Mengatasi Anak yang Suka Ngeyel dan Membantah

Muslimahzone.com – Mungkin ada dari para ibu yang memiliki anak yang jika diberitahu suka ‘ngeyel’ dan membantah. Setiap hari akhirnya sang ibu diuji kesabarannya dalam menahan marah. Bahkan mungkin ada yang hingga stress menghadapi tingkah laku anak tersebut.

Contohnya ketika anak sedang asyik bermain sepeda, ibunya menyuruhnya mandi. Namun sang anak tidak mau malah terus saja melanjutkan main sepedanya. Atau dalam kasus lain saat diminta orangtua makan, merapikan kamar, merapikan mainan, atau bahkan berangkat sekolah, anak selalu membantah.

Lalu bagaimana mengatasinya, berikut jawaban dari Ayah Edy:

Ayah­ Bunda yang selalu ingin belajar, pertama, bersyukurlah pada Tuhan karena dianugerahi seorang anak calon pemimpin untuk kita asuh.

Dengan ber­syukur, kita bisa kuat dan punya ke­sabaran yang lebih tinggi untuk men­didik calon pemimpin kecil kita itu. Tahukah kita bahwa dibalik sifatnya yang tidak mau diatur itu, ia berpotensi menjadi seorang pengatur alias seorang pemimpin.

Ya saya ulangi sekali lagi, tahukah Bunda, dibalik sifatnya yang tidak mau diatur itu, menunjukkan bahwa kelak ia akan tampil sebagai seorang “PENGATUR” alias seorang pemimpin. Coba deh lihat para Pengatur atau atasan kita mana ada yang gampang diatur, rata-rata mereka adalah orang yang keras dan susah diatur.

Kedua, anak membangkang atau membantah pada umumnya karena adanya perbedaan pendapat antara anak dengan orangtua.

Orangtua yang memiliki kecenderungan otoriter dan ingin selalu mengatur, jika kebetulan anak kita tipe penurut alias bukan pemimpin maka hal itu mudah saja, tapi ketika berhadapan dengan anak yang bertipe pemimpin—yang tidak mau begitu saja menerima pendapat atau mau dipaksa—akan sering terjadi perdebatan. Namun setiap hal ini terjadi “seolah-­olah” penyebabnya hanyalah anak kita. Kita orang tua tidak pernah merasa bersalah dengan cara kita mendidik seorang calon pemimpin kecil.

Padahal sesungguhnya, dengan adanya anak yang membantah, para orangtua bisa mengevaluasi aturan main dan pola komunikasi yang dibangun; apakah sudah sesuai dengan masing­-masing tipe anak sehingga proses perdebatan antara orangtua dan ­anak dapat dikurangi untuk bisa mendapatkan jalan keluar terbaik.

Jadi, dari pada selalu menyalahkan anak kita, akan jauh lebih baik jika kita belajar untuk mendidik calon pemimpin kecil kita di rumah.

Bagaimana caranya?

Pertama, didik­lah ia untuk menjadi anak yang kooperatif dan bukannya menjadi seorang yang penurut.

Mengapa? Coba Anda pikirkan kalau anak kita menjadi penurut, apa pekerjaan di kantor yang diisi oleh seorang penurut?

“Tolong rapikan ini,” “Baik, Pak ….”

“Tolong belikan itu ….” “Baik, Pak ….”

Sudah jelas, kan? anak kita akan menjadi pekerja yang selalu dimintai tolong dan bukan pengambil keputusan.

Lantas apa bedanya Penurut dengan Kooperatif..?

Kalau kooperatif, seorang anak mau melakukan apa yang di­minta orangtuanya karena tahu alasan logisnya. Sedangkan penurut, anak melakukan sesuatu tanpa tahu alasannya, ia menurut saja tanpa berpikir dan menggunakan logikanya.

Nah jadi jangan kaget jika banyak orang Indonesia yang mau saja menuruti orang lain untuk berbuat tidak baik, membenci orang lain, bahkan sampai membunuh orang lain atas perintah orang lain tanpa alasan yang logis. atau contoh lain banyak orang kita yang dengan mudahnya terpengaruh oleh isi status di facebook yang isinya padahal hanya menebar kebencian tanpa dasar logika.

Kedua, biasakan menawarkan beberapa pilihan atau opsi padanya. Misalnya, “Kamu mau mandi sekarang atau lima menit lagi? Oke kita sepakat ya … sepuluh menit lagi dari sekarang.

Jika tiba waktunya kamu belum mandi juga, besok kamu mau uang jajan dikurangi atau tidak boleh bermain sepeda di sore hari?”

Pastikan Ayah­ Bunda melaksanakan kesepakatan dengan tegas tanpa kompromi jika memang terjadi pelanggaran secara sengaja. Sekali lagi saya ulangi, kunci dari keberhasilan mendidik anak tipe pemimpin adalah KETIKA TERJADI PELANGGARAN TERHADAP HAL YANG SUDAH DISEPAKATI, MAKA LAKSANAKAN KONSEKUENSI ATAU HUKUMAN DENGAN TEGAS DAN TANPA KOMPROMI. Jika dia melawan, lakukan proses peringatan, dan jika masih melawan juga lakukan azas PEMAKSAAN PELAKSANAAN HUKUMAN.

Ketiga, calon pemimpin suka dengan reward dan conse­quences.

Anak bertipe pemimpin suka dengan aturan main, perjanjian atau kesepakatan yang disertai reward & punishment.

Orangtua bisa menerapkan satu kesepakatan dan kalau tidak di­jalankan dengan baik, berikan konsekuensinya. Biasanya si calon pemimpin juga tergolong konsisten. Jadi kalau ia melanggar, berikan hukumannya, agar ia tidak melanggar terus.

Dengan menerapkan aturan yang jelas seperti contoh di atas, orangtua tidak akan kewalahan lagi dalam mendidik calon pemimpin kecil kita ini. Dan yang paling penting adalah niat utama kita adalah mendidik perilakunya untuk menjadi baik, bukan menghukum untuk melampiaskan kekesalan kita, jadi pilihlah hukuman yang mendidik.

Jadi ketika kelihatan anak mulai ada gejala-gejala melanggar kesepakatan, maka sebelum pelanggaran itu terjadi kita harus mengingatkan dengan kata-kata berikut ini;

“Kakak atau Adek masih ingat kan ya perjanjiannya, dan masih ingat juga kan ya kalau melanggar apa hukumannya?”

Tatap wajahnya sampai ia dengar dan paham peringatan dari kita. Lalu lanjutkan dengan kata-kata (sambil serius menatapnya).

Mama/Papa cuma mengingatkan saja, agar adek/kakak tidak terkena hukuman.. Tapi jika Adek/kakak tetap melanggar berarti bukan mama atau papa yang menghukum ya…., Adik sendiri yang menghukum diri adik sendiri, adik sendiri yang pilih untuk dihukum.

Tips terakhir adalah gunakan counting system

Ketika saat pertama kali aturan dilaksanakan maka ketika tiba detik-detik ia akan melanggar… mulailah anda menghitung.

“Kakak/Adik…. ingat kesepakatan kita ya, mama/papa akan menghitung sampai 10, jika di hitungan ke 10 adik atau kakak tidak mau melakukan kesepakatan, maka Mama/Papa akan langsung menghukum kakak tanpa alasan.

Satu…., dua….. tiga dst…

Pada umumnya tips terakhir ini sangat manjur, khususnya bagi anak-anak usia SD ke bawah. Dulu pada awal-awal kami mendidik Dido dan Dimas, tips inilah yang pada akhirnya mampu membuat mereka menjadi anak-anak yang disiplin menepati janjinya.

Selamat mencoba….

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
MHTI Kembali Menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara (KIN)
Miris, Pasca Gempuran ke Aleppo Jokowi Malah Tanda Tangan Kerjasama dengan Iran
Keutamaan Ilmu
Tata Cara Mandi Haid dan Mandi Junub
Peran besar muslimah dalam dakwah Islam
Aroma Mewangi Minyak Kasturi
Neraka Jahannam Sepanjang Hidup, Surga Sepanjang Hidup
Rizki di Tangan Allah
Pada Suatu Titik
Mencari Jalan Pulang
Jodoh : Memilih Atau Dipilih ?
Ketika Istri Merasa Tidak Bisa Membahagiakan Suami
Pastikan Izin Suami Jika Ingin Menjalankan Shaum Sunnah
Satu-satunya Cinta yang Perlu Ada dalam Pernikahan bahkan dalam Kehidupan
Kenapa Anakku Susah Banget Sih Disuruh Sholat?
Aku Peduli Iman Anakku
Anak Sukses Bermula dari Bangun Pagi
Jangan Sia-Siakan “Masa SMA”
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Raditya Dika tak lagi Jenaka, Awkarin Malah jadi fenomena: Generasi Islam Mau Kemana?
Kisah Si Kaya dan Si Miskin (Pemilik Dua Kebun: Surat Al-Kahfi 32-44)
Gubernur Al-Hajjaj dan Pelajaran untuk Penguasa Durja
Nilai Ketaatan Isteri pada Suami
Nenek Penjaga Wahyu Al-Qur’an
Cara Mengatasi Anak Susah Makan
Asam Lambung Naik, Coba Obat Alami Ini
Popok Bayi Sekali Pakai VS Popok Kain
Bolehkah Ibu Hamil Makan Nangka?
Tips Merebus Telur yang Baik
Tips Meningkatkan Minat Membaca Buku
7 Tips Menyapih Anak
Tips Menyimpan Daging Kurban dengan Baik dan Sehat
Tips Merebus Telur yang Baik
Resep Aneka Olahan Singkong
Nikmatnya Pangsit Kuah Hangat Buatan Sendiri
Eksperimen Dapur : Kue Ketan Isi Mangga