Perubahan Harga Mati 

Muslimahzone.com – Habis Lebaran pada ngomongin soal reuni, ya? Maaf. Gak punya cerita reunian. Saya cuma bisa reuni sama keluarga besar saja. Itupun tak lama. Serasa mudik tahun ini kurang pol-polan. Belum sempat ngobrol ngalor ngidul segayeng-gayengnya, eh, waktu balik sudah tiba (#curcol). 

Tapi ngomongin soal kampung halaman, setelah puluhan tahun merantau, tentu sudah banyak perubahan. Mulai fisik bangunan hingga fisik penghuninya. Ada masjid baru. Ada toko baru. Ada penghuni baru. Ada kisah-kisah baru. 

Tentu, ada juga yang tidak (atau belum) berubah. Terutama, budayanya. Entah kenapa, di kampung saya kalau silaturahmi, berkunjung dari rumah ke rumah itu, ramainya justru di hari kedua Idul Fitri. Hari pertama pasca salat Idul Fitri, ngapain? Antre di tukang bubur legendaris deket rumah hehe…

Itu budaya turun temurun yang tidak mudah berubah. Apakah terkena virus “harga mati” yang terkesan alergi dengan perubahan? Bukan. Orang desa itu baik-baik kok, soal harga bisa tawar menawar hehe…Tidak ada harga mati. Kecuali di minimarket yang sekarang juga sudah merangsek ke kampung halaman.

Ini hanya karena budaya yang begitu mengakar sehingga sulit berubah. Tapi, bukan berarti tidak bisa berubah. Cuma soal waktu, suatu saat mungkin akan berubah. Puluhan, atau ratusan tahun ke depan. Toh sudah ada yang memulai perubahan. Masyarakat tertentu sudah mulai banyak yang silaturahmi pada hari H Idul Fitri. 

Nah, demikian pula perubahan-perubahan dalam hidup ini, adalah sebuah keniscayaan. Maka, jangan terlalu obral “harga mati” untuk urusan duniawi. Karena, segala bumi dan seisinya ini fana. Tidak ada yang abadi. Tidak ada yang stagnan. Malah, kata banyak pakar, justru perubahanlah yang abadi. Perubahan itulah yang pantas dilabeli harga mati. Semua pasti berubah.

Kalau sedikit-sedikit “harga mati’, nanti malu kalau tiba-tiba terseret arus perubahan. Apalagi kalau yang berubah diri sendiri, yang sebelumnya teriak-teriak harga mati. Sebab, manusia itu tempatnya berubah. Terus berubah bahkan. Dari bayi merah, remaja, dewasa hingga usia matang (baca: tua). Tidak ada yang tidak berubah.

Perubahan itu seiring dengan semakin matangnya proses berpikir. Semakin intensnya diskusi. Semakin terserapnya ilmu. Semakin beragamnya pengalaman. Semakin berlikunya pergumulan hidup. Semakin terbukanya mata hati. Maka, jangan alergi dengan perubahan. 

Pun, jika ada yang menawarkan perubahan, jangan buru-buru dikecam. Pelajari dulu secara objektif. Kaji betul. Perubahan seperti apa yang ditawarkan? Ke arah kebaikan atau keburukan? Membawa maslahat atau mudharat? 

Terpenting, timbangan perubahan itu harus jelas. Standarnya pasti, bukan relatif. Dan sebagai Muslim, standar baku itu adalah baik atau buruk dalam kaca mata Islam. Halal haram dalam konteks syariah. Maslahat atau mudharat berdasar dalil. Bukan semata-mata sesuai hawa nafsu manusia. Sebab, akal manusia terbatas. Boleh jadi ia membenci sesuatu, padahal itu amat baik baginya. Sebaliknya, ia menyukai sesuatu, padahal itu buruk baginya. (Lihat TQS Al-Baqarah: 216). 

Lagipula, stagnan juga belum tentu baik. Istilah jadulnya, jumud. Istilah kerennya, zona nyaman. Jika berubah bisa jauh lebih nyaman, kenapa tidak? Jika berubah jadi lebih baik, kenapa menolak? Malu loh, kalau sudah teriak “harga mati,” tapi ternyata di kemudian hari berubah. Atau, tidak konsisten dengan teriakannya sendiri. 

Misal, orang yang “cinta mati” itu, ngegombalnya bakal sehidup semati. Faktanya, pasangan mati, doi kawin lagi (sebagian sih, hehe..). Katanya, NKRI itu harga mati. Faktanya, Timor Timur lepas, siapa peduli? Sipadan dan Ligitan pergi, pembelanya cuma gigit jari (gak berjuang sampai mati tuh!). Katanya, Pancasila harga mati. Faktanya, Pancasila dikhianati justru oleh para pembela matinya. Jual BUMN, lepas aset negara, serahkan kekayaan pada asing, dll. Letak matinya di mana, ya? 

Jadi sekali lagi, jangan obral “harga mati” lalu anti terhadap perubahan. Harus terus berubah. Berubah lebih baik. Berubah ke arah Islam. Jangan ke arah yang lain. Umar bin Khattab berubah dari pembela kekafiran menjadi pembela Islam. Bersama Rasulullah SAW berada di barisan terdepan pembawa gerbong perubahan peradaban. Mengganti peradaban jahiliyah menjadi peradaban Islam. Rivalnya, Abu Lahab yang tak mau berubah, akhirnya binasa.

Ya, kalau tidak mau berubah, siap-siap menuju ajal. Fir’aun binasa karena tidak mau berubah. Nokia menggali kubur karena terlalu takabur. Friendster tinggal nama karena ada perubahan teknologi pertemanan. Maka, pastikan Anda berada di gerbong perubahan. Karena, “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’ad ayat 11). Wallahu’alam.

Oleh : Asri Supatmiati, Penulis buku-buku remaja

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk