Memahami Uang, Bank dan Penggandaan Uang

Muslimahzone.com – Uang sebenarnya adalah sebuah “penemuan manusia” untuk memudahkan pertukaran barang dan jasa sesama mereka. Selain sebagai alat tukar, uang juga memiliki fungsi standar perhitungan (standard of account) dan penyimpanan nilai (value storage).

Zaman dulu, uang yang paling laku di dunia dalam ketiga fungsi tadi adalah logam mulia (khususnya emas & perak). Romawi mengeluarkan dinar emas, Persia mengenal dirham perak. Namun jumlah logam mulia di dunia terbatas. Makanya agama melarang menahan (menimbun) uang tanpa tujuan yang syar’i, karena jadi akan menyulitkan manusia bertransaksi. Kalau mau menabung jangka panjang, silakan beli tanah untuk dijadikan kebun, atau beli sapi …

Dalam transaksi yang amat kecil, semisal anak-anak beli permen, uang emas/perak kurang praktis digunakan, sehingga manusia membuat uang tembaga. Uang receh ini disebut fulus. Di sisi lain, untuk barang dengan nilai sangat besar, misalnya beli pesawat Boeing 747, uang emas/perak juga tidak praktis. Harga pesawat itu setara 2 ton emas. Mengecek keaslian emas itu saja sulit. Membawanya juga susah dan berresiko keamanan. Maka untuk keperluan seperti ini, muncullah uang kertas, dan uang giral. Uang giral adalah uang yang hanya nilainya saja yang dipindahkan, bisa lewat selembar cek atau lewat kode elektronik. Fisiknya boleh tetap di tempat masing-masing, selama pihak yang bertransaksi saling percaya.

Bank, zaman dulu tidak ada. Saat ini sering bank dianggap institusi yang paling bertanggungjawab dengan transaksi ribawi. Namun zaman Nabi, riba sudah ada, meskipun orang belum mengenal baik uang kertas maupun bank.

Ada 2 jenis bank. Yang pertama bank yang mengatur moneter. Dia menerbitkan uang kertas, atas nilai yang disimpan padanya. Awal mula ada bank, itu orang yang memiliki emas, menyerahkan emasnya ke bank, terus ditukar dengan lembaran kertas yang menunjukkan bahwa dia memiliki emas di bank sebanyak itu. Jadi kertas ini semacam surat utang yang bisa dipindahtangankan, yang dalam bahasa fiqih disebut hiwalah. Ketika negara kemudian menjadikan (dan memaksakan) kertas tadi sebagai alat pembayaran di seluruh negeri, sejak itu ia disebut uang. Untuk keamanan, uang itu diberi berbagai tanda agar sulit dipalsukan, termasuk nomor seri yang unik.

Pada awalnya, untuk setiap lembar uang yang diterbitkan, bank mesti memiliki backup barang yang senilai. Semula barang itu adalah emas/perak. Lambat laun, karena emas/perak sangat terbatas, sementara kebutuhan transaksi meningkat, maka lalu bank menerbitkan uang dengan backup uang asing yang diyakini dibuat dengan metode backup yang sama. Ini disebut devisa. Kemudian backup itu juga asset negara seperti BUMN. Jadi surat berharga kepemilikan BUMN itu, ditukar pemerintah ke bank menjadi uang. Backup devisa dan surat berharga ini rawan berfluktuasi nilainya. Kalau kondisi negara asal devisa itu memburuk, apalagi terancam perang, maka nilainya bisa hancur. Demikian juga kalau ternyata BUMN itu bangkrut, maka surat berharga tentang memilikinya menjadi kehilangan nilai. Ketika tahun 1998 BI mengeluarkan BLBI ratusan trilyun, uang itu ditukar dengan surat berharga atas perusahaan-perusahaan obligor. Namun ternyata belakangan diketahui, nilai perusahaan-perusahaan itu saat dilelang tidak sebesar nilainya saat berhutang. Tetapi uang kertas yang diterbitkan BI sudah terlanjur keluar.

Dampaknya, maka nilai tukar atau daya beli uang kertas ini menjadi jatuh. Terjadilah inflasi. Jadi inflasi bisa terjadi meski bank penerbit uang kertas, atau pemerintah negara di belakangnya tidak sengaja mencetak uang banyak-banyak dari udara. Ada backupnya, tetapi backup itu ternyata tidak stabil. Memang ada juga negara yang mencetak uang kertasnya dengan ngawur, seperti Zimbabwe atau Somalia. Mereka mencetak uang tanpa backup sedikitpun. Terjadilah hyperinflasi.

Adapun bank yang kedua adalah bank yang menjadi lembaga intermediasi. Bank ini menjadi jembatan antara penabung kecil dan pengusaha besar. Penabung kecil hanya punya uang sisa yang tidak signifikan untuk berbisnis. Dia kesulitan bertemu pengusaha yang mau melakukan syirkah dengan uang yang hanya segitu, semisal hanya Rp. 1 – 2 juta. Sedangkan pengusaha besar, misalnya yang ingin membangun industri telekomunikasi atau real estate, kesulitan mendapatkan jumlah dana senilai Rp 1 -2 Trilyun. Perlu ribuan sampai jutaan orang agar pengusaha besar tadi dapat memperoleh dana yang dibutuhkan. Maka bank melakukan intermediasi.

Karena inovasi bank ini muncul di dunia kapitalis, maka instrumen pengaturannya didasarkan pada riba, yang sudah ada jauh sebelum manusia mengenal bank. Andaikata lembaga intermediasi ini hasil ijtihad di dunia Islam, mungkin dunia perbankan akan lebih dini menemukan instrumen yang syar’i.

Dengan demikian, kasus dengan seorang “tokoh spiritual” yang konon mampu “menggandakan uang”, sejatinya mudah untuk dideteksi sebagai penipuan. Hanya saja, kasus penipuan adalah delik aduan. Kalau tidak ada korban yang merasa dirugikan lalu melapor ke polisi, ya tidak akan diusut. Tokoh itu akhirnya ditangkap polisi karena delik pembunuhan.

Kalau ada orang yang memandang itu “karomah” sebagaimana dulu Sunan Bonang menyulap pohon kelapa menjadi pohon emas, maka itu tidak bisa dianalogikan. Kalau mau ya sang tokoh spiritual itu mesti menyulap pohon emas dulu, lalu pohon emas tadi ditukar di BI menjadi uang rupiah dengan nomor seri yang valid.

Andaikata menggandakan uang itu mudah, timbul pertanyaan:
– kenapa tidak kita gandakan saja uang dollar Amerika, jadi utang luar negeri kita cepat lunas?
– kenapa tidak kita gandakan saja uang untuk menambal APBN, tidak perlu ada tax amnesti dan pemotongan anggaran?

Ternyata di tahanan polisi, sang tokoh spiritual itu kehilangan “karomahnya”. Dia tidak mampu menggandakan uang untuk menyuap polisi.

Oleh: Prof. Dr. Ing. H. Fahmi Amhar

(fauziya/muslimahzone.com)

 

Leave a Reply

Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
MHTI Kembali Menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara (KIN)
Miris, Pasca Gempuran ke Aleppo Jokowi Malah Tanda Tangan Kerjasama dengan Iran
Keutamaan Ilmu
Tata Cara Mandi Haid dan Mandi Junub
Peran besar muslimah dalam dakwah Islam
Aroma Mewangi Minyak Kasturi
Neraka Jahannam Sepanjang Hidup, Surga Sepanjang Hidup
Rizki di Tangan Allah
Pada Suatu Titik
Mencari Jalan Pulang
Jodoh : Memilih Atau Dipilih ?
Ketika Istri Merasa Tidak Bisa Membahagiakan Suami
Pastikan Izin Suami Jika Ingin Menjalankan Shaum Sunnah
Satu-satunya Cinta yang Perlu Ada dalam Pernikahan bahkan dalam Kehidupan
Kenapa Anakku Susah Banget Sih Disuruh Sholat?
Aku Peduli Iman Anakku
Anak Sukses Bermula dari Bangun Pagi
Jangan Sia-Siakan “Masa SMA”
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Raditya Dika tak lagi Jenaka, Awkarin Malah jadi fenomena: Generasi Islam Mau Kemana?
Kisah Si Kaya dan Si Miskin (Pemilik Dua Kebun: Surat Al-Kahfi 32-44)
Gubernur Al-Hajjaj dan Pelajaran untuk Penguasa Durja
Nilai Ketaatan Isteri pada Suami
Nenek Penjaga Wahyu Al-Qur’an
Cara Mengatasi Anak Susah Makan
Asam Lambung Naik, Coba Obat Alami Ini
Popok Bayi Sekali Pakai VS Popok Kain
Bolehkah Ibu Hamil Makan Nangka?
Tips Merebus Telur yang Baik
Tips Meningkatkan Minat Membaca Buku
7 Tips Menyapih Anak
Tips Menyimpan Daging Kurban dengan Baik dan Sehat
Tips Merebus Telur yang Baik
Resep Aneka Olahan Singkong
Nikmatnya Pangsit Kuah Hangat Buatan Sendiri
Eksperimen Dapur : Kue Ketan Isi Mangga