Mengatasi Emosi Negatif Orangtua pada Anak

Muslimahzone.com –  Pernah merasakan atau mendengar perkataan orangtua seperti ini:

“Abah kenapa ya saya belum bisa menahan emosi saya terhadap anak-anak? Kadang saya mau berusaha menahan emosi saya terhadap anak-anak saya. Tapi gagal. Saya sedih dan sudah faham anak-anak saya masih belajar bukan orang dewasa. “

Apa sih yang membuat orangtua jadi sering emosian pada anak?

Yang membuat kita sering emosi pada anak ada dua sebab besar diantara banyak sebab: pertama, ada masalah dengan kejiwaan kita dan kedua, masalah kompetensi orangtua yang minim tentang anak.

Jika karena masalah kejiwaan, yang biasanya muncul akibat trauma masa lalu saat orangtua ini jadi anak-anak, cara mengatasinya adalah dengan terapi kesehatan jiwa. Datangi psikolog, psikiater, meningkatkan spiritualitas diri dan lain-lain.

Namun demikian, ternyata hasil pengamatan saya, kebanyakan orangtua emosian pada anak bukanlah karena sebab pertama: karena ada masalah dengan emosi atau jiwa orangtua itu, tapi lebih karena sebab yang kedua: kurangnya kompetensi orangtua menghadapi perilaku anak.

Kurangnya kompetensi orangtua menghadapi perilaku anak terbagi lagi menjadi dua bagian: pertama, kurangnya atau bahkan gagal pemahaman memahami anak. Contoh kasus tentang ini misalnya diajukan orangtua seperti berikut pada saya:

“Abah saya jengkel pada anak saya yang pertama. Kenapa ya kalau teman-temannya datang kok anak saya lebih memilih bermain dengan temannya daripada dengan adiknya? Sampai sewaktu adiknya mau ikut, kakaknya menyingkirkan adiknya sampai menangis? Bagaimana ya Abah agar anak saya lebih menyayangi adiknya?”

Karena kurang memahami bagaimana anak tumbuh berkembang, akibatnya seperti kejadian di atas: menyangka dengan kejadian tersebut si kakak tidak menyayangi adik.

Menuduh si kakak gara-gara kejadian ini “tidak sayang adik” berlebihan rasanya. Buktinya di waktu atau kondisi lainnya si kakak mau kok main sama adik, benar kan? Tak jarang pula sebagian kakak ini bahkan menjadi pembela si adik jika si adik disakiti temannya.

Jika saya jadi orangtua ini, saya akan ambil si adik lalu katakan “adik, tak boleh ikut kakak ya nak! Biar kakak main dengan teman-temannya.” Mau maksa kek adiknya, tetap tidak bisa.

Lho kok bisa? Iya, itu namanya menjaga “izzah” si kakak. Boleh kan si kakak sesekali punya “privasi” dengan sesekali tidak main dengan adik?

Saya tidak usah jelaskan panjang lebar tentang ini. Biar jelas saya berikan contoh saja agar lebih gampang difahami penjelasannya.

Anda seorang ibu. Lagi ngerujak mangga di siang hari yang panas dengan teman-teman arisan Anda. Tentu sesama perempuan. Anda tengah asyik menikmati dan bercengkrama, tiba-tiba suami Anda nimbrung di tempat Itu. Apa yang Anda rasakan?

Jika sekadar dikenalkan “ini suami saya” wajar-wajar saja. Tapi jika suami Anda dengan inisiatifnya sendiri ikutan duduk-duduk disitu apa yang Anda rasakan? Saya tidak tahu jawaban Anda. Tapi ketika saya tanyakan ini kepada ribuan perempuan yang saya tanya jawaban mereka adalah “gak nyamanlah!”, “risihlah”.

Lalu wajar tidak jika kemudian suami Anda malah mengatakan. “Kenapa? Nggak sukaaku ikutan? Kok kamu malah milih temani teman-teman kamu sih, sementara aku dari tadi dicuekkin?”

“Gubrak” nggak tuh?

Wajar kan, kadang Anda ingin berkumpul sesekali dengan teman dan tidak didampingi suami Anda?

Apa bedanya dengan anak kita kalau begitu?

Tak sedikit orangtua kecewa pada anak bukan karena anaknya mengecewakan tapi karena gagal memahami anak itu sendiri. Kasus yang sama yang sering saya temui diantara yang lain adalah tentang kekecewaan orangtua perihal anak malas belajar, anak tidak mandiri, anak tidak bertanggung jawab, masalah kreativitas anak, mendifinisikan keberanian dan kepintaran anak.

Gagal atau kurang memahami akan menyebabkan peluang lebih besar untuk orangtua gagal atau kurang secara tepat memperlakukan anak.

Kurangnya kompetensi orangtua yang kedua adalah soal keterampilan orangtua menghadapi tingkah laku anak yang tidak sesuai seperti: berantem, suka memukul, menendang dan perbuatan menyakiti lainnya.

Juga dalam menghadapi anak yang lelet, anak yang malas melakukan rutinitas harian (mandi, sikat gigi, tidur, bangun, makan, dll), anak yang sering rewel dan ngamuk, anak yang tukang jajan dan konsumtif, anak yang berlebihan main game, playstation, nonton televisi dan anak yang sering membantah orangtua.

Apa yang dilakukan orangtua yang tidak terampil untuk menghadapi perilaku yang tidak sesuai seperti tadi? MENGANDALKAN SENJATA KATA-KATA (banyak bicara).

Terlalu banyak bicara pada saat anak berbuat buruk umumnya akan membuat orangtua jadi banyak emosi. Percayalah. Dalam kadar parah, biasanya jika sudah banyak emosi dapat memancing kekerasan orangtua pada anak. Jadi jika dirunut tahapnya adalah: BANYAK BICARA – BANYAK EMOSI- MEMANCING KEKERASAN.

Mengapa terjadi? Begini ceritanya. Pada saat anak berperilaku tidak sesuai, biasanya orangtua perasaannya positif atau negatif? Negatif kan? Jika negatif, berarti orangtua kecewa pada anak. Pada saat kecewa menyebabkan orangtua mengeluarkan “serangan” pada anak. Pada saat anak “diserang” anak pun tegang.

Pada saat tegang, otak anak melakukan pertahanan diri, otak mereka mengkerut, saling merapat, membuat barisan pertahanan. Akibatnya? Jangankan nasihat, jangankan anak, kita saja orang dewasa, pada saat anak berbuat buruk makan pun tidak enak. Jangankan nasihat, makanan aja tidak masuk kan?

Karena nasihat dan kata-kata orangtua  tidak masuk, menyebabkan orangtua jadi jengkel kesel pada anak. Jika berulang, inilah yang menyebabkan emosian pada anak. Pernah dengar kalimat semacam ini di rumah: “Kenapa sih gak dengerin! Harus  berapa kali sih ayah/ibu bilang?!”

Tak jarang pula, pada tingkat yang parah emosian pada anak berpeluang untuk memancing kekerasan orangtua pada anak.

Inilah biang kerok kekerasan yang sebenarnya, selain warisan masa lalu. Kompetensi yang kurang memancing kekerasan orangtua pada anak.

Tanyalah pada orangtua yang melakukan kekerasan pada anak: apakah mereka meyayangi anak mereka? Tentu saja iya. Apakah mereka nyaman dan ingin terus-terusan menyakiti anak? Tentu saja tidak! “Bahkan saya juga dari dulu tahu teorinya: memukul anak itu tidak bagus!”

Tapi mengapa mereka masih melakukannya? Karena tidak tahu bagaimana lagi caranya? Alias tidak tahu cara lain.

Jadi apa solusinya? Tingkatkan kompetensi Anda. Belajar lah untuk meningkatkan kompetensi Anda. Insya Allah ada perbedaan. Meski tidak langsung merubah perilaku, tapi saya berani menjamin ada perbedaan orangtua yang sering belajar dengan yang tidak.

Ketika Anda belajar, Anda akan menemukan ternyata ada banyak cara untuk mengatasi perilaku anak yang tidak sesuai selain dengan mengandalkan kata-kata dan kekerasan. Seperti apa?

Terlalu panjang saya jelaskan, buku tentang tema ini saja sudah saya tulis ratusan halaman. Silahkan baca buku saya kelima yang soal disiplin anak. Di pelatihan saya jelaskan seharian dari pagi sampai maghrib!

Masih kurang? Gabung di komunitas yuk-jadi orangtua shalih untuk sharing. Masih kurang? Saya persilahkan alumni telepon saya via telepon tiap rabu-kamis (sementara ini) untuk saya bimbing langsung.

Masih kurang juga? Undang saya ke rumah! Semoga yang terakhir ini tidak Anda lakukan. Bayangkan jika 50 ribu alumni pelatihan saya minta dikunjungi ke rumah, sepertinya umur saya di dunia tidak akan mencukup untuk menjangkau semuanya.

Jadi, siapa mau ikut belajar?

Oleh:
Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Fasilitator Pelatihan Orangtua di 25 Propinsi 80 kota di Indonesia dan 7 Negara
Penulis buku-buku best seller parenting
www.auladi.net
 
(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk