Mendekatkan Al Quran Kepada Anak (Bag.1)

Muslimahzone.com ­– Kita dapat mengajari anak-anak untuk menghafal dengan cepat dan membaca Al Quran dengan lancar. Tetapi keterampilan melafadzkan Al Quran dengan benar tidak dengan sendirinya membuat anak-anak dekat hatinya kepada Al Quran.

Itulah sebabnya, berbicara tentang bagaimana mengajarkan Al Quran sama pentingnya dengan meyakini bahwa tidak ada keraguan sama sekali di dalamnya. Mengajarkan keterampilan membaca dan menghafal Al Quran tanpa menanamkan keyakinan yang kuat sekaligus pengalaman berinteraksi dengan ayat-ayat Al Quran, sama seperti meletakkan bertumpuk kitab di punggung keledai. Banyak ilmu di dalamnya, tetapi tak bisa mengambil pelajaran darinya.

Lalu, apa yang perlu kita perhatikan? Pertama, kita berusaha menghidupkan jiwa anak dengan Al Quran. Kita limpahi mereka kasih sayang sebagaimana kita melihat lemahlembutnya Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Salam terhadap anak. Berlimpahnya kasih sayang saat sedang bersama mereka atau lebih-lebih saat mengajarkan Al Quran merupakan bekal untuk membuat jiwa mereka hidup saat belajar. Selain itu, menghidupkan jiwa juga berarti membuat anak-anak senantiasa melihat dan merasakan “ada ayat Al Quran” dalam setiap kejadian yang mereka jumpai.

Ini menuntut kemampuan guru untuk mengajarkan Al Quran secara kontekstual. Artinya, guru harus mampu menjadikan anak melihat bahwa kemana pun ia hadapkan wajahnya, di situlah ia melihat ayat Allah Ta’ala. Bukan mengaitkan Al Quran agar sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan atau tren pemikiran. Yang demikian ini bukan kontekstual, tetapi tabrir al-waqi’ (pembenaran realitas).

Akan sangat berbeda pengaruhnya bagi pikiran ketika kita berkata, “Begitulah Allah Ta’ala berfirman. Karena itu …, kita perlu berusaha dengan sungguh-sungguh agar bisa lebih banyak bersedekah.” Kalimat ini menunjukkan bahwa Al Quran adalah sumber petunjuk dan inspirasi tindakan. Sedangkan kalimat berikut, melemahkan keyakinan anak terhadap Al Quran karena terasa pada pembenaran. Sainslah yang menjadi sumber kebenaran manakala kalimat kita berbunyi, “Berdasarkan penemuan mutakhir tadi kita bisa melihat bahwa sikap kita bisa mempengaruhi alam semesta. Karena itu, tidak heran kalau Allah Ta’ala berfirman…”

Hasil dari upaya “menghidupkan jiwa” adalah anak-anak yang memiliki orientasi hidup yang sangat kuat. Mereka menjadi pribadi yang visioner semenjak usianya yang belia. Sesungguhnya Al Quran tidaklah berbicara dunia kecuali untuk mengajak manusia meraih kebahagiaan akhirat. Al Quran mengajak kita untuk hidup dengan visi akhirat yang kuat, sehingga senantiasa bersungguh-sungguh melakukan kebaikan demi kebaikan yang Allah Ta’ala ridhai. Ini berarti kita harus memahamkan anak, mengapa ada amal shalih yang diridhai dan ada yang tidak.

Kedua, membangun tradisi berpikir yang berpijak pada Al Quran. Kita menanamkan pola pikir berupa tradisi mendeduksikan ayat Al Quran dengan memahami makna (tafsirnya) dari orang-orang yang memiliki otoritas dan literatur terpercaya. Sesudah itu, baru kita mengajak anak untuk menggunakan nalarnya agar mampu memahami lebih jauh. Jadi, bukan menggunakan nalarnya lebih dulu baru memahami maknanya. Sebab, ini lebih dekat dengan praduga daripada tafsir, lebih cenderung kepada pembenaran pikiran daripada menemukan kebenaran sehingga bisa mengoreksi kesalahan kita dalam berpikir.

Ambillah contoh sederhana. Dalam Al Quran Allah  Subhanahu Wata’ala berfirman,  “ Seungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keaadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. Ar Ra’d: 11). Penggalan ayat ini sering menjadi argumentasi mereka yang sedang meyakinkan saudara-saudaranya untuk melakukan perubahan nasib. Padahal, ayat ini sebenarnya menunjukkan bahwa pada dasarnya Allah Ta’ala melimpahkan kebaikan dan kemuliaan kepada kita sampai jiwa kita berubah. Jika iman sudah bertukar dengan kekufuran dan ketaatan berganti dengan kemaksiatan, maka Allah ‘Azza wa Jalla akan mencabut kenikmatan tersebut dari suatu kaum.

Tampaknya sepele, tetapi jika tidak berhati-hati dalam mengajarkan kita bisa keliru mengembangkan cara berpikir yang sebaliknya. Anak-anak kita ajak untuk melihat realitas, memikirkan sebab akibat serta berusaha menemukan cara berpikir, setelah itu baru mencari ayat-ayat Al Quran yang sesuai. Yang demikian ini dapat menimbulkan kesalahan berpikir bahwa kebenaran Al Quran itu relatif. Jika cara berpikir semacam ini sudah tumbuh, akibat berikutnya adalah runtuhnya keyakinan bahwa kebenaran Al Quran bersifat mutlak. Tak ada keraguan di dalamnya. Pada gilirannya ini menyebabkan anak kelak tidak lagi mengambil petunjuk dari Al Quran. Na’udzubillahi min dzalik.

Mirip namun sangat berbeda pengaruhnya adalah membiasakan anak berpikir dan berdiskusi, kemudian melihat bagaimana Al Quran memberi petunjuk. Dalam hal ini, Al Quran menjadi pemisah mana yang haq dan mana yang bathil dalam setiap perkara. Al Quran menjadi penilai setiap urusan.

Bersambung… in syaa’ Allah.

Disadur dari buku Segenggam Iman Anak Kita, Mohammad Fauzil Adhim (Pro-U Media: 2013)

(esqiel/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Tips Kecantikan ala Aisyah Istri Nabi
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk