Memilih Calon Suami (Bagian 3-Habis)

Muslimahzone.com – Imam al-Ghazali berkata: “Bersikap hati-hati dalam urusan (perkawinan) anak wanita merupakan sesuatu yang sangat penting. Sebab dengan menikah, ia akan menjadi budak dan sewaktu-waktu bisa diceraikan oleh suaminya. Karena itu apabila seorang ayah  menikahkan putrinya dengan orang jahat (zalim), fasik, ahli bid’ah atau pemabuk, berarti ia telah melanggar perintah agama dan menyodorkan dirinya kepada murka Allah. Ia telah memutus tali silaturrahmi  karena telah memilih calon suami yang buruk bagi putrinya.” (Ihya ‘Ulumu al-Din, Imam al-Ghazali)

Begitu pentingnya memilih calon suami yang baik itu sehingga Rasulullah mengingatkan dalam hadits bahwa ketika dijumpai calon suami  yang baik yaitu calon suami yang baik agamanya, memiliki keluhuran akhlak, ketakwaannya tercermin dalam sikap dan perilaku hidupnya, lalu orang seperti itu ditolak pinangannya, maka akan terlahir fitnah dan kerusakan yang besar di muka bumi. Bisa jadi penolakan itu dikarenakan ia orang yang biasa-biasa saja, bukan berdarah biru, atau mungkin karena ia termasuk orang yang pas-pasan atau karena wajahnya biasa saja, atau malah cenderung di bawah standar. Walaupun demikian Rasulullah tetap mengingatkan akan terlahirnya fitnah dan kerusakan di bumi.

Tatkala Rasulullah bersabda:

Jika ada seseorang mengajukan pinangan kepada (putri) kalian, yang kalian ridhai agama  dan akhlaknya maka nikahkanlah ia (dengan putrimu), jika tidak kalian lakukan maka akan lahir  fitnah dan akan berkembang kerusakan  yang besar di muka bumi.”

Maka setelah mendengar sabda Rasulullah tersebut lantas ada seseorang yang bertanya kepada beliau:

Wahai Rasulullah, bagaimana jika (laki-laki) itu mempunyai cacat atau kekurangan?”

Rasulullah pun menjawab:

Jika datang kepada kalian orang yang baik agama dan akhlaknya maka nikahkanlah dia (dengan putrimu).” Dan beliau mengulangnya tiga kali.

Dalam hadits tersebut Rasul menyebut kebaikan agama dan akhlak. Sementara akhlak adalah bagian dari agama. Karena akhlak tidak lain adalah sifat yang digunakan oleh seorang Muslim untuk mensifati  dirinya ketika melakukan sesuatu. Jika sifat itu adalah sifat-sifat yang diperintahkan oleh Allah  agar seorang Muslim mensifati diri dengan sifat-sifat itu, maka ia adalah akhlak terpuji. Sebaliknya, jika sifat itu merupakan sifat yang dilarang Allah bagi seorang Muslim untuk mensifati diri dengannya, atau sifat yang diperintahkan agar dijauhi, maka ia merupakan akhlak tercela.

Jadi akhlak sebenarnya adalah bagian dari perintah dan larangan Allah yakni bagian dari hukum-hukum syara’. Yakni merupakan hukum-hukum syara’ yang berkaitan dengan sifat. Maka penyebutan akhlak sesudah penyebutan agama disebut sebagai uslub menyebutkan sesuatu yang khusus setelah yang umum atau menyebutkan bagian setelah menyebutkan induknya. Uslub ini untuk memberikan penekanan atau menunjukkan urgensi yang lebih pada yang khusus atau kepada bagian.

Islam bahkan memberikan tuntunan yang bukan hanya bersifat pasif, tapi juga bersifat aktif. Islam membolehkan seorang wali menawarkan putrinya kepada seseorang yang ia nilai baik agamanya, luhur budi pekerti (akhlak)nya, ketakwaannya tercermin dalam tindak tanduknya, agar orang itu mau memperistri putrinya.

Kita tentu ingat bagaimana Umar bin Khattab  menawarkan putrinya untuk dinikahi  kepada Abu Bakar namun tidak ditanggapi, lalu Umar datang kepada Utsman, pun tidak ditanggapi oleh Utsman. Tidak lama setelah itu Rasulullah pun melamar putri Umar yaitu Hafshah. Begitu pula banyak di antara para shahabat yang menawarkan putrinya kepada para shahabat lainnya.. Dan ini diketahui oleh Rasulullah, namun beliau mendiamkannya.

Diamnya Rasulullah ini merupakan izin kebolehan seorang ayah (wali) menawarkan putrinya kepada seseorang yang baik agamanya. Sebelum melakukan hal itu hendaknya terlebih dahulu ia meminta izin kepada putrinya. Dan akan lebih baik lagi kalau dimusyawarahkan dengan ibu wanita tersebut atau dimusyawarahkan dengan keluarga. Karena dengan itu insya Allah akan mendatangkan kebaikan.

Wallahu’alam.

Sumber: Kitab Risalah Khitbah karya Yahya Abdurrahman

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk