Potret Keluarga Teladan dalam Al-Qur’an: Keluarga Nabi Ibrahim

Muslimahzone.com – Sebagaimana telah kita ketahui, Allah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk termasuk dalam membangun sebuah keluarga. Jika sebelumnya kita telah melihat potret keluarga Al Qur’an yang digambarkan oleh keluarga Imran, maka inilah sosok keluarga Al Qur’an berikutnya:

Kedua: Keluarga Nabi Ibrahim AS.

Barangkali dari sekian potret keluarga yang disinggung dalam Al-Qur’an, keluarga Nabi Ibrahimlah yang banyak mendapat sorotan. Bahkan dimulai sejak Ibrahim masih muda ketika ia dengan gagah berani menghancurkan berhala-berhala kaum musyrikin sampai ia dikaruniai anak di masa-masa senjanya. Keluarga Nabi Ibrahim as. termasuk keluarga pilihan di seluruh alam semesta. Sebagaimana disebutkan dalam surat Ali Imran ayat 33: “Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran di seluruh alam semesta.” Akan tetapi, kita hanya akan mengambil beberapa episode saja dari rangkaian sejarah keluarga Nabi Ibrahim di dalam Al-Qur’an.

Episode paling terkenal dari kisah Nabi Ibrahim adalah ketika Allah swt. mengaruniakan seorang putra kepadanya di saat usianya sudah sangat lanjut, sementara istrinya adalah seorang yang mandul. Namun Allah swt. Maha Kuasa untuk berbuat apa saja, sekalipun hal itu melanggar undang-undang alam (sunan kauniyah), karena toh alam itu sendiri Dia yang menciptakan.

Ibrahim yang sudah renta dan istrinya yang mandul akhirnya memperoleh seorang putra yang diberi nama Ismail. Penantian yang sekian lama membuat Ibrahim sangat mencintai anak semata wayangnya itu. Tapi, Allah swt. ingin menguji imannya melalui sebuah mimpi -yang bagi para nabi adalah wahyu-. Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anaknya. Sebelum melaksanakan perintah itu, terjadi dialog yang sangat harmonis dan menyentuh hati antara anak dan bapak. Ternyata, sang anak dengan hati yang tegar siap menjalani semua kehendak Allah. Ia bersedia disembelih oleh ayahnya demi menjalankan perintah Allah swt. Ketegaran sang ayah untuk menyembelih sang anak dan kesabaran sang anak menjalani semua itu telah membuat mereka berhasil menempuh ujian yang maha berat tersebut. Allah swt. menebus Ismail dengan seekor domba, dan peristiwa bersejarah itu diabadikan dalam rangkaian ibadah korban pada hari Idul Adha. Kisah ini direkam dalam Al-Qur’an surat ash-Shaffaat ayat 100-107.

Ada beberapa pelajaran yang ingin kita petik dari penggalan kisah keluarga Nabi Ibrahim as. ini:

Satu:

Dialog yang baik dan harmonis antara seorang ayah dan anaknya. Meskipun Ibrahim meyakini bahwa perintah menyembelih anaknya itu mesti dilaksanakan, akan tetapi Ibrahim tetap melakukan dialog bersama putranya untuk meminta pendapatnya. Inilah barangkali yang mulai hilang dari keluarga muslim saat ini. Posisi anak dalam keluarga cenderung diabaikan dan dipandang sebelah mata. Anak seolah hanya berkewajiban untuk sekedar menuruti segala perintah orang tua tanpa memiliki hak bicara dan berpendapat sedikitpun. Akhirnya hubungan orang tua dengan anak ibarat hubungan atasan dengan bawahan. Hubungan seperti ini apabila dibiarkan terus berlanjut akan menghambat perkembangan karakter dan pribadi anak. Anak cenderung menjadi penakut dan tidak percaya diri. Atau kepatuhan yang ditampilkannya pada orang tua yang bersikap seperti ini hanyalah kepatuhan yang semu, sementara di dalam jiwanya ia menyimpan sikap penentangan dan pembangkangan yang luar biasa. Ia hanya mampu memendam sikap penentangan itu tanpa mampu melampiaskannya. Sikap penentangan ini akan menjadi bom waktu dalam jiwa anak yang suatu saat akan meledak jika situasi dan kondisinya mendukung.

Agar semua ini tidak terjadi, perlu dibangun komunikasi dan dialog yang harmonis antara orang tua dan anak. Kebiasaan orang tua yang selalu meminta pendapat anaknya -khususnya yang berhubungan langsung dengan dirinya- akan memberikan rasa percaya diri yang besar dalam jiwa anak. Ia akan merasa keberadaannya dalam keluarga dihargai dan diperhatikan. Selanjutnya, perasaan ini akan menumbuhkan sikap kreatif dan proaktif dalam jiwa anak di tengah-tengah masyarakat.

Dua:

Kesabaran Ismail dalam menjalankan perintah Allah untuk menyembelih dirinya. Adalah sesuatu yang teramat berat untuk menjalankan perintah seperti ini, apalagi dari seorang anak yang masih sangat belia. Tentu saja ini adalah hasil dari sebuah didikan yang luar biasa. Pendidikan yang mampu menumbuhkan sikap tawakal yang luar biasa dalam jiwa anak. Pendidikan yang membuat anak bersedia menjalankan apapun perintah Allah, sekalipun akan mengorbankan nyawanya. Namun hal itu tidaklah mustahil, karena dalam rentang sejarah Islam juga banyak anak-anak yang sangat dewasa dalam menjalankan perintah Allah. Diriwayatkan bahwa anak-anak para salafusshalih sering berpesan kepada ayahnya sebelum ayahnya pergi mencari nafkah: “Ayah, carilah rezeki yang halal, karena sesungguhnya kami mampu bersabar dalam kelaparan tapi kami tidak akan mampu bertahan dalam siksa neraka.” Tentunya sikap seperti ini hanya dapat dihasilkan melalui pendidikan yang serius sejak dini dengan menanamkan nilai-nilai keimanan dalam jiwa anak sedari kecil.

Tiga:

Kesabaran dan ketabahan dalam menjalankan perintah Allah akan selalu mendatangkan hasil terbaik. Ketika Ibrahim dan Ismail bersikap sabar dan tabah dalam menjalankan perintah Allah, meskipun itu sangat berat, Allah swt. menerima pengorbanan mereka dan menjadikan keluarga mereka sebagai keluarga pilihan di alam semesta. Mereka telah lulus menjalani sebuah ujian yang sangat berat. Kesabaran dan ketabahan dalam menjalankan perintah Allah itu hanya dapat diperoleh dengan keimanan yang kuat dan keyakinan yang kokoh bahwa kehendak Allah adalah yang terbaik meskipun bertentangan dengan hawa nafsu manusiawi.

Empat:

Cinta pada anak adalah ujian. Oleh karena itu Allah swt. berfirman bahwa anak-anak dan istri bisa menjadi musuh bagi seseorang jika semua itu akan melalaikannya dari mengingat Allah swt. (at-Taghaabun:14). Bagaimanapun cintanya orang tua kepada anaknya, hal itu tidak boleh menyamai apalagi melebihi cinta mereka kepada Allah. Ketika istri, anak-anak dan keluarga lebih dicintai daripada Allah, saat itulah mereka akan berubah menjadi musuh di akhirat kelak. Bahkan cinta kepada anak-anak tidak boleh melebihi cinta kepada Rasulullah saw. Dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda: “Tidak sempurna iman seseorang diantara kamu sehingga aku lebih dicintainya dari anaknya, orang tuanya dan manusia seluruhnya.

Disarikan dari buku Jurnal Al Insan Jilid 3, Penulis: Yendri Junaidi, Lc. , Penerbit : Kelompok Gema Insani

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk