Nutrisi 1000 Hari Pertama Kehidupan

Muslimahzone.com – Kualitas nutrisi dan kesehatan ibu dan anak sejak masa pra kehamilan, masa kehamilan, dan masa menyusui adalah sangat kritis. Siklus 1000 hari dimulai sejak masa kehamilan selama 9 bulan (270 hari) hingga masa kehidupan pertama bayi selama 2 tahun (730 hari). Mengapa 1000 hari pertama ini sangatlah menentukan kualitas kehidupannya di masa mendatang? Di dalam kandungan, janin akan tumbuh dan berkembang melalui pertambahan berat dan panjang badan, perkembangan otak serta organ-organ lainnya seperti jantung, hati, dan ginjal. Pada saat dilahirkan, sebagian besar perubahan tersebut menetap atau selesai, kecuali beberapa fungsi, yaitu perkembangan otak dan imunitas, yang berlanjut sampai beberapa tahun pertama kehidupan bayi. Oleh karenanya kekurangan nutrisi sejak dalam kandungan dan periode awal kehidupannya akan berdampak pada tumbuh kembangnya dalam jangka waktu yang panjang. Dampak tersebut diantaranya adalah tidak optimalnya perkembangan sel otak dan organ tubuh lainnya. Sehingga di kemudian hari anak akan tumbuh menjadi anak yang stunting, kemampuan kognitif yang lemah serta beresiko terkena penyakit tidak menular seperti anemia, hipertensi, diabetes dan lain-lain.

Banyak yang berpendapat bahwa ukuran fisik, termasuk tubuh pendek, gemuk dan beberapa penyakit tertentu khususnya Penyakit Tidak Menular (PTM) disebabkan oleh faktor genetik. Dengan demikian ada anggapan tidak banyak yang dapat dilakukan untuk memperbaiki atau mengubahnya. Namun berbagai bukti ilmiah dari banyak penelitian oleh lembaga riset gizi dan kesehatan di dunia telah mengubah paradigma tersebut. Menurut WHO (1997) tubuh pendek, gemuk, PTM dan beberapa indikator kualitas hidup lainnya, faktor penyebab terpenting adalah lingkungan hidup sejak konsepsi sampai anak usia 2 tahun yang dapat dirubah dan diperbaiki.

Masalah kekurangan nutrisi sejak 1000 hari pertama kehidupan ini jika dijabarkan dalam sebuah siklus adalah: kurang gizi pada masa pra-hamil dan hamil akan berdampak pada lahirnya anak yang BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah), anak BBLR jika tidak tercukupi nutrisinya maka akan mengalami sejumlah gangguan pertumbuhan. Jika anak tersebut seorang wanita, maka di kemudian hari ia akan tumbuh menjadi remaja yang kurang menurut berat badan dan tinggi badannya. Sehingga kelak jika anak tersebut hamil maka ia berpeluang untuk melahirkan anak yang BBLR kembali. Malnutrisi pada ibu hamil jika tidak ditangani secara baik selain beresiko terhadap lahirnya bayi yang BBLR juga dapat berdampak : melemahkan fisik, membahayakan jiwa ibu, bahkan dapat mengancam keselamatan janin.

Lalu langkah-langkah apa saja yang dapat kita lakukan untuk memenuhi nutrisi 1000 hari pertama kehidupan ini?

Pada masa pra kehamilan

  1. Berusaha mencapai dan mempertahankan berat badan yang ideal
  2. Mengkonsumsi makanan yang cukup dan seimbang
  3. Mengkonsumsi makanan sumber asam folat dan suplemen asam folat selama 3 bulan prakehamilan
  4. Olahraga teratur
  5. Menghindari rokok, kafein dan minuman beralkohol

Pada masa kehamilan

  1. Memenuhi asupan kalori yang cukup untuk mendukung peningkatan berat badannya dengan pola makan yang seimbang. Ibu hamil tidak dianjurkan untuk mencoba menurunkan berat badan atau menghindari peningkatan berat badan yang normal. Kalaupun berat badan meningkat terlampau cepat, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga medis dan tidak menanganinya sendiri.
  2. Meningkatkan asupan zat besi. Pada ibu hamil kebutuhan zat besi meningkat sebesar 200-300% untuk pembentukan plasenta dan sel darah merah. Untuk memenuhinya dapat diasup baik dari makanan maupun dari suplemen (karena kebutuhan sebesar ini sulit dicapai hanya dari asupan makanan saja). Sumber zat Besi contohnya daging, ayam, ikan, sayuran hijau, serealia tumbuk, kacang-kacangan, hati sapi.
  3.  Meningkatkan asupan asam folat. Asam folat ini berperan dalam pembentukan sistem saraf dan sel-sel. Jika asupannya kurang memadai dapat menimbulkan kelainan bawaan pada bayi seperti: anenchepaly (lahir tanpa batok kepala), spina bifida (tulang belakang tidak tersambung), anemia makrositik, dan lain-lain. Untuk memenuhinya dapat diasup baik dari sumber makanan dan suplemen. Sumber Asam folat contohnya sayuran hijau, daging tanpa lemak, biji-bijian, kacang tanah, jeruk.
  4. Meningkatkan asupan Kalsium. Kalsium berperan dalam pembentukan gigi, tulang, hati, saraf dan otot pada bayi. Sumber utama Kalsium adalah susu dan olahannya seperti : whole milk, skimmed milk, yoghurt, keju, serta beberapa bahan makanan nabati dalam sayuran hijau tua.
  5. Meningkatkan asupan Vitamin D. Vitamin D berperan dalam meningkatkan penyerapan Kalsium dalam tubuh, mengurangi resiko infeksi selama kehamilan, dan mengurangi gejalapreeclampsia. Sumber vitamin D contohnya kuning telur, susu dan olahannya, mentega.
  6. Memenuhi kebutuhan Yodium. Kekurangan Yodium selama hamil mengakibatkan janin menderita hipotiroidisme yang selanjutnya dapat berkembang menjadi kretinisme di kemudian hari. Sumber Yodium contohnya makanan laut seperti ikan, udang, kerang.
  7.  Menghindari rokok, kafein dan minuman beralkohol
  8. Cukup istirahat dan menjaga perasaan gembira

Pada masa kehidupan pertama bayi

  1. Lakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini) segera setelah melahirkan serta upayakan bayi mendapatkan kolostrum (ASI yang pertama kali keluar dan berwarna jernih kekuningan).
  2. Berikan hanya ASI eksklusif selama 6 bulan pertama keidupan bayi.
  3. Setelah bayi berusia 6 bulan berikan MP-ASI (Makanan Pendamping ASI). Pada usia ini alat pencernaan bayi sudah lebih matang untuk mencerna makanan non-ASI. Bahan makanan yang digunakan untuk membuat MP-ASI ini hendaknya merupakan bahan makanan yang biasa dimakan dalam keluarga yang dibuat sesuai dengan kemampuan mengunyah dan menelan bayi. dalam pembuatannya sebaiknya hindari penambahan gula dan garam < 1 tahun. MP-ASI yang ideal adalah yang mengandung: (1) makanan pokok (2) sayuran dan kacang-kacangan, (3) lauk nabati, (4) lauk hewani, (5) buah-buahan. Pada awal pengenalannya hendaknya bayi dikenalkan pada makanan tunggal agar ia mengenal rasa asli dari makanan tersebut dan untuk memudahkan evaluasi jika muncul gejala alergi, secara bertahap berikan secara majemuk dengan menyampurkan sejumlah bahan makanan.

 Oleh : Yuli Mardianti, S.Gz

Sumber: kesehatanmuslim.com

(zafaran/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
MHTI Kembali Menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara (KIN)
Menutup Aurat Hanya Musiman
Polemik Zakat Profesi Bulanan
Perbedaan Pendapat tentang Golongan yang Berhak Menerima Zakat Fithr
Ketika Mubahalah Telah Dipilih Sebagai Jalan Keluar
Muslimah pun Wajib Menuntut Ilmu
Aurat Wanita
Ketika Tiga Kekuatan Menyatu di Bulan Ramadhan
Ada Keindahan Dibalik Ujian
Adakah Rumah Tangga Ideal?
Kesederhanaan dalam Resepsi Pernikahan
Jodoh : Memilih Atau Dipilih ?
Ketika Istri Merasa Tidak Bisa Membahagiakan Suami
“Jangan Bikin Mama atau Ayah Marah ya !”
Nak, Silaturrahim Tak Hanya Saat Lebaran
Kunci Agar Anak Gemar Beribadah
Kunci Anak Agar Remaja Anda Jauh dari Kenakalan
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Abdurrahman bin Auf ‘Manusia Bertangan Emas’
Hindari Fitnah Wanita, Istri Shalihah Gantinya
Halal Buat Kami, Haram Buat Tuan…
Kisah Si Kaya dan Si Miskin (Pemilik Dua Kebun: Surat Al-Kahfi 32-44)
Dibalik Ketenaran Blewah di Bulan Ramadhan
Tetap Sehat Berpuasa Ketika Hamil
Cara Mengatasi Anak Susah Makan
Asam Lambung Naik, Coba Obat Alami Ini
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Tips Merebus Telur yang Baik
Tips Meningkatkan Minat Membaca Buku
7 Tips Menyapih Anak
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk
Renyah dan Gurihnya Kue Garpu
Menu Sahur : Pepes Tahu Teri Pedas