Perempuan-Perempuan “Preman”

Muslimahzone.com – Dekadensi moral yang terjadi pada kaum wanita saat ini semakin membuka mata bahwa emansipasi pun patah taji dalam meningkatkan martabat perempuan. Hal ini dikarenakan ideologi feminis yang berkembang dan penerapan kesetaraan gender di Indonesia hanya “membebek” Barat tanpa memperhatikan nilai-nilai susila yang diajarkan agama. Juga meski tak sesuai dengan nilai-nilai ketimuran yang “adiluhung”, segala hal berbau Barat menjadi acuan budaya masa kini. Maka berdengunglah slogan-slogan “perempuan tertindas” yang menarik perhatian para wanita sehingga mereka phobia dengan budaya dan agama mereka sendiri, alih-alih mempelajari lebih lanjut.

Slogan yang cukup provokatif karena-entah mengapa-yang ditonjolkan adalah “ketertindas” perempuan nya bukan malah bagaimana caranya agar perempuan bisa “tidak tertindas.”

Jika kita melihat Barat dari kacamata film yang cukup representatif, sampai Tahun 1915, peranan wanita hanyalah sebagai manusia lemah tak berdaya yang selalu ditolong oleh lakon pria. Wanita hanyalah lakon komplementer, sebaliknya laki-laki merupakan jagoan tangguh dan pahlawan yang dielu-elukan. Kemudian  sejak dimulai pemotretan  jarak dekat (close-up), para sineas tertarik menjadikan wanita sebagai “alat hiburan” sehingga muncullah Dewi Sex yang pertama yaitu Theda Bara; yang selalu memainkan peranan sebagai pemikat hati lelaki, menikmatinya lalu memusnahkannya. Penghargaan terhadap kaum perempuan mulai naik sedikit, katanya, ketika Tahun 1923 muncul Scott Fitsgerald dengan film-nya “Up Here from Heaven”  dibintangi oleh wanita berambut pendek, mengisap rokok dengan pipa menjadi mode yang ditiru oleh wanita-wanita Amerika.

Bagaimana penerapannnya di Indonesia? Tidak sulit menemukan “perempuan-perempuan preman” ini sekarang. Mereka bertebaran di setiap lini. Seorang wanita berambut pendek berperan sebagai direktur perusahaan , kondektur bus dengan mulut menyemburkan asap rokok (bahkan kadang lebih lihai daripada laki-laki), wanita tukang palak di pasar, penjaga diskotik pemilik accessoris anting di lidah, anak sekolahan berambut pendek cepak dengan atau tanpa make up, bisa ditemukan dengan mudah.

Di satu sisi mungkin masyarakat terheran-heran bahkan antipati dengan kelahiran “perempuan-perempuan preman” ini. Perempuan-perempuan yang, lagi-lagi katanya, mampu mendobrak sebuah prototipe makhluk bernama “wanita” yang selalu dikatakan lemah tak berdaya dan hanya berselindung dibalik ketiak laki-laki sebagai tulang rusuk yang bengkok. Namun disisi lain, para perempuan yang “berhasil” menempuh “the road which is not taken” ini kadang juga bermanfaat bagi perempuan lainnya dalam berbagai keadaan. Seorang perempuan yang bekerja sebagai tukang ojek atau sopir angkot misalnya, membuat perempuan lain merasa aman dan memudahkan urusan. Di Jakarta sering ada kondektur metromini perempuan yang lebih tegas dan galak dibanding laki-laki, sehingga tidak ada penumpang yang berani untuk tidak membayar ongkos. Banyak juga perempuan ketua preman pasar yang “pintar” menggertak sehingga anak buahnya para penjarah pun bertekuk lutut.

Keberadaan perempuan-perempuan seperti ini agaknya telah menjadi suatu keniscayaan. Dalam sejarah Islam pun ditemukan adanya para perempuan pemberani, gigih, pejuang dan penuh ketegasan. Isteri Abu Thalhah pernah menenteng senjata lalu dibenarkan oleh Nabi. As Syifa (20 H – 640 M) pada masa Khalifah Umar bin Khattab diangkat menjadi Kepala Urusan Pasar.

Di Indonesia juga banyak perempuan – perempuan yang “ditakuti” para panjajah seperti Cut Nyak Dien, Malahayati , Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh, Rohana Kudus dari Sumatra Barat, Dewi Sartika dari Jawa Barat, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan, dll karena konsistensi mereka melawan monopoli penjajah dalam perekonomian maupun pendidikan.

Akan tetapi, dari kesemua perempuan-perempuan hebat yang dikenal itu, tak satupun dari mereka yang  pernah tercatat dalam sejarah berambut pendek, beranting di lidah, memakai celana hawai dengan sepatu boot apalagi merokok memakai pipa. Mereka juga memperjuangkan hak-hak mereka tapi memperhatikan norma-norma dan tuntunan, menjaga fitrahnya sebagai perempuan, tidak hanya mengutamakan rasionalitas apalagi meniru-niru.

Dalam Al Qur’an perempuan dan laki-laki saling melengkapi satu sama lain. Bukan malah meniru satu sama lain sehingga tak lagi berjalan di koridor fitrah masing-masing. Bahkan ada hadist dengan tegas melarang perempuan menyerupai laki-laki. Karena sesungguhnya, justru dengan meniru laki-laki lah jatuhnya martabat seorang perempuan.

Oleh: Rahmatul Husni

(zafaran/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk