Menggapai Hati yang Selamat

Muslimahzone.com – Hati bisa hidup dan bisa mati, hati yang hidup pun bisa sehat dan bisa mengandung penyakit. Hati yang sehat adalah hati yang selamat, barangsiapa  -pada hari kiamat nanti- datang kepada Allah tanpa membawa hati yang sehat, akan celaka. Allah berfirman, “Adalah hari yang mana harta dan anak-anak tidak bermanfaat, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’ara: 88-89)

Hati dinyatakan sehat, apabila;

  • Kerinduannya kepada khidmah seperti kerinduan seorang yang lapar kepada makanan dan minuman. Yahya bin Mu’adz berkata, “Barangsiapa senang untuk berkhidmah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, segala sesuatu akan senang untuk berkhidmah kepadanya. Barangsiapa tentram dan sejuk hatinya lantaran (taat kepada) Allah ‘Azza wa Jalla, tentram dan sejuk hati pulalah semua yang memandangnya.”
  •  Si empunya hati yang sehat hanya memiliki satu keinginan; taat kepada Allah “Azza wa Jalla.
  • Sangat bakhil kepada waktu. Menyesal jika waktu terbuang sia-sia. Kebakhilannya terhadap waktu, melebihi kebakhilan manusia terkikir terhadap hartanya.
  • Jika telah masuk waktu shalat lenyaplah segala harapan dan kesedihannya terhadap dunia. Ia mendapatkan kelapangan, kenikmatan, penyejuk mata dan penyejuk jiwa di dalam shalat itu.
  • Tidak pernah letih untuk berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tidak pernah bosan untuk berkhidmah kepadaNya dan tidak bersikap manis kecuali kepada orang yang menunjukkan jalan kebenaran atau mengingatkannya akan Rabbnya.
  • Perhatiannya untuk membenarkan amalan (membuat suatu amal dilakukan secara benar), melebihi perhatiannya untuk beramal. Sehingga ia akan berusaha untuk ikhlas, loyal, ittiba’ dan ihsan di dalamnya. Bersamaan dengan itu ia menyaksikan betapa banyak anugerah yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepadanya dan ia tetap menyadari betapa ia telah banyak melalaikan hak-hakNya.

Mengenal Nutrisi dan Racun hati

Untuk menggapai hati yang sehat, si empunya harus mengetahui apa saja penyebab sehat dan sakitnya hati. Hati seperti tubuh yang membutuhkan makanan dan minuman. Jika pemiliknya memberinya makanan yang kaya nutrisi maka hati akan menjadi sehat, sebaliknya jika yang dikonsumsi hati adalah makanan yang beracun ia akan sakit. Kehidupan hati bergerak antara sehat dan sakit namun bisa pula mati. Hati yang sehat membuat si empunya bahagia dunia akhirat, sedangkan hati yang sakit menjadi beban derita.

Seluruh ketaatan adalah mutlak bagi hidupnya hati. Ia ibarat makanan segar yang kaya nutrisi dan sarat enzim. Sementara segala jenis kemaksiatan seperti makanan beracun yang merusak hati. Penyebab sakit dan kehancurannya, memalingkan iradahnya dari iradah Allah, dan (jika terus menerus dilakukan) menambah parah penyakitnya.

Ketaatan-ketaatan yang sangat urgen bagi sehatnya hati diantaranya,

  • Dzikrullah; dzikir bagi hati ibarat air bagi ikan. Apa jadinya bila ikan dikeluarkan dari air? Demikian Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata. Dzikir yang paling utama adalah membaca kitabNya. Allah berfirman, “Wahai manusia, telah datang kepada kalian suatu pelajaram dan obat bagi apa-apa yang ada di dalam dada.” (QS. Yunus: 57).
  • Istighfar; memohon maghfirah kepada Allah. Maghfirah adalah penjagaan dari akibat buruk dosa dan penutupan atasnya. Allah berfirman, “Dan mintalah maghfirah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 199). Hasan Al Bashri rahimahullah bertutur, “Perbanyaklah istighfar di rumah-rumah, di meja-meja makan, di jalan-jalan, di pasar-pasar, di majlis-majlis kalian, dan dimanapun kalian berada. Sesungguhnya kalian tidak mengetahui kapan maghfirah itu datang!”
  • Doa;  Allah memerintahkan kita untuk berdoa dan Dia beranji untuk mengabulkannya, dan mencela siapa yang meninggalkannya dengan celaan yang keras, dan menggolongkannya sebagai orang sombong. Allah berfirman, “Berdoalah kepadaKu, niscaya Kukabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombog (enggan) beribadah kepadaKu akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan terhina.” (QS. Al Mukmin: 60. Doa itu pasti dikabulkan, jika syarat-syaratnya terpenuhi. Abu Sa’id Al Khudriy meriwayatkan, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Setiap muslim yang memohon –selain suatu dosa dan pemutusan hubungan silaturahmi- pasti Allah akan memberi salah satu dari tiga hal; doanya dikabulkan dengan segera, atau doanya disimpan untuk di akhirat, atau lantaran doa tersebut ia dijauhkan dari mara bahaya sebesar kebaikan yang ia pinta.” (HR. Imam Ahmad, Al Bazzar, Abu Ya’la, dan At Tirmidzi dalam Ad Da’awat IX/923. Ia berkata; hasan gharib). Umar bin Khattab radhiallahu’anhu berujar, “Aku tidak memikirkan terkabulnya doa, tetapi aku memikirkan doa itu sendiri. Barangsiapa diilhamkan kepadanya untuk berdoa, maka pengabulannya ada bersamanya.”
  • Bershalawat atas Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam; dari Anas bin Malik bahwa Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa mendengar namaku disebut, hendaknya ia bershalawat atasku. Barangsiapa bershalawat atasku sekali, Allah akan bershalawat atasnya sepuluh kali. Dalam riwayat lain disebutkan, “Barangsiapa bershalawat atasku sekali, Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali, dihapuskan darinya sepuluh kejahatan,  dan diangkatlah ia sepuluh derajat.” (Hadist shahih riwayat Ibnu As-Sunniy, ‘Amalul yawm walLaylah no. 382)
  • Qiyamul Layl; Allah berfirman, “Dan (‘ibadurahman itu adalah) orang-orang yang melalui malam dalam keadaan sujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (QS. Al Furqan: 64).  Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam bersabda, “Setan membuat tiga ikatan pada tengkuk salah seorang dari kalian ketika ia tidur. Ia pukulkan pada tiap tempat ikatan itu ucapan, “malam masih panjang, tidur lagi sajalah!” Jika ia bangun lalu berdzikir kepada Allah, lepaslah satu ikatan. Jika dilanjutkan dengan berwudhu, terurailah ikatan yang kedua. Dan jika dia shalat lepaslah ikatan yang ketiga. Maka pagi harinya pun ia bersemangat dan baik kondisi jiwanya. Sebaliknya jika tidak, ia pun jadi malas dan buruk kondisi jiwanya.”

Adapun makanan yang buruk dan menjadi racun bagi hati, ada empat macam yang paling banyak tersebar dan paling berbahaya bagi kehidupan hati;

  • Banyak bicara; Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Bencana lisan yang paling sedikit mudharatnya adalah berbicara tentang sesuatu yang tidak berfaidah, Rasul Shalallahu’alaihi wa Sallam bersabda, “Merupakan kebaikan keislaman seseorang jika ia meninggalkan sesuatu yang tidak berfaidah baginya.” (HR. At Tirmidzi)
  • Banyak makan; sedikit makan dapat melembutkan hati, menguatkan daya pikir, membuka diri, serta melemahkan hawa nafsu dan sifat marah. Sedangkan banyak makan akan mengakibatkan kebalikannya. Miqdam bin Ma’d Yakrib berkata, “Aku mendengar Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Tidak ada bencana yang diisi oleh anak Adam yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika tidak bisa, maka sepertiga dari perutnya hendaknya diisi untuk makannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga untuk nafasnya.”  
  • Berlebihan dalam bergaul; ini adalah penyakit berbahaya yang mengakibatkan banyak keburukan. Ia dapat menghilangkan nikmat dan menebarkan permusuhan. Ada empat kelompok manusia yang kita bergaul dengannya; kelompok pertama seperti makanan bergizi yang mutlak kita butuhkan bergaul dengan mereka, mereka adalah para ulama dan ahli ma’rifatullah yang mengerti perintah-perintahNya, mengerti tipu daya musuh-musuhNya, dan memiliki  ilmu tentang penyakit-penyakit hati serta obatnya. Kelompok kedua adalah kelompok yang dibutuhkan di kala sakit, selama kita sehat, tidak memerlukan pergaulan dengan mereka. Mereka adalah para profesional dalam urusan muamalah dan bisnis, dan yang semisalnya. Kelompok ketiga adalah penyakit, ada yang ganas dan ada yang ringan. Pembicaraan mereka tidak baik dan tidak bermanfaat untuk kita, tidak tahu siapa dirinya sehingga tidak mampu menempatkan pada tempatnya, dan tidak bisa diam untuk mengambil manfaat dari kita. Jika ia diam, maka itu lebih berat daripada sebongkah batu. Kelompok terakhir ibarat racun yang menyebabkan kebinasaan total. Mereka adalah ahli bid’ah dan kesesatan, penghalang sunnah dan menyeru untuk menyelisihinya, menjadikan sunnah sebagai bid’ah dan sebaliknya.
  • Banyak memandang; membiarkan pandangan lepas adalah kemaksiatan kepada Allah, karena firmanNya, “Katakanlah kepada orang-orang yang beriman agar mereka menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan mereka. Yang demikian itu lebih suci dari mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. An Nur: 30). Rasulullah Shalallahu’alaihi wa Sallam bersabda, “Pandangan itu adalah panah beracun iblis. Barangsiapa menundukkan pandangannya karena Allah ‘Azza wa Jalla, dia akan berikan kepadanya kenikmatan dalam hatinya yang akan ia rasakan sampai bertemu denganNya.” (HR. Ath Thabarani). Barangsiapa menundukkan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah, niscaya Allah akan mencemerlangkan cahaya bashirahnya. Seorang shalih berkata, “Barangsiapa mengisi lahirnya dengan mengikuti sunnah, mengisi batinnya dengan selalu bermuraqabah, menjaga  pandangannya dari hal-hal yang diharamkan, menjaga dirinya dari syubhat dan hanya memakan yang halal, firasatnya tidak akan keliru.” Wallahua’lam.

 Diringkas dari buku Tazkiyatun Nafs bab Hati; Ibnu Rajab Al Hambali, Ibnu Qayim Al Jauziyyah, dan Imam Al Ghazali, Pustaka Arafah, Solo: 2007.

 (esqiel/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Tips Kecantikan ala Aisyah Istri Nabi
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk