Pasanganmu Pakaianmu

Muslimahzone.com – Allah berfirman dalam Al Quran, “Istri kalian adalah pakaian kalian dan kalian adalah pakaian bagi istri kalian.” (QS. Al Baqarah: 187)

Saya lama memikirkan ayat ini. Sungguh dalam makna setiap firmanNya. Tak ada manusia yang mampu menyingkap kedalamannya. Sebab Al Quran adalah lautan dan mustahil ada yang mampu menguras kekayaannya. Maka silakan masing-masing mengambil jatah darinya. Penyelam mengambil mutiara, nelayan mengambil ikan, petani mencari rumput laut, ada pula di antara mereka yang sibuk mencari peninggalan yang terkubur bahkan harta karun, namun ada pula yang merasa cukup dengan melihat pemandangan indah di tepi pantai kala senja sambil menatap matahari yang tenggelam perlahan.

Allah mengumpamakan pasangan suami-istri sebagai pakaian. Dan Allah selalu tepat memilih kata, pakaian atau libas dalam ayat ini –menukil ucapan ahli tafsir- adalah apapun yang dipakai manusia secara umum. Ia termasuk topi, alas kaki, kerudung dan lainnya. Berbeda dengan kata tsaub misalnya, yang lebih identik dengan busana atau baju saja.

Dari ayat ini – dan makna terdalamnya hanya Allah jualah yang mengetahui – saya menyimpulkan beberapa derajat dari fungsi pakaian yang mudah-mudahan dapat menjadi acuan penentu kelas kita sebagai pasangan.

“Engkau adalah pakaian bagi pasanganmu.”

Dan minimal fungsi pakaian adalah penutup aurat, menutup aib. Maka pasangan yang baik akan  menutupi kekurangan pasangannya.

Jika engkau selama ini adalah orang yang selalu menceritakan keburukan pasangan atau hal-hal yang tabu untuk diceritakan kepada orang lain artinya engkau bahkan belum lulus dari melaksanakan fungsi pakaian yang paling dasar. Sebab, jangankan terhadap pasangan, terhadap semua hamba Allah bahkan yang tdak kita kenal sekalipun kita diperintahkan menutup rapat-rapat aib mereka dan jangan sampai membuka-bukanya. Dengarkan sabda baginda Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam:

“Barang siapa yang membuka aib orang lain, Allah akan membuka aibnya aibnya meski dari dalam kamarnya.” (HR. Ibnu Majah)

Hak pasangan begitu besar sebab kita dan dia disatukan dengan ikatan dari Allah. Bagaimana mungkin kita membuka-buka aibnya kepada orang lain? Dan dengan maraknya budaya media sosial yang dengan mudah diakses pada zaman sekarang ini, banyak orang yang kehilangan kontrol diri terhadap hal yang semacam ini. Ketika saya membuka laman facebook, twitter, status bbm, dan lainnya, banyak sekali saya dapati curhatan yang lebih mirip pembukaan aib terhadap pasangannya. Hal ini tentu sangat menyedihkan sekali. Mari kita saling menutupi aib dari pasangan kita. Sebab pasangan adalah pakaian. Bukankah jika pakaianmu robek, engkau juga yang akan malu. Bagaimana mungkin engkau sendiri tega merobek pakaianmu?

“Engkau adalah pakaian bagi  pasanganmu.”

Fungsi pakaian yang berikutnya adalah menambal kekurangan. Kalau orang gemuk berpakaian gelap, lebih terlihat langsing. Kalau kurus, jangan berpakaian motif garis memanjang, dll. Ada tata cara berpakaian yang diketahui oleh ahlinya, namun tentu jelas bahwa dengan berpakaian, kekurangan kita tertutupi. Maka pasangan yang baik akan menjadi pelengkap bagi pasangannya. Karenanya – hikmah dari Allah subhanahu wata’ala – orang cerewet biasanya berpasangan dengan orang yang pendiam, orang yang boros berpasangan dengan yang hemat,  dan si pemalas berpasangan dengan si rajin dan seterusnya, adalah agar keduanya menjadi lengkap, berada di jalan tengah.

Maka, melihat kekurangan pasanganmu di satu sisi, jangan membuatmu fokus hanya pada hal tersebut. Cobalah perhatikan dengan lebih seksama. Engkau akan mendapati bahwa ada kekuranganmu yang diharapkan tertambal dengan kelebihan pasanganmu di sisi yang lain. Jadilah pasangan yang melengkapi. Keacuhan pasanganmu akan tertular dengan perhatian yang kau miliki. Sebaliknya kepedulianmu bahkan kepada hal-hal kecil, hingga membuatmu tanpa sadar tersiksa dengannya, diharapkan dapat berkurang dengan keacuhannya. Borosmu menjadi berkurang dengan sifat hematnya, dan hematnya diharap dapat berkurang dengan royalmu dan seterusnya. Ketika tsebagai pasangan engkau malah membiarkan bahkan mencaci tak henti apa yang kau anggap sebagai kekurangan dari pasanganmu, berarti engkau telah menjadi pakaian yang tidak sesuai, seperti seorang laki-laki yang memakai kaos bola untuk pergi shalat Jumat. Itus len tidak sesuai. Atau memakai jas lengkap dengan dasinya padahal hendak pergi tidur. Sangat tidak sesuai bukan?

“Engkau adalah pakaian bagi pasanganmu.”

Fungsi pakaian yang berikutnya adalah memberikan kenyamanan. Pakaian berbahan wool di musim dingin akan menghangatkan, dan pakaian berbahan katun atau sutra nyaman dipakai di musim panas. Daster adem atau kaos tipis nyaman dipakai untuk tidur. Begitulah, ‘pakaian’ yang baik akan membuat nyaman pasangannya.

Kala pasangannya berbicara ia mendengarkan, dan saat butuh dorongan ia menguatkan, saat sedih  ia menghibur, saat sedih ia menghibur, saat bahagia ia turut serta. Itu adalah pakaian yang menyamankan. Saat dibutuhkan dia ada, dan saat pasangannya ingin sendiri ia menjauh. Kenyamanan inilah yang Allah sebut dalam Al Quran sebagai fungsi pernikahan. “Agar kalian merasa nyaman dengannya.” (QS. Ar Rum: 21)

Hubungan rumah tangga yang di dalamnya tak lagi ditemui kenyamanan adalah neraka, suami yang tak lagi bisa bercerita apa-apa kepada istrinya, karena tahu bahwa istrinya tak dapat memberi solusi bahkan tak mau sekedar menjadi pendengar yang baik. Istri yang tak lagi nyaman kala bersama suaminya karena menganggap suaminya tidak memahami dirinya. Atau rumah tangga yang salah satu pihak merasa lebih tinggi dari yang lain. Misalnya suami yang merasa dia harus dimuliakan  karena dia pemimpin belaka. Atau istri yang karena penghasilannya lebih tinggi dari suaminya sehingga merasa tak lagi perlu menghormati suaminya.  Atau sebaliknya, pasangan yang merasa lebih rendah dari yang lain. Suami yang minder karena penghasilannya tidak sebesar istri  misalnya atau istri yang merasa dia hanya bisa melayani suaminya selayak pembantu belaka. Rumah tangga yang timpang seperti ini akan terasa hambar dan bukan itu tujuan sebuah pernikahan. Kebersamaan yang hanya sebatas ruang bahkan ranjang tanpa berbagi hati adalah rumah tangga yang sedang menuju kehancuran.

Jadilah pakaian yang menyamankan. Pelajari dari pasanganmu apa yang membuatnya nyaman. Laki-laki memerlukan pujian sementara perempuan pada umumnya menyukai perhatian. Berikan itu sebagai makanan lain yang perlu disantap oleh jiwanya.

“Engkau adalah pakaian bagi pasanganmu.”

Fungsi terakhir dari pakaian adalah memuliakan. Seorang ulama identik dengan surban, bahkan imamah. Tentara tampak lebih mulia dengan pakaia beserta atributnya. Pakaian pada tingkatan tertentu memuliakan seseorang. Pasangan jika telah mampu menjadikan pasangannya lebih mulia, berarti telah melaksanakan fungsinya dengan sempurna.

Memuliakan yang saya maksud di sini adalah secara dunia dan akhirat. Memiliki istri yang suaranya kasar dan selalu mengumpat akan membuat suami malu di hadapan kawan-kawannya. Pun sebaliknya seorang suami yang menghardik istrinya di depan anak-anaknya tentu akan membuat wibawa ibu tersebut jatuh di hadapan mereka.i

Maka, silahkan berkaca dengan fungsi ini adakah suamimu atau istrimu menjadi lebih mulia di mata manusia bahkan di mata Allah sesudah menikah denganmu atau sebaliknya?

Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam menjadi lebih dipandang sesudah menikah dengan Khadijah, dan Khadijah tentu saja menjadi Sayyidah Khadijah, Ummul Mukminin, ibu bagi semua orang beriman, karena pilihannya menikah dengan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam.

Maka pada akhirnya…

“Engkau adalah pakaian bagi pasanganmu.”          

Sudahkah engkau menjalankan fungsi pakaian dengan sebaik-baiknya bagi pasanganmu?

Semoga…

Oleh: Ustadzah Halimah Alaydrus

Diambil dari buku Muhasabah Cinta karya Ustadzah Halimah Alaydrus

(esqiel/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
MHTI Kembali Menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara (KIN)
Miris, Pasca Gempuran ke Aleppo Jokowi Malah Tanda Tangan Kerjasama dengan Iran
Keutamaan Ilmu
Tata Cara Mandi Haid dan Mandi Junub
Peran besar muslimah dalam dakwah Islam
Aroma Mewangi Minyak Kasturi
Neraka Jahannam Sepanjang Hidup, Surga Sepanjang Hidup
Rizki di Tangan Allah
Pada Suatu Titik
Mencari Jalan Pulang
Jodoh : Memilih Atau Dipilih ?
Ketika Istri Merasa Tidak Bisa Membahagiakan Suami
Pastikan Izin Suami Jika Ingin Menjalankan Shaum Sunnah
Satu-satunya Cinta yang Perlu Ada dalam Pernikahan bahkan dalam Kehidupan
Kenapa Anakku Susah Banget Sih Disuruh Sholat?
Aku Peduli Iman Anakku
Anak Sukses Bermula dari Bangun Pagi
Jangan Sia-Siakan “Masa SMA”
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Raditya Dika tak lagi Jenaka, Awkarin Malah jadi fenomena: Generasi Islam Mau Kemana?
Kisah Si Kaya dan Si Miskin (Pemilik Dua Kebun: Surat Al-Kahfi 32-44)
Gubernur Al-Hajjaj dan Pelajaran untuk Penguasa Durja
Nilai Ketaatan Isteri pada Suami
Nenek Penjaga Wahyu Al-Qur’an
Cara Mengatasi Anak Susah Makan
Asam Lambung Naik, Coba Obat Alami Ini
Popok Bayi Sekali Pakai VS Popok Kain
Bolehkah Ibu Hamil Makan Nangka?
Tips Merebus Telur yang Baik
Tips Meningkatkan Minat Membaca Buku
7 Tips Menyapih Anak
Tips Menyimpan Daging Kurban dengan Baik dan Sehat
Tips Merebus Telur yang Baik
Resep Aneka Olahan Singkong
Nikmatnya Pangsit Kuah Hangat Buatan Sendiri
Eksperimen Dapur : Kue Ketan Isi Mangga