Memilih Calon Suami (Bagian 1)

MuslimahZone.com – Di antara prasyarat dalam rangka membentuk rumah tangga yang harmonis dan keluarga yang bahagia bagi seorang Muslimah adalah dengan cara memilih calon suami yang tepat.

Lalu bagaimana cara memilihnya? Berikut penjelasan dari Ustadz Yahya Abdurrahman yang ditulis dalam bukunya yang berjudul Risalah Khitbah.

Rumah tangga sering diibaratkan bagaikan sebuah bahtera yang berlayar di lautan. Orang yang ikut berlayar dalam bahtera tersebut tentu mempunyai tujuan. Ombak akan siap mengombang-ambingkan bahtera itu kapan pun. Begitu pula badai dapat pula menghampiri tanpa diperkirakan sama sekali.

Maka tatkala seseorang memutuskan untuk ikut naik bahtera itu, pada saat yang sama ia telah percaya sepenuhnya kepada sang nahkoda untuk mengantarkannya sampai ke tujuan. Ia percaya bahwa nahkoda perahu itu telah mempunyai cukup bekal, cukup pengetahuan untuk menahkodai bahteranya. Ia pun percaya bahwa sang nahkoda sudah mengetahui rute perjalanannya. Ia juga percaya bahwa setidaknya  sang nahkoda telah mempelajari apa saja yang dapat menjadi penghalang di lautan nanti, bagaimana menghindari badai, apa yang harus dilakukan tatkala ombak besar menerpa bahtera dan bagaimana mengatasi berbagai masalah yang muncul di perjalanan.

Kalau rumah tangga bagaikan bahtera seperti itu maka ketika akan memutuskan memulai sebuah rumah tangga tentunya siapa pun akan memilih nahkoda yang ia percayai dapat menahkodai bahtera rumah tangganya kelak. Ia akan memilih nahkoda yang tahu apa yang harus diperbuat terhadap bahteranya dan bagaimana mengurusi dan melayani  para penumpangnya.

Nahkoda rumah tangga adalah suami. Oleh karenanya memilih calon suami, calon nahkoda bahtera rumah tangga akan menjadi salah satu penentu kebaikan rumah tangga itu kelak.

Lantas bagaimana dan kriteria apa yang harus kita gunakan untuk dapat memilih calon suami yang baik?

Hadits Rasulullah yang menyatakan seorang wanita dinikahi karena empat hal, yaitu karena kecantikannya, karena hartanya, karena keturunannya dan karena agamanya, lantas Rasulullah berpesan agar kita mengutamakan faktor agama. Hadits ini juga sebenarnya dapat dijadikan pegangan bagi wanita atau walinya untuk memilih calon suami. Dan memang menjadi salah satu tanggung jawab wali untuk mencarikan suami yang shalih bagi wanita yang berada di bawah perwaliannya.

Hanya saja, jika  wali hendak mencarikan calon suami bagi putrinya atau wanita yang ada di bawah perwaliannya, maka hendaklah ia meminta izin terlebih dahulu kepada wanita tersebut. Hal ini penting karena secara syar’i, seorang gadis tidaklah dinikahkan kecuali setelah diminta izinnya, sementara seorang janda lebih berhak terhadap dirinya. Akan lebih baik jika pada saat itu wali sekaligus menanyakan pula kriteria yang dikehendaki oleh si wanita dan mendiskusikannya. Tujuannya agar proses selanjutnya membawa kebaikan.

Perlu juga diperhatikan bahwa sekalipun wanita tersebut sudah mengizinkan walinya untuk mencarikan calon suami baginya, bukan berarti bahwa calon suami yang dipilih oleh wali pasti sesuai dengan keinginan si wanita. Izin itu semata izin untuk dicarikan calon suami. Sementara keputusannya secara syar’i tetap dikembalikan kepada si wanita. Untuk itu wanita tersebut harus diberi kesempatan untuk mengetahui siapa calon suami yang dipilihkan untuknya. Ia diberikan kesempatan untuk mengetahui lebih jauh tentang calon suaminya. Lalu setelah itu jika ia ridha dan menerima calon suami itu maka dapat dilanjutkan ke proses yang lebih jauh. Jika ternyata ia tidak ridha, maka cukuplah sampai disitu dan perlu diakhiri secara baik-baik.

Seseorang pernah bertanya kepada al Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Laki-laki tersebut berkata: “Aku mempunyai anak gadis. Beberapa orang telah meminang putriku, lalu dengan siapakah aku nikahkan putriku itu? Mendengar pertanyaan ini, al Hasan ra. menjawab: “nikahkanlah putrimu itu dengan orang yang (paling) bertakwa kepada Allah, jika ia mencintainya maka ia akan menghormati putrimu, dan jika ia marah kepada putrimu maka ia tidak akan mendzaliminya.” (Al Ghazali, Ihya Ulumu al Din, 2/41). (bersambung)

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk