Pesona Igauan Al-Quran Anak Usia Dini

MuslimahZone.com – Sarah Haya Nada ‘Ul Matin, balita usia 3,5 tahun tiba-tiba kejang saat sedang ngaji dan setor hapalan Quran di depan ummi dan abahnya. Badan dan lidahnya membiru serta muntah busa. Segera saja anak pasangan Agus Jamaluddin dan Bunda Dhimasy ini dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Hingga tiga hari kondisinya belum membaik.

Sabtu dini hari Sarah sempat siuman dan memanggil umminya. Bahkan di tengah sakitnya pun Sarah masih melantunkan Quran surat An-Naba hingga 12 ayat. Tepat usai membaca ayat 12, Sarah berhenti karena saat itu juga napasnya berhenti. Allah memanggilnya dalam kondisi sedang menghapal Qur’an. Masya Allah, indahnya.

Kejadian itu sekitar pukul 3.10 WIB, Sarah meninggal ketika sedang mengulang hapalan Quran surat an-Naba. Anak sekecil itu sudah begitu mencintai Quran. Sarah ini adalah adik dari kembar tiga yaitu Abdul Hannan Jamaluddin, Abdul Mannan Jamaluddin, Abdul Ihsan Jamaluddin yang juga hafidz Quran.

Demikian sekelumit kisah yang tersebar di Media Sosial yang membuat setiap orang yang membacanya terharu, menyentuh dan takjub luar biasa. Igauan anak seperti Sarah bukanlah igauan sembarang, karena terbiasanya dia mendengarkan ayat-ayat Al-Quran dan selalu melantunkan melalui lisan mungilnya yang membuat seluruh syaraf otaknya terhubung dengan ayat-ayat Al-Quran hingga dibawa ke alam bawah sadarnya saat menjelang wafatnya dalam keadaan membacakan Al-Quran

Katakanlah Umar, juga terbiasa diperdengarkan ayat-ayat Al-Quran sampai hafal, dari lisan uminya, dari MP3, dari box speaker, dalam kondisi bangun dan dalam kondisi tidur, ketika naik motor berangkat ke sekolah dan di setiap kesempatan hari-harinya, membuat lisannya selalu terucap Al-Quran. Bahkan seringkali dalam tidurnya, mengigau dan igauannya itu hafalan Quran yang selalu dibacanya. Dalam kondisi sakitpun, panas badannya yang tinggi, igauan itu pun adalah hafalan Al-Quran.

Ini yang luar biasa dari pesona proses pendidikan dalam bimbingan wahyu terhadap anak usia dini yang dimulai dengan memperdengarkan ayat-ayat Al-quran dan menghafalnya walau belum bisa membaca Al-quran. Alquran yang dihafalkan dengan cara mendengarkan adalah metode yang termudah, tidak perlu beban untuk memikirkan, tidak perlu pemaksaan untuk menghafalkan, sambil bermain, tiduran, lompat-lompatan, sambil berjalan, duduk santai dan sebagainya. Bila sering diperdengarkan akan hafal dengan sendirinya 1, juz, 2, juz, 3 juz dst.

Keutamaan pendengaran, ya…potensi pendengaran itulah yang harus dioptimalkan pada Anak-Anak Usia Dini. Suara-suara yang harus ditangkap di telinga anak haruslah suara-suara yang lembut dan indah sehingga respon dengarnya terbiasa dengan ucapan-ucapan yang ahsan, terjauhkan dari mendengarkan perkataan-perkataan yang buruk. Ini sangat berkontribusi pada kemudahan proses pembentukan konsep diri anak, saat dipanggil cepat merespon panggilan lembut ibunya, saat dinasehati tidak selalu muncul pembangkangan, akan tetapi selalu mengatakan iya umi, iya ibu, iya mama. Anak akan mudah termotivasi dari kelembutan ayah ibunya, justru akan merasa tidak nyaman bila dengan bentakan dan kemarahan. Disinilah kemudahan merespon positif setiap kebaikan yang diperintahkan Allah swt. Sehingga perpaduan hafalan al-Quran dengan motivasi aqidah dalam pendidikan akan menancapkan dasar-dasar yang kokoh bagi pondasi pembentukan kepribadian Anak kelak setelah dia baligh.

Inilah yang membedakan metode pembelajaran Anak Usia Dini yang berbasis aqidah Islamiyyah dengan yang lainnya. Walau usia bermainnya tidak direnggut, anak usia dini sangat tinggi hafalannya, karena saraf otaknya belum seberapa terhubung, maka hendaknya hafalan Al-quran inilah yang diharapkan memenuhi otaknya sehingga itu yang paling melekat, yang paling cepat direspon dan paling dulu muncul dalam benaknya.

Berikutnya hafalan Quran melatih fokus anak dalam belajar, melatih konsentrasi ketika saatnya dia diharuskan fokus, juga melatih daya ingat yang tinggi untuk siap menghadapi berbagai bidang studi lainnya.

Meski semua indra anak harus dioptimalkan, pada dasarnya yang paling berfungsi lebih dulu dari semua indra anak adalah pendengaran,karenanya lantunan ayat-ayat adalah yang paling pas untuk dimulai. Setelah perkembangan berikutnya anak bisa diajarkan membaca Al-Quran dan menuliskannya memfungsikan indra lainnya, seperti penglihatan dll seiring sejalan dengan hafalannya. Hati anakpun akan semakin lembut sehingga mudah mensyukuri segala ni’mat Allah SWT yang diberikannya kepadanya, menjadi hamba yang ‘abid yang ta’at, menjadi hebat dengan motivasi wahyu. Inilah yang diisyaratkan dalam Al-Quran dalam Surat An-Nahl ayat 78,

Artinya:

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur“. (An Nahl: 78)

Fungsi indra ini jelas targetnya untuk membangun rasa syukur , semakin banyak ni’mat semakin tambah keta’atan, semua indreranya hanya untuk menyerap apa yang ada dalam Al-Quran . Bila anak dalam nafasnya yang dihirup dan dikeluarkannya adalah lafadz-lafadz Al-Quran, kita akan dapatkan fenomena yang belum pernah kita alami sebelumnya yang kita saksikan betapa cintanya anak-anak terhadap Al-quran, bahkan tak pandang kondisi dan tempat, bahkan saat di kamar mandi pun anak bisa lantang baca Qurannya, di tengah-tengah keramaian, di keheningan suasana, di kesendiriannya, komat-kamitnya bisa kita saksikan adalah Al-Quran melebihi yang dilakukan oleh ayah ibunya.

Kelak, generasi seperti ini yang kita tunggu, mereka yang dibimbing wahyu dan berpegang teguh pada ideologi Islam, berjuang menegakkan khilafah atau menjadi SDM Khilafah yang unggul hingga menjadi mujahid di medan jihad dan dalam akhir hayatnya. Saat kesyahidannya, igauannya adalah lantunan ayat-ayat Al-Quran yang sangat indah. Sunggu mempesona bukan ?

Wallahu a’lam bishshowab

Oleh: Yanti Tanjung

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk