Perbedaan Pendapat tentang Golongan yang Berhak Menerima Zakat Fithr

Oleh:

|

|

Muslimahzone.com – Zakat Fithr tentunya sudah selalu kita tunaikan setiap tahunnya. Harusnya setiap Muslim sudah terbiasa dan mengetahui siapa saja sasaran sesungguhnya yang wajib menerima zakat. Tapi setiap tahunnya selalu berulang, banyak zakat yang tidak ditunaikan pada yang berhak, apapun alasannya. Karena ketidaktahuan, mekanisme yang salah atau bahkan tradisi yang turun-temurun secara sistemik.

Apapun alasannya, marilah kita memahami kembali siapa saja mustahiq zakat itu.

Dalam pembagian zakat fithr, terdapat perbedaan di kalangan ulama tentang siapa saja yang berhak menerima. Ada tiga pendapat yang berbeda mengenai persoalan ini seperti dikutip dari suduthukum.com.

Pertama, Pendapat yang mewajibkan dibagikannya pada asnaf yang delapan secara merata. Pendapat ini berasal dari golongan Imam Syafi‟i, mereka berpendapat bahwa wajib menyerahkan zakat fithr kepada golongan yang tercantum dalam surat At Taubah ayat 60.

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ

Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, amil zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.

Kedua, Pendapat yang mengkhususkan kepada golongan fakir, namun memperkenankan memberikan zakat fithr kepada golongan delapan sebagaimana yang tercantum dalam surat At Taubah. Karena zakat fithr juga termasuk zakat, sehingga masuk pada keumuman zakat, yakni memberikan kepada asnaf delapan. Hal ini adalah pendapat jumhur ulama.

Ketiga, Pendapat yang mengkhususkan kepada golongan miskin saja. Bahwa zakat itu hanyalah diberikan kepada miskin saja. Pendapat yang mewajibkan pemberian zakat fithr dikhususkan kepada orang fakir saja, bukan kepada asnaf lainnya. Pendapat ini merupakan pendapat Imam Malik, salah satu pendapat dari Imam Ahmad, didukung oleh Ibnu Quyyim dan seorang gurunya, yaitu Qosim dan Abu Thalib. Pendapat mereka ini didasarkan pada hadits:

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata,

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri untuk mensucikan orang yang berpuasa dari bersenda gurau dan kata-kata keji, dan juga untuk memberi makan orang miskin. Barangsiapa yang menunaikannya sebelum shalat maka zakatnya diterima dan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat maka itu hanya dianggap sebagai sedekah di antara berbagai sedekah.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827)

Wallahu’alam.

(fauziya/muslimahzone.com)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *