Media Sosial, Media Massa dan Penguasa

Oleh : Tachta Rizqi Yuandri

Muslimahzone.com – Bereaksinya pemerintah terhadap Telegram, Facebook, dan YouTube menjadi bukti semakin kuatnya pengaruh media sosial di masyarakat. Sebab, media sosial saat ini tumbuh menjadi salah satu kekuatan penyeimbang dari kekuatan informasi yang sebelumnya ada, yakni media massa.

Media sosial tidak memiliki jam tayang, media sosial tidak memiliki struktur kepemimpinan, dan media sosial adalah mimbar bebas yang biasanya sedikit ‘tanpa batas’. Informasi bisa dengan cepat tersebar luas dalam hitungan detik, terlepas apakah informasi itu benar atau salah. Besarnya pengaruh media sosial dirasakan pula oleh media massa. Bahkan, tidak sedikit media massa yang akhirnya juga memiliki akun resmi di media sosial.

Namun demikian, karakteristik media sosial yang cepat dan luas tersebut, bila dikombinasikan dengan meningkatnya sikap kritis masyarakat, ternyata seperti telah menjadi ancaman nyata bagi pemerintah.

Mengapa?

Masyarakat saat ini bukan hanya menjadi pemirsa, pendengar, atau pembaca yang mudah tergiring. Mereka dengan cepatnya bisa melakukan cek dan ricek, lalu membandingkan antara satu informasi dengan informasi lainnya, dan hal itu dapat dilakukan dengan hitungan detik. Mereka dapat menilai dan membandingkan, sudut pandang antara media massa satu dengan media massa lainnya.

Dengan demikian, akhirnya keberpihakan media massa bukan menjadi suatu hal baru dan tabu. Masyarakat mulai dapat melihat sendiri, bagaimana dan seperti apa pertarungan opini yang terjadi, lalu siapa saja yang terlibat di dalamnya.

Akhirnya, hal itu juga yang membentuk budaya kritis di masyarakat. Mereka memiliki preferensi masing-masing. Bahkan, sebagian dari mereka sudah berani melontarkan salah satu istilah yakni ‘metro tipu’ sebagai ‘sikap perlawanan’ mereka terhadap opini yang tengah dibangun salah satu media massa.

‘Sialnya’, pemerintah juga tidak luput dari kekritisan masyarakat dan kekuatan media sosial. Terlebih lagi, saat ini, sebagian masyarakat yang lebih cerdas justru memanfaatkan kombinasi antara kekritisan mereka, media massa, dan media sosial yang mereka miliki.

Mereka pilih pemberitaan media yang sesuai dengan kepentingan mereka, lalu mereka sebarluaskan dengan memanfaatkan media sosial yang mereka miliki.

‘Sialnya’ lagi, tampaknya hal itu bukan hanya dilakukan oleh satu atau dua orang pengguna media sosial, tapi ribuan bahkan jutaan. Jumlah yang cukup banyak untuk memberikan kejutan hasil polling mengenai Perppu Nomor 2/ 2017 tentang Ormas.

Kekuatan media sosial telah ‘menelanjangi’ kekuatan propaganda pemerintah. Sejumlah polling yang diselenggarakan oleh berbagai institusi media massa, bahkan akun twitter @DPR_RI (yang pollingnya akhirnya dihapus) ternyata menjadi medan perang baru untuk menyerang balik propaganda yang dilakukan pemerintah. Perppu Nomor 2/ 2017 tentang Ormas ‘keok’ dan kerap kalah dalam berbagai polling, termasuk yang diselenggarakan @DPR_RI.

Pemerintah Coba Mematikan Semua Unsur Kekuatan

Melalui fakta di atas, pemerintah coba ‘mematikan’ semua unsur kekuatan yang dimiliki oleh lawan kepentingannya. Meminjam istilah Jubir Hizbut Tahrir Indonesia, Ismail Yusanto, setelah mereka ‘melebarkan gawang’, mereka tambah lagi jumlah wasit dan hakim garis supaya bisa memenangkan pertandingan. Dengan dalih mencegah penyebarluasan hoax, mereka merencanakan pemblokiran sejumlah media sosial.

Bila sudah berbicara soal hoax, saya merujuk apa yang pernah disampaikan oleh Rocky Gerung. Justru yang memiliki potensi untuk membuat hoax adalah penguasa. Dan hal itu sangat relevan dengan yang baru saja terjadi, yakni berkaitan klaim konsultasi pemerintah soal Perppu Nomor 2/ 2017 tentang Ormas kepada Mahkamah Konstitusi.

Kita bisa melihat. Setelah mereka mencoba mematikan unsur kekuatan pertama, yakni pembungkaman orang-orang kritis melalui Perppu Nomor 2/ 2017 tentang Ormas, mereka saat ini mencoba mematikan unsur kekuatan yang kedua, yakni media sosial. Dengan berbagai alasan yang mengada-ada.

Meminjam kata-kata yang digunakan Fahri Hamzah. Rezim yang panik ini seperti tengah diterjang air bah. Apapun dipegang untuk menyelamatkan diri, meskipun apa yang dipegangnya tersebut bisa saja membahayakan dirinya sendiri.

Dalam pandangan saya, upaya pembungkaman terhadap ormas Islam dan rencana pemblokiran sejumlah media sosial alih-alih akan meredupkan sikap kritis terhadap pemerintah. Hal itu justru semakin menguatkan kesan pemerintah sudah tidak mampu lagi mengandalkan potensi intelektual dan hanya menyisakan potensi berupa ‘otot’.

Adapun pihak lawan, selalu unggul dalam ‘pertarungan’ intelektual. Tinggal menunggu waktu saja sampai potensi kekuatan ‘otot’ itu berhadapan dengan masyarakat yang sudah muak dan bangkit dengan segala potensi kekuatan yang dimilikinya.

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk