Merasakan Kebahagiaan yang Sesungguhnya

Muslimahzone.com – Kebahagiaan itu bukanlah istana Abdul Malik ibn Marwan, bukan pula pasukan Harun Ar-Rasyid, bukan rumah mewah Al-Jashshash, bukan harta simpanan Qarun, bukan yang ada di buku Asy Syifa’ karya Ibn Sina, bukan pula dalam koleksi syair (diwan) Al-Mutanabbi, dan bukan di taman-taman Cordoba, atau kebun-kebun bunga lainnya.

Kebahagiaan itu, menurut para sahabat, adalah sesuatu yang tidak banyak menyibukkan, kehidupan yang sangat sederhana, dan penghasilan yang pas-pasan.

Kebahagiaan itu menurut Ibnul Musayyib adalah pemahamannya terhadap Rabb-nya, menurut Al-Bukhari Shahih-nya, menurut Al-Hasan Al-Bashriy kejujurannya, menurut Asy-Syafi’iy hukum-hukum yang disimpulkannya, menurut Malik kehati-hatiannya, menurut Ahmad ibn Hanbal sikap wara’-nya, dan menurut Tsabit Al-Bunani ibadahnya.

“Yang demikian itu ialah mereka tidak ditimpa kehausan, kepayanan dan kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskan bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal salih.” (QS. At-Taubah: 120)

Kebahagiaan itu tidak terletak pada cek yang dicairkan, tidak pada kendaraan yang dibeli, bukan pada wangi bunga yang semerbak, bukan pada gandum yang ditumbuk, dan bukan pula pada kain yang dibentangkan.

Kebahagiaan itu adalah keriangan hati, karena kebenaran yang dihayatinya. Kebahagiaan adalah kelapangan dada, karena prinsip yang menjadi pedoman hidup. Juga, kebahagiaan adalah ketenangan hati, karena kebaikan di sekelilingnya.

Anggapan kita, ketika telah berhasil memperluas rumah, ketika bisa memperbanyak barang, dan ketika berhasil menumpuk semua perabotan dan apa saja yang kita senangi, kita akan bahagia, senang, dan gembira. Semua itu justru menjadi sebab jiwa resah, tertekan dan hanya menambah masalah. Karena bagaimanapun, segala sesuatu akan membawa keresahan, kesuntukan, dan ‘pajak yang harus dibayar’ untuk mendapatkannya.

“Dan, janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya.” (QS. Thaha: 131)

Seorang reformis terbesar, Rasulullah ﷺ, ternyata pernah hidup dalam kefakiran, sering membolak-balikkan tubuhnya di tempat tidur karena kelaparan. Di saat seperti itu, tak sebiji kurma pun yang bisa ia temukan untuk menahan rasa laparnya. Meski begitu, ia bisa hidup bahagia, tak banyak tekanan, dan damai. Tapi, hanya Allah lah yang tahu kebenaran semua itu.

“Dan, Kami telah menghilangkan daripadamu beban yang memberatkan punggungmu.” (QS. Al-Insyirah: 2-3)

“Dan, adalah karunia Allah atasmu sangat besar.” (An-Nisa: 113)

“Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan.” (QS. Al-An’am: 124)

Dalam sebuah hadits sahih disebutkan: “Kebaikan itu adalah akhlak yang baik, sedangkan dosa adalah apa yang terbesit di dalam dadamu, dan engkau tidak suka orang lain tahu hal itu.”

Dan, kebaikan adalah kelegaan di hati dan ketenangan di jiwa. Ada seorang penyair mengatakan, “Kebaikan itu jauh lebih lestari walaupun zaman telah berlalu lama, tapi dosa adalah sejelek-jelek bekal yang engkau simpan.”

Dalam hadits yang lain disebutkan: “Kabaikan itu mendatangkan ketenangan, sedangkan dosa menimbulkan kecurigaan.”

Terus terang, orang yang berbuat baik akan selalu tenang, sedangkan yang curiga akan selalu sibuk ingin tahu apa yang terjadi, apa yang terdetik di dalam hati orang, benda apa saja yang bergerak, dan segalanya.

“Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan ditujukan kepada mereka.” (QS. Al-Munafiqun: 4)

Mengapa? Karena mereka berbuat tidak baik. Adalah kenyataan bahwa orang yang berbuat tidak baik akan selalu resah, pikirannya ruwet, dan tidak pernah tenang karena takut.

Jika perbuatan orang itu buruk, maka buruk pulalah prasangkanya, dan yang biasanya dia anggap sebagai khayalan adalah benar.

Berbuat baik dan menjauhi segala keburukan adalah jalan bagi yang menginginkan kebahagiaan, untuk bisa tetap berada dalam rasa aman.

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), maka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)

Seorang penunggang kuda menghela kudanya dengan kencang hingga debu beterbangan di atas kepalanya. Ia hanya ingin melihat Sa’ad ibn Abi Waqqash yang saat itu sedang mendirikan kemahnya di tengah-tengan padang pasir, jauh dari hingar bingar, dan jauh dari perhatian orang-orang. Di dalam kemah itu ia sendiri, jauh dari keluarganya, hanya ditemani beberapa ekor kambing. Si penunggang kuda itu pun mendekati kemah. Ternyata ia adalah anaknya, Umar. Si anak itu pun kemudian menghiba kepada bapaknya, “Ayahanda, orang-orang sedang berebut kekuasaan, tapi engkau malah menggembalakan kambing.”

Sa’ad, si ayah, menjawab, “Aku berlindung kepada Allah dari keburukan dirimu. Sesungguhnya, aku lebih berhak memegang jabatan khalifah daripada aku hidup dengan selendang yang menggantung di tubuh ini. Namun aku pernah mendengar Rasulullah (ﷺ) besabda, “Sesungguhnya Allah sangat menyenangi seorang hamba yang kaya, yang takwa, dan yang tidak menonjolkan diri.”

Kemurnian kualitas agama seorang muslim jauh lebih agung daripada kerajaan Kaisar Romawi maupun Kisra Persia. Agamalah yang akan selalu bersamanya hingga nanti di surga. Tapi kekuasaan dan kedudukan, akan sirna.

“Sesungguhnya, Kami mewarisi bumi dan semua orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada Kamilah mereka dikembalikan.” (QS. Maryam: 40)

Dikutip dari buku La Tahzan, Jangan Bersedih! edisi bahasa Indonesia, karya Dr. ‘Aidh bin ‘Abdullah Al-Qarni.

(fatima/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk