Perempuan Idaman, Sukses Berkarya Membangun Peradaban

MuslimahZone.com – Sukses dan bahagia. Dua kata yang diidamkan setiap orang. Setiap orang ingin meraih kesuksesan dan kebahagiaan. Sayangnya, saat ini makna sukses telah makin sempit. Yaitu hanya sekadar pencapaian financial security. Hasilnya, seluruh perbuatan manusia menjadi berorientasi materi. Begitu pula dalam kehidupan mahasiswi muslim.

Mahasiswi muslim sibuk dengan kegiatan akademiknya, tenggelam dalam setumpuk laporan, berkutat dengan setumpuk diktat, dan berlomba-lomba meraih nilai tertinggi. Tujuannya hanya satu, yaitu, lulus cepat dengan nilai cum laude agar bisa bekerja di perusahaan besar dengan gaji yang tinggi.

Di sisi lain, setiap acara yang bernafaskan enterpreneur membludak peminatnya. Karena mereka berpikir, dengan menjadi enterpreuneur, maka mereka akan meraih kesuksesan. Maka, mahasiswi muslim pun mengalami disorientasi. Menuntut ilmu yang seharusnya bertujuan untuk beribadah, dilakukan semata-mata untuk meraih ridha Allah Swt, telah berbelok arah hanya untuk meraih materi.

Mereka lupa, bahwa Allah Swt adalah Maha Penentu standar sukses dan bahagia. Bahwa, sukses dan bahagia yang hakiki tak sebatas aspek pencapaian materi. Kesuksesan dan kebahagiaan sejati adalah yang mampu menembus batas dunia, yaitu kehidupan akhirat.

Tentu sangat disayangkan, jika potensi mahasiswi nan terpelajar ini hanya untuk perubahan semu. Punya potensi tapi tidak mempunyai peran politik nyata untuk kebaikan umat. Sebabnya, yang mempunyai politik nyata adalah kaum kapitalis borjuis-para liberalis yang telah menyebabkan perempuan lelah bekerja, untuk sebuah fatamorgana. Label the agent of change yang bahkan bukan mustahil menjadi label umum bagi sosoknya, tidak lagi terintegrasi dengan potensi dan semangatnya sebagai para calon ibu.

Dengan segala gemerlap dan prestisius-nya hidup, benarkah sukses dan bahagia pasti menghampiri? Karena itu kawan, mari coba kita perhatikan. Sudah sejauh mana peran kita untuk mengukir prestasi tak hanya sekedar di atas tumpukan kertas skripsi, tesis maupun disertasi? Pernahkah kita sedih, galau, gundah gulana tak karuan, lebih besar untuk memikirkan urusan masyarakat luas dibandingkan ketika dosen belum menjawab SMS kita?

Jika kita masih belum peduli dan sadar, maka bersegeralah. Memang benar, abad milenium adalah abad modern di mana perempuan berpendidikan tinggi bukan sesuatu yang langka. Bukan lagi rahasia bahwa kapasitas berpikir para perempuan telah diperhitungkan dalam peradaban dunia. Kini, insan terdidik dan berpendidikan sungguh telah menjadi sektor vital. Namun cukupkah?

Perempuan sebagai kaum terpelajar yang seharusnya bisa berkiprah dan berkontribusi dalam kemashlahatan umat, tanpa sadar nyatanya telah menjadi komprador para pembuat kebijakan imperialistik. Atau jika tidak terkategori komprador, mereka telah masuk jebakan yang lain, yaitu individualisme. Karena keterpelajarannya hanya digunakan secara pribadi, atas nama prestasi dan prestise semata, serta perut sendiri.

Ada satu pertanyaan yang patut direnungkan: “Siapa kita, jika tidak dengan Islam?” Mari tengok kondisi perempuan pada masa lalu sebelum Islam datang. Perempuan adalah barang yang diperjual-belikan, diwarisi tapi tidak mewarisi, dimiliki tapi tidak bisa memiliki apapun. Perempuan dijual untuk dilacurkan bahkan tidak diberi hak hidup, dibunuh sesaat setelah lahir. Sampai Islam datang mengubah kondisi mereka, dari posisi rendah menjadi tinggi dan bergengsi. Islam memberi mereka kehormatan sekaligus menjaga kehormatan tersebut. Karena itu, kaum Muslimah wajib bersyukur atas anugerah dan pemberian dari Rabbul ‘Izzati ini.

Sebagai bagian dari kaum muslimin, mari kita pahami bersama, bahwa hanya dengan penerapan syariat Islam-lah segala kemaslahatan masyarakat, termasuk perempuan terpelajar, akan terwujud. Di dalam hadits Rasulullah saw, beliau bersabda, “Sesungguhnya, perempuan adalah saudara kembar laki-laki”, ini mengindikasikan bahwa perempuan dan laki-laki berada di bawah aturan syari’ah yang sama, kecuali aturan untuk perbedaan kodratnya sebagai laki-laki dan perempuan. Berdasarkan pandangan ini kita bisa memahami rahasia peran perempuan di bawah penerapan syariat Islam dan kontribusi efektifnya dalam segala aspek kehidupan.Berikut peran perempuan ketika Islam diterapkan secara sempurna.

Kita bisa melihat Khadijah binti Khuwailid ra, perempuan Mukmin pertama setelah Rasul yang meyakini Islam dan mendukung beliau sejak masa kerasulan. Juga ada Sumayyah Ummu Ammar bin Yasir ra, seorang syahidah pertama dalam Islam. Ia syahid karena mengucapkan kalimat kebenaran di hadapan penguasa tiran. Potret perempuan sukses dan maju di masa lalu nampak pula sebagaimana Ummu Imarah ra dan Ummu Mani’ ra. Beliau berdua telah ikut serta dalam suatu peristiwa penting dalam Islam, yaitu Bai’at Aqabah kedua. Partisipasi mereka dalam peritiwa besar ini mengindikasikan peran penting perempuan di dalam kerja politik paling utama yaitu pendirian negara Islam pertama.

Demikian pula saat Rasulullah saw memberi kita contoh terbaik perihal meminta keputusan dan mengambil pendapat mereka. Beliau meminta keputusan Ummu Salamah ra setelah Perjanjian Hudaibiyah, dan ketika umat Islam lambat dalam menanggapi perintah beliau untuk melepas ihram.

Masih ada lagi Asma’a binti Yazid bin Al Sakan ra yang berjuluk juru bicara wanita, telah membunuh sembilan orang tentara Romawi dengan ujung tendanya di perang Yarmuk. Ada pula perempuan yang berpartisipasi dalam menyediakan makanan dan mengobati tentara yang terluka seperti Ummu Athiyyah ra dan Rufaidah Al-Aslamiyyah ra. Demikian halnya Al-Khansa ra, yang telah dimuliakan oleh Allah Swt sebagai ibu dari empat orang anak laki-laki yang syahid dalam bertempur di jalan Allah.

Tercatat pula kisah Al-Shifa’ ra, seorang perempuan yang diminta oleh Rasulullah saw untuk mengajarkan cara membaca dan menulis untuk para perempuan di kota Madinah. Juga Ummul Mukminin, Aisyah ra, sebagai salah satu intelektual muslimah yang mencapai derajat mujtahid, hingga menjadi rujukan pendapat (fatwa) dan para periwayat hadits.

Sesungguhnya hanya negara Khilafah Islamiyyah yang mampu menghadirkan sebuah model pemerintahan yang unik dalam menjamin hak-hak kaum perempuan. Khilafah-lah satu-satunya sistem yang akan membawa perbaikan yang nyata bagi kaum perempuan. Khilafah akan menjauhkan perempuan dari kemiskinan, eksploitasi, perendahan martabat dan ketidakadilan. Sebagai gantinya Khilafah akan memberikan kesejahteraan, keamanan, kehormatan dan keadilan bagi setiap perempuan di seluruh wilayah negara tanpa kecuali. Bukankah sistem ini yang dinanti-nanti oleh semua perempuan, muslim maupun non muslim?

Para perempuan yang berkiprah untuk perubahan dengan tidak menjadikan penerapan syariah Islam dalam Khilafah sebagai jalan dan target perubahan, maka mereka akan merasa lelah dan sia-sia karena perubahan hakiki nasib kalian tidak akan pernah terwujud. Hal ini sebagaimana firman Allah Swt dalam QS. Ar-Ra’du ayat 11: ”…Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.”

Kiprah perempuan Muslimah dalam upaya penegakan Khilafah ini telah disambut oleh Allah Swt dalam QS Ali ‘Imran [3] ayat 195: “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain…”.

Karena itu, selayaknya semua perempuan menolak semua sistem buatan manusia – juga sistem demokrasi liberal karena telah nyata cacat dan gagalnya dalam menjamin kebaikan bagi perempuan. Perjuangan untuk memperbaiki nasib kaum perempuan hanya akan menghasilkan kegagalan dan keputusasaan bila jalan yang ditempuh adalah perjuangan kesetaraan gender ala kaum feminis, juga meraih kursi-kursi parlemen dan kekuasaan. Bukan hanya itu, jalan ini juga bertentangan dengan syariat sehingga semua muslimah semestinya menolaknya. Hendaknya kita menjadi perempuan idaman yang diridhai Allah Swt. Yaitu mereka yang sukses berkarya membangun peradaban hakiki.

Nindira Aryudhani  S.Pi., M.Si

(fauziya/islampos/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk