Petuah Seorang Ayah

MuslimahZone.com – Tugas utama dan terbesar seorang ayah adalah mendidik istri dan anak-anaknya untuk taat kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Dulu, ketika anak-anak masih kecil, saya menyiapkan waktu khusus untuk shalat shubuh berjamaah di rumah dilanjut dengan ta’lim. Alhamdulillah, nilai-nilai akidah tauhid, ibadah dan akhlak (adab) mulai tertanam dan tumbuh perlahan, laksana sebatang pohon.

Namun, akar pohon akidah tersebut masih dangkal dan rapuh. Ia mudah goyah dan terserabut oleh badai dan gelombang, angin kencang dan hujan deras, panas terik dan cuaca dingin yang menyengat.

Pohon kepribadian itu mesti dijaga, dirawat, disirami dan dipupuki agar terlindungi dari bala bencana dan penyakit yang mematikan..

Tugas besar inilah yang menjadi tugas si ibu yang sangat penting dalam pendidikan keluarga. Ayah yang menanamkan bibit pohon dan akar iman (tauhid), lalu bersama ibu merawat batang dan dahannya (ibadah) agar berbuah sepanjang musim (akhlak karimah). Inilah Mukmin sejati seperti pohon yang baik (QS.14:24-25).

Sang Ayah yang diabadikan namanya karena upaya pendidikan keluarga yang luar biasa adalah Lukman al-Hakim. Ungkapannya yang santun dan menyentuh hati yaitu Yaa bunayya (wahai anakku) diulang tiga kali.

Petuahnya untuk bertauhid, berbakti kepada orang tua, melakukan kebaikan sekecil apapun, mendirikan shalat, sabar, amar ma’ruf nahi mungkar dan jangan meremehkan manusia  diabadikan dalam Surah Lukman ayat 12-19 agar kita mengambil hikmahnya.

Begitu pun sang ayah, Nabi Ibrahim As dan Nabi Ya’kub As menyapa dengan tutur kata yang lembut Yaa baniyya,(wahai anak-anaku)untuk menanamkan akidah tauhid (QS.2:132). Nabi Yakub As juga menyapa anaknya Nabi Yusuf As dengan panggilanYaa bunayya (QS.12:5,67,87).

Di penghujung hidupnya, ia mengevaluasi proses pendidikan tersebut dengan bertanya, maa ta’buduuna min ba’dii” (apa yang kalian sembah setelah aku mati)?  Mereka menjawab dengan tegas yakni menyembah Tuhan Yang Esa, Allah SWT. (QS.2:133).

Beliau pun tersenyum hingga ajal menjemput. Bukankah banyak di antara orang tua justru bertanya, maa ta’kuluuna min ba’dii” (apa yang akan kalian makan setelah aku mati)?

Sang ayah, Nabi Nuh As juga memberi pelajaran berharga kepada para setiap ayah di kemudian hari yang sudah berjuang sungguh-sungguh mendidik anak lahir batin, namun belum membuahkan hasil yang menggembirakan, bahkan memilih jalan kesesatan.

Konon, ketika banjir bandang yang sudah menenggelamkan daratan semakin dahsyat, ia masih memanggil penuh harap dan sayang kepada anaknya, Kan’an, ”Yaa bunayya, masuklah ke dalam perahu bersama kami….”.

Namun Kan’an tetap tak mau mengikuti seruan ayahnya hingga tenggelam dihantam ombak besar dalam kekafiran (QS.11:42-44). Beliau memberi pelajaran berharga, yakni walau anak menjadi fitnah dan musuh yang menyesakkan dada, namun tak boleh berputus asa.

Bagi para ayah yang merasa belum mampu memberi tausiah, tujuh petuah berikut ini bisa jadi rujukan.  Pertama, ”Wahai anakku, apakah yang membuat hidup jadi terarah? Agama. Karena agama laksana petunjuk jalan menelusuri kehidupan.”

Kedua, ”Wahai anakku, apakah yang membuat hidup jadi mudah? Ilmu. Karena ilmu laksana cahaya yang menyinari di kegelapan malam.” Ketiga, ”Wahai anakku, apakah yang membuat hidup jadi meriah? Harta. Karena harta laksana hiburan menyenangkan dalam pertunjukan.”

Keempat, ”Wahai anakku, apakah yang membuat hidup jadi berkah? Berbagi. Karena berbagi (sedekah) itu laksana air yang mengaliri pepohonan lalu berbuah dan dimakan oleh yang membutuhkan.”

Kelima, ”Wahai anakku, apakah yang membuat hidup jadi gairah? Cinta. Karena cinta laksana sekuntum bunga dalam hati yang diliputi kerinduan.”

Keenam, ”Wahai anakku, apakah yang membuat hidup jadi indah? Seni. Karena seni laksana simponi keindahan Ilahi dalam jiwa.

Ketujuh, ”Wahai anakku, apakah yang membuat hidup jadi gagah? Beradab. Karena adab (akhlak) laksana mahkota kemuliaan tanpa memandang keturunan.”Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Ustaz Hasan Basri Tanjung MA

Sumber: Republika-Online

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk