Poligami dan Keperempuanan Istri

MuslimahZone.com – “…Maka, nikahilah perempuan (lain) yang kamu sukai, dua, tiga, atau empat.  Tetapi jika kamu khawatir tidak akan mampu berlaku adil, maka nikahilah seorang saja, atau hamba sahaya perempuan yang kamu miliki. Yang demikian itu lebih dekat agar kamu tidak berbuat zalim.” (QS. AnNisa: 3)

Posisi wanita dalam masing-masing sistem sosial memiliki tempat yang khas. Beda dalam Islam, beda dalam Hindu, beda dalam Kristen, dst. Jika ada kaum dimana perempuannya sah melakukan poliandri, maka tentu dengan nilai-nilai masyarakat yang berbeda pula, konsep cemburu yang berbeda, konsep keluarga dan pengasuhan anak yang berbeda, dst.

Sementara dalam Islam, sebagaimana termaktub dalam QS. Annisa ayat 3 tersebut, Allah memperbolehkan lelaki muslim memiliki dua, tiga, dan, empat istri dengan kewajiban berlaku adil diantara istri-istrinya.

Namun, di tengah masyarakat dengan sistem nilai yang carut-marut, poligami menjadi seperti tindak kriminal, sebuah tindakan yang salah, dibenci, dan dicurigai. Ia menjadi sekedar urusan perkelaminan. Bukan lagi sebuah sebuah solusi sosial yang memang dibutuhkan. Sebagaimana diketahui, poligami menyimpan banyak dimensi, mulai dari beragamnya motif, juga situasi dan kondisi yang khas pada setiap pengamalnya. Dimana semua dimensi itu disediakan aturan dan batasannya dalam syari’at. Tapi tulisan ini tidak akan membahas semua itu, tulisan berikut lebih kepada sisi keperempuanan istri terhadap poligami itu sendiri.

Ada teori yang mengungkapan bahwa pada dasarnya perempuan ingin menjadi satu-satunya orang yang dicintai oleh suaminya, ia akan amit-amit dengan praktik poligami. Entah teori ini diambil dari sistem sosial yang seperti apa. Mungkin saat ini, sistem di mana kita hidup di dalamnya. Sistem masyarakat saat poligami memang menjadi konsep keluarga yang asing dan melawan arus. Jika teori ini ditegakkan di atas sistem sosial yang seperti ini sangat mungkin teori itu menjadi valid. Tapi, ada yang menggelitik, ada sembulan-sembulan anomali yang terjadi pada diri perempuan-perempuan yang juga ‘terperangkap’ dalam  sistem ini. Apa itu? Berikut ulasan singkatnya;

Tanyakan pada Istri yang Bahagia

Istri yang bahagia, yang begitu menghormati dan menyayangi suaminya bukan saja karena faktor posisi suami yang wajib dibegitukan, namun lebih karena kualitas suami yang memang terbukti sangat layak untuk dihormati dan disayangi. Biasanya akan lebih mudah ‘ikhlas’ jika sang suami hendak menikah lagi. Meski ikhlas dan tidaknya ini bukan prasyarat boleh dan tidaknya suami menikah lagi. Namun, keikhlasan ini akan berpengaruh banyak pada jalannya bahtera pernikahan selanjutnya.

Coba saja tanyakan pada istri-istri shalihah yang harmonis kehidupan keluarganya namun  belum diberi kesempatan memiliki madu, tanyakan pada mereka adakah satu titik dimana mereka benar-benar ikhlas jika suaminya ingin memadunya? Biasanya mereka akan menjawab, iya pernah, iya sering. Tentu hal ini muncul saat mereka bahagia dan sangat sayang kepada suaminya. Ketika timbul keyakinan bahwa suaminya mampu menyayangi dan bertanggungjawab kepada mereka, anak-anaknya, bersama pula menyayangi dan bertanggungjawab atas madu dan anak-anaknya.

Hal ini mungkin karena perempuan biasanya egaliter, ia ingin perempuan lainnya juga bahagia sebagaimana yang ia rasakan, perasaannya halus. Pada dasarnya mereka ingin bahagia bersama-sama. Apalagi jika ia peka bahwa di sekitarnya banyak kaumnya yang sudah lama menanti lelaki shalih yng tak kunjung datang. Ketika ia menyadari kualitas suaminya yang sudah teruji, ia mampu sepenuh hati berbagi. Catatannya dengan kebahagiaan yang imbang dan adil. Jadi agaknya salah jika poligami itu bertentangan dengan fitrah dasar perempuan.

Yang seringkali membuat istri kehilangan bahagianya adalah rentetan penghianatan yang mendahului proses poligami, proses poligami menjadi proses yang prematur, jauh dari kondisi siap. Ketika istri di rumah demikian menjaga kehormatannya, ia dapati suaminya jelalatan matanya. Ia dapati suaminya bukan semata tergoda tapi menggoda dirinya sendiri atau membiarkan dirinya larut dalam godaan. Gemar larut dalam canda dengan anak gadis orang, gemar menatapi profil picture akhwat-akhwat, tidak menundukkan pandangannya, hobi menyantap film biru, dsb. Ini yang membuat banyak istri-istri terluka.

Ketika seharusnya mereka yang harus dijadikan labuhan saat suaminya tergoda, mengapa mereka disia-siakan. Istri yang banyak belajar, melakukan koreksi dan perbaikan diri hari demi hari, mengerti godaaan di luar sungguh luar biasa, tapi tetap saja hatinya tak dapat mentolerir jika ia dapati suaminyalah yang justru menggoda dirinya sendiri. Mungkin dalam benaknya, sudahlah para suami sangat mengerti betapa dahsyat fitnah wanita, lantas mengapa menggoda diri sendiri? Bukankah justru ini menandakan kelemahan lelaki itu sendiri? Jika sudah begini, tanyakan saja, bahagiakah ia jika dipoligami dengan motif seperti ini? Bisa jadi ya, ia tinggal merubah pandang dan rasa. Meski  tidak menyamai kedamaian para istri-istri bahagia dengan suami-suami yang pandai menjaga dan memberi ketenangan jiwa.

 Padahal dengan keegaliteran perempuan, dengan tanpa diminta, jika istri mendapati suaminya begitu menghormati dirinya dengan menjaga kehormatan diri, dien para suami sendiri, dan mendapati suaminya begitu menjaga perasaannya, begitu bertanggungjawab atas lahir dan batin istri dan anak-anaknya, tanpa diminta, ia akan mencarikan sendiri perempuan yang sangat mungkin lebih berkulitas dan insya Allah akan menjadi partner yang harmonis dengannya. Bukankah keluarga yang penuh barakah, sakinah, mawadah, dan rahmah itu yang menjadi cita-cita?

(esqiel/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Menikah Muda Why Not ?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Anak-anak dan Membaca
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Wanita Muslimah yang Tangguh
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Tips Kecantikan ala Aisyah Istri Nabi
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk