dan nasihat pun tidak lagi menyentuh hatinya**.

Memaksimalkan Potensi Sensitivitas Sang RAJA Kecil

Sensitivitas anak kita saat golden age ini sesungguhnya merupakan karunia yang tak akan terulang. Ia merupakan potensi suci yang seharusnya senantiasa kita kawal agar menjadi modal yang sangat berharga bagi mereka untuk menempuhi kehidupannya kelak. Modal itulah yang harus kita pelihara agar tak melenceng dari fitrahnya, yaitu cenderung kepada kebaikan. Semoga Allah memudahkan kita. Aamiin.

Ada beberapa nasihat yang disampaikan oleh Bapak Munif Chatib dalam bukunya, Orangtuanya Manusia terkait dengan sensitivitas ini. Beliau mengimbau agar para orangtua membiasakan diri untuk memberikan rasa cinta dan kasih sayang sederhana kepada anak-anaknya yang berstatus RAJA, antara lain dengan cara:

  • Membiasakan bersuara menyejukkan. Jangan biasakan membentak. Jika suara kita tergolong nyaring (loud), usakan berbicara tidak terlalu cepat, sebab yang penting adalah intonasi kita ketika bicara. Bisa jadi, suara kita pelan, tapi intonasinya keras sehingga membuat anak ketakutan.
  • Membiasakan memeluk dan mencium anak, sebab pelukan dan ciuman bagi anak usia dini akan dirasakan sebagai selimut kelembutan bagi mereka.
  • Membiasakan memberikan sebutan atau gelar yang positif jika memanggil anak. Misalkan, anak shalih, anak ganteng, si manis, dan lain-lain.

 

*Orangtuanya Manusia, Munif Chatib

**Metode Pengajaran Nabi Shalallah ‘Alaihi Wasalam, Syaikh Muhammad al Hazzaa’

(esqiel/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Menikah Muda Why Not ?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Anak-anak dan Membaca
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Wanita Muslimah yang Tangguh
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Tips Kecantikan ala Aisyah Istri Nabi
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk