Pesta Seks Bukan Nikmat Terbesar di Surga

Muslimahzone.com – Ramai pemberitaan tentang seorang ‘ustadz’ muda di televisi yang menyampaikan pembahasan tentang nikmat surga dengan keliru. Karena bahasanya tersebut dia menuai kecaman banyak orang terutama netizen.

Lalu bagaimana sebenarnya penjelasan tentang nikmat surga terbesar yang oleh ‘ustadz’ tersebut dikatakan adalah berupa pesta seks? Berikut salah satu penjelasan sekaligus kritikan dari Ustadz Dr. Miftah el-Banjary dalam rangka meluruskan pemahaman masyarakat.

***

PESTA SEKS DI SURGA dan KEKELIRUAN MEMAHAMI TEKS AGAMA USTADZ TV

Oleh: Ust. Dr. Miftah el-Banjary

Dalam sebuah tayangan “Islam Itu Indah” ustadz muda bertubuh kurus dalam sebuah ungkapannya berfatwa “Salah satu kenikmatan terbesar yang diberikan Allah di surga nantinya adalah Pesta Seks!”

Whaaatt?!!! Kenikmatan TERBESAR?!!

Pesta seks?! Se-vulgar itukah kenikmatan surga?!! Sehina itukah surga yang Rasulullah sendiri bersungguh-sungguh berdoa agar beliau dan umatnya diperkenankan memasukinya? Apa hanya sebatas ada “Pesta Seks” di dalamnya? Astaghfirullahaladzhim..

Berguru ilmu agama dengan siapa, hingga berani berfatwa seperti itu?
Mana dalilnya?!! Perkataan ulama mana?!!

Baik, mari kita pahami gambaran surga secara benar dan bernash serta menempatkannya pada posisi mulia dan terhormat!

Salah satu nikmat di surga itu “Hurr Ein” disediakan para bidadari yang cantik jelita bagi para pria. Sedangkan bagi para wanita akan menjadi ratu para bidadari. Semua mereka akan dinikahkan oleh Allah. Ingat ini hanya salah satu nikmat sepersekian kecilnya saja dari sekian berlimpah nikmat yang tak terhingga.

Al-Qur’an menyebutkan:

وَحُورٌ عِينٌ . كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ

Dan ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan baik.. (QS. al-Waqiah: 22-23).

Apa itu Hurun ‘In?

Kita semua tahu, itu sebutan untuk bidadari.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa dinamakan Hurun ‘Ain?

Hurun adalah bentuk jamak dari kata Haura’ (حوراء). Ada juga yang menyebutnya Ahwar (أحور).

Al-Asfahani mengatakan,

والحور قيل ظهور قليل من البياض في العين من بين السواد

Makna al-Huur, ada yang mengatakan, mata yang bagian putihnya lebih sedikit dibandingkan bagian hitamnya.
(Lihat, al-Mufradat fi Gharib al-Quran, hlm. 135).

Imam as-Sa’di memberi penjelasan dengan lebih rinci:

ولهم حور عين ، والحوراء : التي في عينها كحل وملاحة ، وحسن وبهاء ، والعِين : حسان الأعين وضخامها ، وحسن العين في الأنثى من أعظم الأدلة على حسنها وجمالها

Mereka mendapatkan Hurun ‘Ain. Al-Haura’ adalah wanita yang matanya bercelak, indah, cantik, dan menawan. Sedangkan ‘In artinya matanya indah dan lebar. Keindahan mata pada wanita, termasuk tanda terindah kecantikannya. (Tafsir as-Sa’di, hlm 991)

Sehingga pada intinya, kata Hurun ‘In adalah kata yang menggambarkan keindahan dan kecantikan bidadari.

Tentu saja Anda tidak boleh membayangkan bagaimana rasanya bersama mereka. Karena mereka tidak bisa dibayangkan.

Allah menegaskan dalam al-Quran,

فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِىَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As-Sajdah: 17)

Dan dalam hadis qudsi, Allah berfirman,

أَعْدَدْتُ لِعِبَادِىَ الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ

Aku siapkan untuk hamba-hamba-Ku yang soleh, kenikmatan yang belum dilihat mata, belum pernah ada telinga yang mendengarnya, dan belum terbayang dalam hati manusia.” (HR. Bukhari 3244 & Muslim 7320)

Karena itu, yang lebih penting untuk kita pikirkan adalah bagaimana caranya bisa mendapatkan bidadari? Mahar apa yang telah kita siapkan untuk menikahi bidadari?

Pertanyaan lebih pentingnya adalah “Lantas apakah bidadari tersebut bisa dinikmati dan tanpa ada batasan? Apakah nanti di surga akan ada pesta seks?”

Allah berfirman pada lanjutan surah al-Waqiah diatas.

جزاء بما كانوا يعملون

Balasan atas (ganjaran pahala) atas amal yang telah mereka lakukan.” (Q.S al-Waqiah: 24)

Merujuk pada ayat ini tentu kenikmatan surga itu bertingkat-tingkat sesuai dengan amal kebaikan seseorang sewaktu di dunia.

Level kenikmatan seorang yang shaleh tentu berbeda kenikmatannya dengan orang awam yang masuk surga dari berkah syafaat. Berbeda pula, level kenikmatannya orang yang shaleh saja dengan orang yang sampai pada tingkatan makrifat kepada Allah.

Intinya, nikmat puncaknya tergantung maqam dan derajat yang tidak bisa disamakan, tidak pula bisa disamaratakan kenikmatan terbesar itu adalah hal yang bersifat seksual saja.

Taruhlah jika seseorang sewaktu di dunia kenikmatannya cuma makan dan minum saja serta kenikamatan seksual saja, tentu bisa saja kenikmatan puncaknya sesuai kebiasaannya sewaktu di dunia.

Dia hanya memperoleh sebatas kenikmatan materi jasadiyyah saja, maka ahli dunia di surga juga kelak akan memperoleh kenikmatan surgawi yang bersifat kenikmatan makan dan seksual saja. Mereka puas makan dan minum serta bercumbe dengan bidadari yang dipersiapkan sebagaimana hadits-hadits nabi menyatakan demikian.

Namun, akan berbeda pula level kenikmatan dengan para orang-orang arifin; orang-orang ahli makrifat sewaktu di dunia yang hobinya berzikir mengingat Allah, maka kelak mereka akan merasakan kelezatan bersama Allah dan akan memperoleh nikmat surgawi yang lebih, yaitu memandang Tajalli Allah di surga, sebagaimana disebutkan dalam banyak periwayatan hadits.

Bahkan, para ulama sufi mendambakan kedudukan yang tinggi bersama para Rasulullah, sebagai derajat tertinggi di surga. Kenikmatan terbesar bersama al-Habib al-Musthafa Muhammad Shallahu alaihisallam.

Jadi seksual bukan kenikmatan terbesar!
Sekali lagi, bukan TERBESAR! Namun hanya satu kenikmatan terkecil dan terendah saja. Kenikmatan terbesar bersama Allah dan Rasulullah.

Masih banyak rincian hadits nabi yang merinci level-level ahli surga nantinya. Dan kenikmatan puncaknya adalah memandang Zat Wajibul Wujud yang bersifat Laisa Kamitslihi Syai’un.

Ada banyak dalil al-Qur’an pula yang menegaskan tentang hal ini. Diantaranya:

وجوه يومئذ ناضرة ¤ إلي ربها ناظرة

Pada hari kiamat banyak wajah yang berseri-seri. Mereka memandang Tuhannya.” [Q.S al-Qiyamah: 2-3]

Dari pemahaman tersebut ustadz muda ini belum mampu memahami mana kenikmatan jasadiyyah dan mana kenikmatan rouhiyah yang disediakan bagi para penghuni surga. Dikiranya kenikmatan di surga cuma sebatas seksual saja dan hubungan badan saja.

Bahkan jika merujuk pada surah al-Fushilat, di sana tidak disebutkan secara eksplisit bahwa kenikmatan surga hanya sebatas seksual saja, apalagi konotasi kata “Pesta Seks” akan sangat akan mencederai makna “تشتهي” di dalam al-Qur’an.

وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ . نُزُلا مِنْ غَفُورٍ رَحِيمٍ

Di dalam surga kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan di dalamnya kalian memperoleh apa yang kamu minta (QS. Fushilat: 31).

Orang-orang yang memahami makna bahasa Arab akan paham bahwa kata “أشتهي” bermakna keinginan yang kuat, namun tersembunyikan.

Jadi dengan demikian, keinginan syahwat tersebut bukan untuk ditampakkan pada penghuni surga lainnya, apalagi ada tampilan berpesta seks yang sangat mencederai kesucian surga sebagai anugerah terbesar bagi orang yang beriman yang sejak di dunia terbiasa melatih dan mengekang hawa nafsunya.

Dipikirnya surga itu untuk melampiaskan hawa nafsu, sedangkan nafsu hanya menjadi ujian bagi manusia sewaktu di dunia. Orang yang telah pulang kembali rohnya ke hadirat Allah dipanggil dengan sebutan:

“Ya ayyuhatun Nafsul Muthmainnah. Wahai nafsu yang tenang dan suci.”

Artinya, dia kembali dalam keadaan suci tanpa membaqa nafsu hewani. Seksual kata al-Imam al-Ghazali termasuk “An-Nafs al-Hayawan”.

Jadi, mari duduk belajar memahami sisi filosofis dorongan syahwatiyyah itu dahulu, baru kemudian berbicara tentang kenikmatan surga biar tak salah membangun paradigma berpikir logisnya dulu.

Jelas sekali lagi, pernyataan ada semacam pesta seks di surga tak ubahnya ungkapan kritikan para orientalis yang banyak diungkapkan sebagai pelecehan terhadap al-Qur’an. Sangat disayangkan ustadz yang belum mampu memahami ilmu agama malah berbicara ilmu agama tanpa ilmu.

Ini jelas sekali lagi -terlepas adanya unsur kesengajaan atau kekhilafan-menunjukkan kedangkalan serta kedunguan memahami ayat al-Qur’an, sekaligus pencederaan atas kesucian al-Fidaus yang begitu mulia dalam Islam. Nauzubillah.

“Pesta Seks” yang Mencederai Kesucian Surga

Surga disebut juga “Al-Jannah” yang berarti tersembunyi. Di surga ada kenikmatan tersembunyi yang hanya bisa dinikmati oleh penghuninya ada pula nikmat yang bisa dinikmati terbuka oleh penghuni surga.

Kenikamatan seksual termasuk kenikmatan tersembunyi yang hanya bisa dirasakan oleh penghuninya. Soal berapa jumlah bidadari yang akan dikawinkan hanya menjadi rahasia Allah. Namun, hubungan seksual bukanlah hubungan yang dinyatakan terbuka di surga.

Jika surga dipersepsikan sebagai tempat “Pesta Seks” lantas apakah surga dianggap kebun layaknya kebun binatang demi memuaskan birahi?!! Jelas ini kedunguan dalam memahami teks-teks agama.

Sedangkan al-Qur’an saja menyebut bidadari tersebut laiknya mutiara yang tersembunyi, bagaimana mungkin hubungan itu seakan dipertontonkan layaknya konser seks surgawi. Laa haula walaa quwwata illa billah.

Owh ya, satu lagi yang perlu menjadi catatan kritis perlu diluruskan dari ceramah Syamsudin ini adalah ungkapannya yang salah kaprah dan cenderung tidak memahami Maqashid Syariah dari sekian banyak perintah di dalam al-Qur’an. Seharusnya dia tidak mengandalkan logika berpikir yang tidak kompherehensif; sepotong-sepotong, sehingga menyebakan kontradiktif dalam menyampaikan pesan dakwah.

Contoh ungkapannya dia mengatakan “Kita disuruh menahan syahwat di dunia hikmahnya agar nantinya di akhirat disediakan para bidadari-bidadari”.

Wadooh!! Sedahsyat itukah nafsu syahwat orang mukmin?!!

Ungkapan ini terkesan surga sebagai tempat pelampiasan nafsu belaka. Padahal tujuan dan hikmah untuk menahan syahwat di dunia harus dilihat illat dan maqashid syariah-nya. Diantaranya:

1. Sebagai Ujian Bagi Manusia

فجورها وتقواها ¤ قد أفلح من زكها

Maka Allah diilhamkan sifat kejelekan/kekufuran dan ketaqwaan. Sungguh beruntung orang yang memberihkan dirinya.” [Q.S As-Syamy:8-9]

2. Sekaligus Ujian Ketaqwaan Bagi Orang yang Beriman

Pada ayat lain Allah Swt menegaskan:

الذي خلق الموت والحياة ليبلوكم أيكم أحسن عملا

Dia yang menciptakan kehidupan dan kematian agar menguji diantara kalian yang terbaik amalnya.” [Q.S al-Mulk: 2]

3. Agar Terjaga Keturunan Generasi yang Baik.

وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونسآء

Dia yang menciptakan pasangan dan dari pasangan itu berkembang biak laki-laki dan perempuan.” [Q.S an-Nisa: 1]

Alasan diatas sebenarnya sudah cukup terang benderang memberikan alasan mengapa Allah mencegah orang-orang beriman menegah nafsu ketika masih berada di dunia. Dalilnya jelas di dalam surah an-Naziat ayat 30-31:

وأما من خاف مقام ربه ¤ ونهي النفس عن الهوي ¤ فإن الجنة هي المأوي

Adapun orang-orang yang takut pada azab Tuhannya dan menjauhi semua yang diharamkan. Surgalah tempat mereka terakhir. [Q.S. An-Naziat: 40-41]

Jadi sepertinya Syamsudin ini harus belajar lebih banyak lagi dalam memahami al-Qur’an.
Sebelumnya ustadz Maulana juga mendapatkan teguran dan kritik keras dalam dakwahnya yang sampai saat ini masih dalam satu panggung bersama dengan ustadz Syam ini. Sebegitu mudahkah menjadi dai tanpa dibekali ilmu agama yang mumpuni?

Hal yang kita khawatirkan telah sampai apa yang pernah dikhawatirkan oleh Rasulullah bahwa akan datang suatu masa dimana para orang-orang jahil berpakaian laksana ulama, berbicara layaknya ulama, namun sebenarnya mereka tidak memahaminya. Jadilah yang memberi fatwa dan mendapatkan fatwanya sesat menyesatkan.

Saya harap selain minta maaf, ustadz Syam belajar lagi tentang tafsir al-Qur’an dan makna Dilalah setiap ayat serta hubungan konteks secara kebahasaannya agar tak lagi keliru dan menyimpang dalam menyampaikan pesan dakwah. Wassalam.

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Pesta Seks Bukan Nikmat Terbesar di Surga
Secular Radicalism, The Real Blasphemy
Biasakanlah Anak Minta Izin Ketika Masuk Kamar Orangtua
Meraih Sifat Qana’ah
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Hati-hati Merusak Kebahagiaan Orang Lain Tanpa Sadar
Berhenti Menghujat Saudara Sendiri di Sosial Media
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Nasehat Tere Liye Seputar Jodoh
Tepuk Anak Sholeh dan Benih Radikalisme
Kerap Terlupakan Orangtua Mendidik Adab Anak
Mengapa Ayah Lebih Sabar daripada Ibu
Belajar Matematika Untuk Anak Usia Dini, Apa Dulu yang Diajarkan?
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Jika Telah Caesar 3x, Apakah Boleh Steril/Tubektomi?
Sharing : Melahirkan Hanya 3 Kali Mengejan
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk