Pergaulilah Istrimu dengan Baik

Muslimahzone.com – Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada para suami untuk bersikap dan memperlakukan para istri mereka dengan baik dengan kemampuan terbaik mereka:

“Hai orang-orang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi wanita dengan cara paksa, dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut.  Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisaa’ [4]: 19)

Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik perlakuannya kepada keluargaku.” (HR. Ibnu Majah)

Rasulullah juga bersabda: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaknya, dan orang yang paling baik diantara kalian ialah yang paling baik terhadap istrinya.” (HR.Tirmidzi, Ibnu Hibban, hadits hasan shahih)

Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi suri tauladan yang baik telah memberitahu kita bahwa perlakuan baik seorang suami terhadap istrinya adalah termasuk akhlak yang mulia, yang merupakan cerminan keimanan. 

Senantiasa tersenyum pada istri, tidak menyakitinya secara emosional, tidak menzhaliminya, berlaku lemah lembut terhadapnya, bermesra-mesraan dengannya, membantu pekerjaan rumahnya, dan bersabar terhadapnya adalah di antara perlakuan baik terhadap istri.

Termasuk akhlak mulai terhadap istri adalah komunikasi yang baik. Seorang suami hendaknya bersikap terbuka terhadap istrinya dan bersedia mendengarkan istrinya dengan sabar dan penuh kasih sayang. 

Lazimnya, seorang suami merasa sangat lelah saat pulang bekerja sehingga tak jarang ia merasa frustasi dan malas untuk berbincang-bincang dengan istrinya. Tetapi hendaknya ia tak melupakan untuk menanyakan kabar istrinya setiap kali ia pulang, seperti bagaimana keadaan dirinya dan anak-anak. 

Suami hendaknya juga berusaha memahami untuk tidak membicarakan hal-hal “berat” saat sang istri sedang lelah, marah dan lapar. Hendaknya ia berusaha mendengarkan keluh kesah sang istri tanpa mencacinya.

Komunikasi, kompromi dan perhatian adalah di antara landasan pernikahan yang sangat penting.

Membesarkah/membahagiakan hati istri juga termasuk menggauli istri dengan baik. Pujian yang wajar untuk istri sehingga istri merasa bernilai di mata suami dan merasa dikagumi setulus hati. Suami sering tidak sadar, bahwa pujian kecil bisa membekas di hati sang istri. Misalnya seperti “Aku suka cara berpikirmu,” atau “Kamu terlihat cantik mengenakan pakaian itu,” atau “Aku senang sekali mendengar suaramu saat di telepon” dan kata-kata manis lainnya.

Suami harus peka terhadap hal-hal yang membuat istrinya tidak nyaman dan mencari tahu apa yang membuatnya nyaman dan bahagia. Semakin sering suami membesarkan hati istri, semakin besar rasa cinta istri kepadanya. 

Memang, setiap orang memiliki kekurangan. Saat menikah, kekurangan satu sama lain akan terlihat lebih jelas. Tetapi hendaknya suami berusaha untuk menerima istrinya apa adanya dan begitupun istri terhadap suami. Jikapun suami menghendaki perubahan pada istrinya sesuai yang ia kehendaki (selama tidak bertentangan dengan Syariah Islam), maka sebaiknya bersabar.

Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Janganlah seorang mukmin itu membenci seorang mukminah, sebab jika ia tidak senang dari wanita itu dari perangainya, tentunya ia akan merasa senang dari perangainya yang lain, atau beliau bersabda : ‘Dari budi pekerti yang selain dibencinya.’” (HR. Muslim. 1469)
 
Seorang pria seharusnya tidak membenci istrinya, karena jika ia tidak menyukai sesuatu dari diri istrinya, ia akan menyukai hal lainnya. Hendaklah suami mengingat-ingat kebaikan pada diri istrinya. Bukan sekedar penghargaan terhadap pekerjaan rumah tangganya yang mengagumkan seperti memasak, mengepel, menyapu, mencuci, menyetrika pakaian dsb, tetapi juga penghargaan terhadap akhlak baiknya yang lain.
 
Suami hendaknya berusaha untuk berperilaku mengagumkan terhadap istrinya seperti penyayang, murah hati, murah senyum, jujur, bijaksana, wangi, lembut, setia, romantis, berkomitmen dan lain sebagainya. Hal demikian pada sebagian orang memang bukan hal yang terjadi begitu saja, tetapi bukan berarti tidak bisa, namun perlu usaha terus menerus. Saling memahami dan menghargai sehingga membentuk kasih sayang dan cinta yang terus terawat memang butuh upaya yang tulus.
 
Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah  shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan beberapa hal yang harus dipenuhi suami terhadap istrinya. Dari Shahabat Mu’awiyah bin Haidah bin Mu’awiyah al-Qusyairi radhiallaahu ‘anhu bahwasanya dia bertanya kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, apa hak seorang isteri yang harus dipenuhi oleh suaminya?” Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab:


1. Engkau memberinya makan apabila engkau makan,
2. Engkau memberinya pakaian apabila engkau ber-pakaian,
3. Janganlah engkau memukul wajahnya,
4. Janganlah engkau menjelek-jelekkannya, dan
5. Janganlah engkau meninggalkannya melainkan di dalam rumah (yakni jangan berpisah tempat tidur melainkan di dalam rumah).” (HR. Abu Dawud. 2142 )

Konflik dalam rumah tangga merupakan hal yang hampir tak terelakkan dan sering memicu banyak amarah. Meskipun kemarahan adalah hal yang sulit dikendalikan, tetapi Islam telah mengajarkan untuk mengendalikan/menahannya dan memaafkan adalah lebih baik. Ketika sedang berada dalam konflik, hendaknya suami tidak mendiamkan istrinya dengan tidak berbicara dengannya dan menyakitinya secara emosional, sebab istri akan sangat tersiksa saat suaminya mendiamkannya. Tetapi jika memang perlu untuk menyendiri (masing-masing) dalam beberapa saat, hendaklah tidak sampai salah satu atau keduanya meninggalkan rumah.

Menahan emosi, meminta maaf dan memafkan serta berbicara dari hati ke hati akan memperbaiki situasi dan mempererat hubungan (insya Allah).

Jika istri melakukan kesalahan, hendaklah suami menegur dan menasehatinya dengan kata-kata yang baik, tetapi tidak berbuat kasar kepadanya. Wallahu a’lam bish shawab.

Diterjemahkan dari IslamReligion.com dengan tambahan redaksi

(zafaran/muslimahzone.com)

Tags: ,

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk