Pekerjaanku Adalah Full-Time Ibu Rumah Tangga

MuslimahZone.com – Mengapa begitu banyak ibu meremehkan peran mereka sebagai ibu?

Penulis Inggris, George Orwell, mengatakan bahwa sepertinya masyarakat saat ini perlu meninjau ulang bahkan mendiskusikan kembali lebih dalam mengenai pentingnya peran ibu.

Mengapa masyarakat kita, masyarakat barat khususnya, dan banyak juga masyarakat timur, telah gagal dalam beberapa dekade terakhir untuk mengenali betapa pentingnya peran ibu? Mengapa begitu banyak ibu berjuang demi kebutuhan hidup lainnya padahal di saat bersamaan mereka harus membesarkan anak-anak mereka- tindakan yang jika dilakukan dengan benar, tidak diragukan lagi merupakan salah satu prestasi yang paling signifikan yang pernah ada yang bisa dicapai seseorang?

Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an, “Sesungguhnya bukanlah mata mereka yang buta, tetapi hati yang ada dalam dada mereka.” (22:46)

Bagaimana Perasaan Seorang Ibu?

Aku ingat ketika berkali-kali aku duduk di tempat tidur setelah menidurkan putri sulungku dan mengatakan kepada suamiku dengan berlinang air mata di pipi, “Aku benci karena merasa seperti ‘aku tidak melakukan apa-apa’.” Tidak melakukan apa-apa? Dia melihatku, agak bingung, dan berkata, “Tapi kau melakukan begitu banyak, Masya Allah.”

Namun, aku tidak bicara mengenai sejumlah cerita yang telah aku bacakan pada anakku atau sendok makanan bayi yang telah aku gunakan untuk menyuapi mereka. Aku bicara tentang kekosongan yang aku rasakan sebagai ibu full-time, aku merasa tidak mampu memenuhi area kehidupan dimana masyarakat telah mengajarkanku hal yang benar-benar berarti.

Aku telah memilih untuk tinggal di rumah dengan putriku – pilihan yang aku buat karena aku benar-benar merasa itu adalah hal terbaik baginya dan bagiku. Dalam pikiranku, aku tahu aku telah membuat keputusan yang tepat. Namun, dalam hatiku, aku terus mengalami perasaan-perasaan yang luar biasa yaitu kesedihan, malu, dan rasa bersalah.

Aku tidak mendapatkan gelar profesional, aku tidak mendapatkan gaji, dan aku tidak dalam segala macam posisi kepemimpinan dalam komunitasku, sehingga pada akhir hari aku bisa merasa bangga? Awalnya, aku pikir ini adalah masalah dalam diriku sendiri.

Namun, aku terkejut ketika menemukan ibu-ibu lainnya, mereka yang tinggal di rumah dan bahkan mereka yang kembali bekerja atau sekolah, berbagi perasaan yang sama. Seorang ibu muda berkata, hampir malu, ketika seseorang bertanya padanya apakah dia bekerja. “Oh, aku hanya seorang ibu”. Hanya seorang ibu? Saat itulah aku tahu ada sesuatu yang sangat salah — dan itu bukan hanya pada diriku.

Oleh karena itu, aku mulai mengevaluasi ke belakang dan bertanya pada diri sendiri, “Darimana semua perasaan ini berasal? Mengapa begitu banyak ibu meremehkan peran mereka sebagai ibu? Bagaimana mungkin masyarakat meyakinkanku dan begitu banyak orang lain yang menilai kita sebagai perempuan hanya dari kemampuan kita untuk bekerja di luar bidang selain membesarkan anak-anak kita? “

Aku mencari hatiku yang bermasalah, mendengarkan dari para ibu lain dan mulai membaca apa yang bisa aku lakukan untuk masalah ini. Yang terpenting, aku berdoa kepada Allah untuk petunjuk-Nya, karena aku tahu bahwa hanya Dia yang bisa memberikan kenyamanan yang dibutuhkan hatiku.

Kemudian, perlahan-lahan, seolah kain disingkirkan – dari kedua mata dan hatiku.

Apa yang tampaknya mendidih adalah ini: Semua manusia membutuhkan perasaan validasi — perasaan bahwa kita dihargai dan berkontribusi bagi siapapun, orang-orang di sekitar kita. Allah telah memberi kita cara yang tak terhitung jumlahnya untuk mengisi kebutuhan ini – mulai dari kontribusi keluarga, masyarakat dan bekerja, hanya untuk beberapa nama. Namun, di akhir masa 50 tahun, suatu tempat di antara industrialisasi dan gerakan hak-hak perempuan, kontribusi yang diberikan oleh seorang ibu untuk keluarganya mengambil kursi belakang bagi area lain kehidupan.

Tugas untuk membangun rumah bagi anak dan mengembangkan kemampuannya menjadi setara dengan “melakukan apa-apa” (Crittenden 2001). Aku menyadari bahwa aku telah dilatih oleh masyarakat untuk melihat tindakan seorang ibu, tindakan mulia ini yang memiliki manfaat kemanusiaan selama berabad-abad, sebagai sesuatu yang dianggap sepele. Dan yang harus aku lakukan dalam hal ini, sebagai tambahan, dan itu merupakan kepentingan nyata bagiku adalah bagaimana cara agar aku sukses dalam hal lain – pekerjaan, kehidupan profesional, dan keterlibatan masyarakat.

Mempertimbangkan Ulang Konsepsi

Pelatihan ulang memang tidak mudah, namun kemungkinan tetap ada, dan penelitian menunjukkan bahwa untuk sebagian besar masyarakat ini juga diperlukan. Karena tampaknya sesuatu tersembunyi di semua kebenaran politik yang mendikte percakapan kita tentang ibu (mereka yang memiliki pemikiran benar akan berani mengatakan bahwa wanita harus bangga merawat anak-anak mereka!). Kebenaran yang sederhana telah diamati: Bayi dan anak-anak membutuhkan cinta yang harus ibu mereka berikan. Mereka membutuhkannya sebanyak mereka membutuhkan makanan, olahraga dan sinar matahari. Ini bukan hanya baik bagi mereka, tapi sangat penting.

Hampir tidak ada hubungan lain yang lebih dekat dibandingkan hubungan yang dimiliki oleh anak dengan ibu mereka. Sebuah “Figur Ibu” mungkin dapat menggantikan seorang ibu, selama orang ini (yang memiliki figur ibu), mencintai, peduli, memelihara anak dan mengembangkan dirinya dalam diri anak sebagai seorang ibu. Sayangnya, figur seperti pengganti ibu ini sudah tidak tersedia bagi sebagian besar keluarga.

Hubungan ibu-anak, lebih dari yang lain, mengajarkan anak-anak tentang kasih sayang, empati, dan cinta yang membuat kita menjadi seorang manusia. Tanpa itu, kita semua menderita. Memang, psikolog telah mulai mendokumentasikan baru-baru ini dampak negatif yang diakibatkan karena kurangnya pengasuhan ini di masyarakat barat. Penelitian yang tersedia tentang masalah ini sangat luas, dan aku tidak bisa merangkum semua di sini. Selain itu, aku bahkan tidak dalam posisi untuk mencoba.

Satu laporan terbaru yang memberikan kita contoh betapa pentingnya peran ibu yaitu:

Pengalaman timbal balik dan saling menguntungkan dalam hubungan antara bayi dan ibu mereka atau figur ibu  bukanlah kemewahan; yang sangat penting untuk perkembangan otaknya secara utuh, karena mereka membangun jalur untuk belajar dan kesehatan adalah pengalaman di awal kehidupan yang mengaktifkan ekspresi gen dan mengakibatkan pembentukan jalur dan proses kritis. Miliaran neuron di otak harus dirangsang untuk membentuk jalur penginderaan yang mempengaruhi belajar, perilaku seseorang, dan proses biologis yang mempengaruhi kesehatan fisik dan mental. (Seperti dikutip di Cook 2009)

Oleh karena itu, akhir dari cerita ini sebenarnya hanyalah permulaan: aku perlahan-lahan melatih kembali diriku sendiri, meskipun mungkin masyarakat memberitahuku, melihat bahwa aku tetaplah seorang wanita yang baik, tetap seorang wanita yang sukses meskipun menjadi ibu bagi anak-anakku.

Aku melatih diri untuk melihat bahwa seorang ibu bukanlah suatu pekerjaan yang menindas yang mengharuskanku selalu pergi ke orang lain. Hal ini, pada kenyataannya, pekerjaan yang sangat terpuji untuk setiap wanita yang memilih itu, dan harus dirayakan seperti halnya peran lain yang kita ambil dalam hidup.

Aku melatih diriku untuk melihat bahwa aku mungkin kembali bekerja atau sekolah ketika aku merasa waktunya tepat, meskipun ketika aku tidak melakukannya, itu tidak mengambil nilaiku sebagai manusia.

Aku juga melatih diriku untuk melihat cobaan dan penderitaan yang aku hadapi sebagai seorang ibu bukan sebagai usaha sia-sia, tetapi sebagai peluang yang akan digunakan untuk mendapatkan balasan pahala dan mendekatkan diri kepada Allah.

Dan tidak lupa, aku tentunya beralih ke Alquran dan Sunnah, kompas dan panduanku, yang berisi ayat-ayat yang tak terhitung jumlahnya dan hadits tentang pentingnya ibu, dan kemudian berdoa agar hatiku selalu melihat kebenaran yang akan selalu ada di sana.

Berdasarkan kisah nyata.

Oleh: Marwa Abdalla, Freelance Writer- USA (onislam.net)

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk