No Sex Before Married

Muslimahzone.com – Saya ingat pendidikan seks pertama yang saya terima disekolah dahulu saya dapatkan ketika saya duduk dibangku SMP. Kala itu, teman-teman saya sudah banyak yang mengalami peristiwa menstruasi pertama. Maklum, saya baru duduk dibangku kelas dua SMP ketika itu. Saya sendiri belum. Meski begitu, informasi seputar menstruasi pertama sudah banyak saya dengar. Di masa inipula getar-getar cinta monyet mulai berseliweran dikalangan teman-teman saya. Jadi, jangan heran jika ada tiga empat anak perempuan yang terlihat curi-curi pandang melihat ke arah anak laki-laki yang menurut mereka cukup menarik. Begitu juga sebaliknya. Hanya saja, karena masih bunga cinta monyet tersebut masih kuntum pertama, maka jika teman-teman lain sampai mengetahui siapa secret admire seseorang, maka ledekan pun terlontar. Jatuh cinta pada seseorang adalah sesuatu yang memalukan kala itu. Jadi, wajar jika banyak teman-teman yang pada akhirnya lebih senang menyukai seseorang secara diam-diam saja.

Tapi bukan berarti semua orang hanya memendam cinta dalam hati saja. Ada juga beberapa teman yang lebih berani melakukan tindakan diluar kebiasaan. Sebut saja namanya Sinta dan Rama. Sinta teman satu kelas dengan saya. Tubuhnya lebih terlihat sudah “jadi” untuk ukuran seorang wanita dewasa ketimbang tubuh saya yang kurus lurus dan masih seperti tubuh anak SD kelas lima atau enam. Perilaku Shinta juga demikian. Dia terlihat jauh lebih dewasa ketimbang teman-temannya yang lain. Sebagai ilustrasi, ketika teman-teman masih malu mengenakan make up, maka Sinta senantiasa mengenakan make up jika datang ke acara-acara sekolah yang diselenggarakan diluar jam pelajaran sekolah. Renang, basket, karate, dll. Rok sekolahnya pun ketat dan pendek lengkap dengan gaya jalannya yang senantiasa meliuk-liuk. Tak terhitung anak laki-laki yang rajin memelototi Sinta jika dia sedang berjalan dan Sinta tidak pernah merasa keberatan atas hal ini. Bahkan menurut saya dia menikmatinya. Sampai beredar rumour bahwa Sinta sudah berpacaran dengan anak kelas tiga, Rama. DI SMP saya, ada peraturan dari sekolah yang melarang siswa-siswanya untuk berpacaran di sekolah. Jadi, ketika rumour ini beredar, Sinta dengan keras membantahnya. Hingga suatu hari, ketika seorang guru menangkap basah mereka sedang berciuman di dalam kamar mandi sekolah. Kontan Sinta dan Rama diberi sanksi keras oleh sekolah. Pipi mereka ditampar. Lalu, mereka berdua pun diberi sanksi skorsing oleh sekolah. Peristiwa ini ramai dibicarakan oleh banyak orang disekolah. Tapi toh Sinta dan Rama tetap melanjutkan sekolahnya hingga tamat disekolah saya itu. Peristiwa ini rupanya membuat sekolah berpikir betapa pentingnya sebuah pendidikan seks bagi para siswa-siswinya. Untuk itulah dilakukan kerjasama dengan sebuah lembaga swadaya masyarakat yang memang concern dengan masalah ini. Disinilah untuk pertama kalinya saya mendapatkan pendidikan tentang seks.

Pada suatu hari seluruh anak-anak perempuan dikumpulkan diaula oleh kepala sekolah guna mengikuti sebuah penyuluhan tentang pendidikan seks tersebut. Penyuluhan dimulai dengan peristiwa biologis yang dialami oleh seluruh wanita dimuka bumi ini, yaitu proses terjadinya menstruasi. Lalu peristiwa apa saja yang mengikuti peristiwa menstruasi itu, seperti tumbuhnya bulu-bulu halus dan tumbuh serta berkembangnya bagian-bagian tubuh tertentu lainnya. Setelah itu, di sessi berikutnya, dibahas tentang mulai munculnya getar-getar cinta didalam diri pada lawan jenis dan kelak akan muncullah keinginan untuk melakukan perilaku seksual tertentu.

Kemudian, mulailah diuraikan apa yang akan dilakukan oleh sepasang laki-laki dan perempuan hingga bisa berakibat hamilnya seorang perempuan karena apa yang dilakukan tersebut. Disinilah klimaks acara tersebut. Ada sebuah anjuran untuk menjauhi perbuatan seks bebas karena bisa berakibat terjadinya kehamilan yang tidak dikehendaki dan lebih dari itu bisa mengakibatkan tertularnya berbagai macam penyakit kelamin karena berbeda dengan perempuan yang bisa diketahui bahwa dia pernah melakukan hubungan seks atau belum, maka laki-laki tidak akan pernah bisa diketahui sudah pernah atau belum atau malah sering melakukannya.

Dipenghujung acara, LSM mulai membagi-bagikan dua cindera mata dari para sponsor. Yang pertama adalah tampon. Pembalut jenis selongsong yang cara pemakaiannya dimasukkan ke dalam vagina ini dan lengkap diajarkan cara pemakaiannya oleh penyuluh. Cindera mata yang kedua, dibagikan selebaran yang berisi pentingnya memakai kondom. Ya. Kondom. Kalau dipikir sekarang (diusia ade anita yang sudah kepala tiga dan sudah berumah tangga), tidak masuk akal banget anak SMP diberi penyuluhan cara pemakaian kondom yang benar. Tapi itu nyata dan inilah antiklimaks dari penyuluhan pendidikan seks disekolah tersebut. Penyuluh meng-amini bahwa keinginan untuk melakukan hubungan seks adalah sesuatu yang wajar dan amat manusiawi dimiliki oleh seseorang. Untuk itu, agar tidak terjadi kehamilan yang tidak diinginkan dan juga agar tidak tertular penyakit kelamin (waktu itu belum dikenal HIV-AIDS) maka gunakanlah kondom (astaghfirullah).

Saya ingat sekali, si mbak penyuluh tersebut dengan bangga memberitahu bahwa jika suaminya pergi ke luar kota, sebagai seorang istri yang bertanggung-jawab terhadap kesehatan dan keselamatan keluarganya, dan sebagai rasa cinta dan sayangnya pada si suami, maka dia senantiasa menyelipkan sekotak kondom di dalam saku suaminya. Seorang istri yang suaminya sering keluar kota dan tidak memberi bekal kondom pada suaminya, oleh si mbak penyuluh dicap sebagai seorang istri yang tidak sayang pada kesehatan dan keselamatan keluarganya pun diberi cap sebagai seorang istri yang egois dan tidak care pada suaminya.

Saya sendiri, karena secara fisik masih culun kayak anak SD dan secara kelakuan juga masih seminus anak SD, isi penyuluhan tersebut hanya terpendam ke alam bawah sadar saya saja. Barulah ketika duduk dibangku kuliah. Ingatan tentang isi penyuluhan tersebut muncul ke permukaan. Satu persatu pengetahuan yang saya miliki menolak isi pesan dari penyuluhan tersebut. Dan ketika akhirnya saya menikah, penolakan itupun semakin kuat dengan mulai melakukan penyuluhan tidak resmi pada sanak saudara dan teman-teman sekitar saya yang isinya berlainan dengan pesan yang disampaikan oleh mbak penyuluh dahulu. Saya menolak pemakaian tampon pada anak perempuan yang belum menikah. Saya juga menolak pentingnya kondom sebagai jalan keluar dari tertularnya penyakit kelamin, apalagi kondom sebagai sesuatu yang “must have” oleh mereka yang ingin tugas luar kota.

Tapi rupanya sistematika penyuluhan pendidikan seks seperti yang saya alami ketika SMP tersebut masih tetap serupa modelnya hingga sekarang. Disaat penyakit kelamin biasa sudah kalah pamor oleh virus mematikan HIV-AIDS. Saya tidak habis berpikir, setelah penyakit kelamin justru berkembang lebih dasyat lagi, mengapa program kondomisasi masih juga didengung-dengungkan? BUkankah penyakit kelamin itu diturunkan Allah SWT sebagai peringatan bagi para pelaku seks bebas dan pezina? Lalu ketika peringatan Tuhan dengan penyakit kelamin sudah menjadi basi ditelinga manusia, maka diturunkan lagi virus HIV-AIDS sebagai peringatan bagi para pelaku seks bebas dan pemakai narkoba, mengapa program pentingnya kondom tetap dianggap perlu?

Bagi saya, pesan yang penting disampaikan dalam semua pendidikan seks adalah dua hal, yang pertama jauhi seks bebas dan narkotika. Yang kedua, no sex before married. Apakah sulit menyuluhkan kedua pesan tersebut? Jawabnya mungkin. Karena, kebanyakan yang memberi penyuluhan tersebut adalah LSM yang notabene dibiayai oleh Negara barat yang memang menganut paham seks bebas dan paham “sex safe”. Adakah diantara kalian yang bersedia bekerja tanpa sponsor dan honor untuk mendengungkan pentingnya menjauhi seks bebas, narkoba dan mulai melakukan no seks before married? Jika ada, ayo bergerak. Karena Allah akan membantu kalian dan honornya nanti insya Allah diakherat berupa pahala.

penulis: Ade Anita

sumber: kafemuslimah

(zafaran/muslimahzone.com)

Komentar Anda

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Menikah Muda Why Not ?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Anak-anak dan Membaca
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Wanita Muslimah yang Tangguh
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Tips Kecantikan ala Aisyah Istri Nabi
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk