Mari Menggandakan Uang

Muslimahzone.com – Ada-ada saja cara seseorang untuk memperoleh harta kekayaan dengan cara instan. Berbagai cara ditempuh bahkan menerobos hukum syari’at. Dari yang masuk akal sampai di luar logika. Berikut sebuah tulisan dari Mba Asri Supatmiati tentang kasus yang sedang viral saat ini, terkait penggandaan uang.

***

Hari ini ribuan orang menangis dan menyesali hartanya yang raib di padepokan Dimas Pribadi. Berharap melipatgandakan kekayaan, yang ada malah amblas. Saya bisa merasakan kepedihan mereka. Eits, bukan karena saya juga korban sang dukun pengganda uang, ya. Tapi, karena tahu bagaimana rasanya kehilangan uang. Apalagi jika hilangnya karena ditipu.

Dulu, saya juga korban penipuan. Bukan berkedok penggandaan uang sih, tapi “penggandaan pulsa.” Maksudnya, ada rekanan yang mengajak bisnis pulsa. Waktu itu jual-beli pulsa sedang marak-maraknya. Dia mengaku distributor besar, dijanjikanlah keuntungan bagi hasil sekian-sekian. Tentu, saya tertarik “menggandakan uang” karena yakin ini bisnis riil.

Sebulan dua bulan, laporan plus bagi hasil lancar. Sesuai akad. Beberapa bulan kemudian, mulai tersendat. Lama-lama, orangnya menghilang. Curiga, jangan-jangan bisnisnya fiktif. Karena, tentu saja, saya tidak pernah nguntit dia saat transaksi. Langsung saya kejar, saya cari, dan saya investigasi (halah!). Hasilnya, nihil.

Apakah waktu itu saya kebanyakan uang sehingga memilih menginvestasikan daripada memutar usaha sendiri? Apakah saya begitu tamaknya ingin kaya instan? Apakah saya percaya uang bisa bertambah tanpa kerja keras? Tidak. Bahkan rumah saja belum punya. Justru, uang itu rencananya buat beli rumah. Karena belum cukup, diputer dulu.

Mau bisnis sendiri, belum pengalaman. Tidak bisa. Selain itu, juga tidak punya cukup waktu. Ya sudah, dijadikan modal bersama saja. Modal kepercayaan. Itung-itung bantu teman yang butuh modal. Eh, uang hangus, rumah boro-boro kebeli. Lapor polisi? Hampir. Tapi gak jadi. Malu! (Belakangan saya sadar, lapor polisi itu penting agar rekam jejak penipu terdata di kepolisian).

Dan, saya kira, banyak orang mengalami seperti saya. Setidaknya orang-orang di sekitar saya. Teman saya seorang single parent misalnya. Uang Rp80 juta amblas setelah diajak bisnis pengadaan komputer. Padahal tadinya sudah hampir kebeli rumah. Sudah nawar-nawar, cuma belum cocok. Lapor polisi? Tidak.

Masih banyak lagi kasus seperti itu yang dialami teman-teman saya. Hanya beda versi, beda pelaku. Ada yang karena bisnis fashion, kehilangan puluhan hingga ratusan juta rupiah. Ada yang nilainya miliaran. Semua dibalut bisnis barang dan jasa (walaupun mungkin ternyata fiktif). Setahu saya, semua tidak lapor polisi. Yah, biasanya, korban penipuan paling malas lapor polisi. Sudahlah malu, belum tentu uang kembali.

Jadi, penipu-penipu itu kian eksis dan gentayangan. Dengan berbagai trik dan aksi. Apalagi, orang-orang yang berniat “menggandakan uang” memang sangat potensial. Maksudnya, banyak orang yang berpikir, daripada uang nganggur di bawah bantal, lebih baik diputar. Siapa tahu jadi bertambah sehingga target membeli sesuatu tercapai. Saya rasa, semua orang begitu. Suka uangnya berlipat ganda.

Nah, barangkali seperti itu pula yang ada di pikiran para penyetor uang di padepokan Dimas. Ingin uangnya bertambah tanpa dia sendiri yang bekerja keras. Tapi, bedanya, mereka menggunakan jalur gaib. Bukan investasi riil. Bukan bisnis barang atau jasa. Diperdaya dengan sosok Dimas yang dianggap memiliki karomah melipatgandakan uang.

Untuk kasus seperti saya, masih rada-rada maklumlah hehe…. Bisa dibilang, itu termasuk risiko investasi. Kadang-kadang dikibuli. Apalagi yang masih awam di dunia bisnis, seperti saya. Konon kata para orang sukses, untuk menjadi pengusaha sukses itu harus pernah ditipu (wah, saya kandidatnya kalau begitu hihihi…Eit, yang belum pernah ketipu ya jangan berharap tertipu lah ya…).

Tapi, untuk kasus penggandaan uang ala Dimas Kanjeng, rasanya sulit diterima akal. Sangat disesalkan. Kok begitu percaya dengan iming-iming “penggandaan uang” dalam makna harfiah. Uang semiliar disulap jadi dua miliar.

Sepanjang sejarah manusia, saya rasa belum ada orang yang bisa melakukan itu (kalau ada, udah lama dunia bebas utang, bebas orang kelaparan, bebas perang, percetakan uang tutup, dll). Tapi, ini kok pada rame-rame percaya. Bahkan pengikutnya ribuan (bisa jadi lebih, karena pasti malu melapor).

Apa karena rendahnya pendidikan masyarakat? Itu salah satunya. Tapi, ternyata ada juga orang pintar yang jadi pengikut setia. Jadi, kalau bukan karena rendahnya pendidikan, tentu karena rendahnya pemahaman agama. Eh, tapi itu yang percaya orang MUI juga, ya. Pinter agama dong! Kalau begitu, pasti karena “agama lain” lebih mendorong perbuatannya dibanding “agama KTP” nya.

Apa “agama lain” itu? Ideologi kapitalis yang materialistis. Ideologi yang eksis di era peradaban sekuler saat ini, sukses menanamkan keyakinan bahwa kekayaan itu sumber kebahagiaan. Bahwa banyaknya uang akan mempermudah segala urusan kehidupan. Uang pun jadi segala-galanya.

Maka, ribuan orang seperti terhipnotis setor mahar, karena tak lagi berpikir rasional. Boleh jadi, mereka terperdaya ingin kaya instan, karena di era kapitalis seperti ini memang sulit mendapatkan duit. Ironis memang. Sudah tahu duit susah didapat, kok malah percaya bisa digandakan dengan gampang?

Ini tak lepas dari pengagungan dan pensucian tokoh Dimas yang sukses ditanamkan pada para pengikut setianya. Maklum, masyarakat Indonesia ini memang unik. Keyakinan Islamnya sangat-sangat awam. Masih sangat dekat dengan hal-hal berbau klenik, mistis, gaib dan takhayul.

Ini menjadi tugas ulama, para juru dakwah dan kita semua, untuk terus menerus mengentaskan keawaman mereka terhadap ajaran Islam. Harus dipahamkan dengan Islam ideologis yang kaaffah. Supaya tidak mengkultuskan manusia, dan hanya yakin bahwa rezeki itu dari Allah semata.

Memang, Islam mengajarkan iman kepada yang gaib. Bahkan surat Al-Baqarah ayat 1-3 berbunyi: “Alif Laam Miim. Kitab (Alquran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan salat dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”

Ciri orang bertakwa, orang yang tidak ragu terhadap kitab Alquran, adalah iman kepada yang gaib. Iman kepada gaib ini, bahkan didahulukan, baru kemudian mendirikan salat, menafkahkan sebagian rezeki, dst. Sebab, umat Islam harus iman dulu pada keberadaan Allah SWT yang notabene gaib, sebelum menjalankan syariatnya seperti salat, dst.

Iman kepada pahala dan surga, adalah hal yang gaib. “Iming-iming” inilah yang seharusnya mendorong perilaku manusia agar melipatgandakan amalnya. Bukan melipatgandakan uangnya. Jika uangnya berlipatganda pun, tetap dalam rangka mengejar pahala. Melipatgandakan kemanfaatannya untuk orang banyak.

Nah, inilah rahasia Nabi Muhammad SAW dan generasi awal sahabat, yang begitu mudah mengeluarkan hartanya. Saking kuatnya keimanan terhadap yang gaib ini, yakin dengan pahala dan surga, sehingga harta yang mereka punya, disalurkan ke “tempat yang gaib” ini. Maksudnya, mereka sangat royal membelanjakan harta di jalan Allah, demi pahala, demi surga. Lebih senang menabung untuk kepentingan akhirat, dibanding dunia.

Tak terpikir menyimpan kekayaan untuk bersenang-senang. Maka wajar jika kita baca kisah di peradaban Islam, Abu Bakar menyalurkan seluruh hartanya, sementara Umar bin Khattab separuhnya. Abu Bakar tidak pikir panjang ketika membebaskan Bilal bin Rabah dengan tebusan 9 uqiah emas (1 uqiah=31,7475 gram emas). Abu Bakar menggandakan manfaat hartanya untuk kemerdekaan Bilal, sekaligus mengganjar dirinya dengan tabungan surga.

Jadi, Islam sangat menganjurkan bagi seorang muslim untuk menggandakan kemanfaatan hartanya, bukan untuk dunia saja, tapi untuk akhirat. Bukan menggandakan harta dalam makna harfiah, tapi maknawiyah. Iya. Lipatgandakan kemanfaatannya. Lipatgandakan pahalanya.

Tak heran jika Allah pun melipatgandakan kekayaan mereka. Abu Bakar, Umar bin Khattab, Abdurrahman bin Auf, tak pernah bangkrut meski hartanya terus menerus disalurkan. Bahkan terus menerus mengalir dan berlipatganda. Di dunia mungkin mereka tampak miskin, tapi di akhirat tabungannya berlipatganda.

Persis yang diyakini para dermawan di masa kini. Mereka begitu “royal” membelanjakan uang di jalan Allah, lalu tanpa disangka-sangka, hartanya berlipat, entah dari jalan mana saja. Dari usahanya. Kemudahan urusannya. Kemurahan hidupnya. Keberkahan pernikahannya, dll. Banyak kisah-kisah seperti itu. Semoga saya bisa seperti mereka. Jadi, mari rame-rame menggandakan uang di jalan yang benar.

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk