Menjadikan Belajar Sebagai Kebutuhan Anak

Muslimahzone.com – Terampil membaca pada usia 4 tahun karena ada motivasi yang kuat dalam diri anak, adalah hal yang luar biasa hebat. Tetapi terampil membaca di usia yang sama semata karena dilatih oleh gurunya di TK ataupun orangtua di rumah, adalah musibah besar yang keburukannya akan terlihat ketika usianya memasuki 10 atau 14 tahun.

There is no education but self-education, kata Charlotte Mason, seorang guru asal Inggris era Victoria. Pendidikan sejati selalu bersifat swadaya dari diri si pembelajar (swa-pendidikan). Semua pengajaran tidak akan berdampak apa-apa sampai ada kegiatan mental yang terjadi dalam diri anak. Sampai ada relasi persahabatan yang intim antara anak dengan ilmu yang sedang ia pelajari. Apa yang bukan swa-pendidikan hanya akan menjadi ornamen-ornamen hiasan yang tidak mengubah diri anak.  Tidak akan tinggal sebagai bagian vital dari dirinya.

Ini sama seperti hafalan. Kita berharap anak-anak kita hafal sekian surat-surat Al Quran dan hadist-hadits yang mulia. Tetapi banyaknya hafalan tidak menjadi penanda bercahayanya jiwa mereka oleh ayat suci. Kita memang perlu merangsang kekuatan hafalan anak-anak kita, tetapi hafalan bukanlah orientasi pendidikan Islam. Bukan itu tujuan akhir kita mendidik anak-anak kita. Mereka toh bukan hendak kita jadikan MP3 murattal, yang begitu kita pencet keluar lantunan ayat suci.

Lantas apa yang harus kita tumbuhkan pertama-tama? Dalam Segenggam Iman Anak Kita, Ustadz Mohammad Fauzil Adhim menasihati kita tentang betapa yang harus pertama kali ditanamkan pada diri anak adalah perasaan dan sikap positif mereka terhadap belajar. Sikap mental yang positif inilah yang harus dibangun sejak dini, terutama pada rentang usia 4-8 tahun. Bukan kecakapan akademik, semisal calistung (baca, tulis, hitung). Usia 7 tahun belum lancar membaca tidak masalah asalkan ia sudah memiliki sikap belajar yang baik dan kokoh.

Besarnya rasa cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya akan membangkitkan hasrat yang kuat untuk belajar dan menghafal, tetapi banyaknya hafalan tidak dengan sendirinya menjadikan anak memiliki kecintaan kepada agama. Kita sering terkesima dengan kemampuan Imam Syafi’i yang hafal Al Quran di usia 7 tahun, tapi kita lupa tentang sikap mental seperti apa yang menjadi kekuatan sang Imam hingga sebrilian dan setekun itu? Dan bagaimana orangtua dan lingkungan sekelilingnya menumbuhkan sikap mental seperti itu dalam diri anak?

Karena jika cara kita menggembleng mereka -untuk belajar akademik dan juga menghafal- tidak tepat, justru yang terjadi bisa sebaliknya. Besarnya tekanan untuk menghafal dan belajar membuat mereka mengalami kebosanan belajar justru di saat mereka memasuki usia emas untuk mengingat, memahami, dan mengkaji.

Bagaimana Sikap Positif Terhadap Belajar Dibangun?

Sikap positif itu kita tumbuhkan dengan memberi pengalaman belajar yang menyenangkan, membangun kedekatan emosi dengan anak, menciptakan kondisi belajar yang positif sebelum dan selama anak belajar, dan menunjukkan manfaat belajar. Selain itu, menularkan antusiasme terhadap ilmu, memberi apresiasi terhadap belajar melalui ucapan-ucapan kita yang terencana maupun spontan, serta menjadikan diri kita sebagai contoh.

Hal lain yang yang juga perlu kita perhatikan adalah perasaan bahwa anak memiliki kompetensi (kemampuan) yang layak diandalkan. Secara alamiah, anak akan memiliki antusiasme (hasrat) belajar dan percaya diri yang baik. Secara alamiah pula, anak-anak akan menunjukkan kelebihan mereka dan meminta pengakuan dari kita. Ini terutama terjadi semenjak anak usia 2 tahun.

Meskipun kerap memperoleh tanggapan negatif dari orangtua, percaya diri anak serta perasaan bahwa dirinya memiliki kompetensi cenderung masih kuat sampai anak usia 6 tahun.  Tetapi jika di usia ini masih sering memperoleh komentar negatif, anak akan kehilangan percaya diri dan merasa bahwa dirinya tidak memiliki kelebihan apapun.

Kebiasaan buruk orangtua dan guru yang gemar memberikan label buruk ketika mereka gagal atau berbuat salah, suka membanding-bandingkan dan tidak memberikan apresiasi (penghargaan) yang memadai-lah yang membuat kepercayaan diri anak layu. Meskipun tujuan membandingkan dan memberikan komentar bernada kurang puas tersebut semata untuk membuat anak terpacu berprestasi lebih baik lagi.

Alhasil, jika kita ingin menjadikan belajar sebagai kebutuhan anak, dua hal inilah yang perlu kita bangun: sikap positif terhadap belajar dan keyakinan bahwa mereka memiliki kompetensi. Selebihnya, kita perlu menumbuhkan harga diri mereka. Wallahu’alam.

Sumber:

  1. Segenggam Iman Anak Kita, M. Fauzil Adhim (Pro-U Media, 2013)
  2. Cinta Yang Berpikir, Sebuah Manual Pendidikan Karakter Charlotte Mason, Ellen Kristi (Ein Institute, 2013)

(esqiel/muslimahzone.com)

Komentar Anda

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Menikah Muda Why Not ?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Anak-anak dan Membaca
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Wanita Muslimah yang Tangguh
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Tips Kecantikan ala Aisyah Istri Nabi
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk