Mal dan Fasilitas Dagang dalam Islam

Muslimahzone.com – Pada awalnya, aktivitas perdagangan di dunia Islam lebih menonjol dibanding aktivitas perekonomian lainnya seperti industri dan pertanian. Letak geografis jazirah Arab memang mendukung akitivitas perdagangan. Tempatnya menjadi penghubung tiga benua, yaitu Asia, Afrika, dan Eropa. Dampaknya, jalur perdagangan baik darat maupun laut melalui negara-negara Muslim.

Selain faktor letak geografis, ajaran Islam juga memotivasi umatnya agar menjalankan aktivitas perdagangan yang sehat. Allah SWT berfirman, “Celakalah bagi orang-orang yang curang. Adalah orang-orang yang apabila memperoleh takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi. Dan apabila mereka menakar atau menimbang mereka mengurangi.” (al-Muthaffifin [83]: 1-3)

Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda, “Pedagang yang amanah, jujur, Muslim, bersama para syuhada di Surga.” (Riwayat al-Hakim)

Pemerintahan Islam senantiasa mendukung dan merespons dengan baik aktivitas perdagangan. Misalnya hal ini dilakukan oleh Sultan al-Manshur Qalawun, penguasa Mamalik Mesir. Ia menerbitkan pengumuman atau ajakan kepada para pedagang untuk mendatangi negerinya dengan membawa barang dagangan.

Menurut Abu al-Fadhl ad-Dimasyqi dalam al-Isyarah Ila Mahasin at-Tijarah, ada tiga jenis pedagang dalam tradisi Arab.

Pertama yang disebut sebagai khazzan. Yakni pedagang yang membeli barang dagangan dalam jumlah besar dan menjualnya pada waktu tertentu, yakni ketika harganya tinggi.

Kedua adalah rukadz. Yakni pedagang yang berpindah-pindah dari satu negeri ke negeri lainnya untuk melakukan aktivitas jual-beli.

Ketiga adalah mujhiz. Yaitu pedagang yang menyuplai barang dagangan negerinya melalui sejumlah perwakilannya dengan tujuan memperoleh timbal balik berupa barang dagangan jenis tertentu.

Karena begitu luasnya aktivitas jual beli di negeri-negeri Muslim, maka dibangunlah sejumlah sarana dan fasilitas untuk mendukung hal itu. Fasilitas tersebut antara lain adalah:

Khan dan Wakalah

Khan dan wakalah adalah fasilitas yang dibangun untuk para pedagang rukadz. Para pedagang yang datang dari negeri lain itu perlu singgah dan melakukan aktivitas jual beli, kemudian melanjutkan kembali perjalanan.

Fasilitas ini biasanya dilengkapi dengan tempat peristirahatan, tempat untuk menggelar dagangan, masjid, gudang penyimpanan, jasa penitipan uang dan barang berharga, serta tempat peristirahatan hewan tunggangan. Jika khan memiliki fasilitas tempat untuk tidur, namun wakalah biasanya tidak memiliki fasilitas itu.

Kebanyakan khan dibangun di luar kota, yakni di sepanjang jalur perdagangan. Contohnya adalah Khan Yunus, yang dibangun oleh salah satu pejabat Mamalik di selatan Palestina yang berada di jalur menuju Mesir. Sedangkan wakalah dibangun di dalam kota besar, sebagaimana Wakalah al-Ghauri di Kairo.

Para pedagang memiliki tradisi jika sampai ke khan atau wakalah, mereka menurunkan barang dagangan dari kendaraan, lalu mengambil air wudhu dan shalat dua rakaat. Di saat pedagang melaksanakan shalat, para pedagang lokal berkerumun untuk melihat barang dagangan tersebut. Setelah itu, mereka bertanya mengenai harga, juga mengenai kabar negeri-negeri yang telah dilalui para pedagang.

Qaisariyah

Fasilitas perdagangan lainnya adalah qaisariyah. Ini merupakan kumpulan banyak toko yang berada di bawah kepemilikan perorangan, yang saat ini mirip dengan apa yang disebut mal. Karena milik perorangan, kebanyakan nama qaisariyah dinisbatkan kepada pemilikinya, semisal Qaisariyah Amir Ali, Qaisariyah Raslan, dan Qaisariyah Qadhi Fadhil yang semuanya terdapat di Kairo. Hal ini disebutkan oleh al-Maqrizi dalam al-Khithath.

Pemilik qaisariyah menyewakan toko-tokonya itu kepada para pedagang. Dengan begitu, ia memiliki pemasukan tetap setiap bulannya.

Banyak dari para dermawan yang mewakafkan qaisariyah miliknya untuk kepentingan sosial. Misalnya tokoh legendaris Shalahuddin al-Ayyubi mewakafkan Qaisariyah asy-Syarb untuk para sufi di khaniqah Said as-Su’ada.

Funduq

Jika khan dan wakalah untuk pedagang Muslim, maka funduq adalah fasilitas untuk pedagang non-Muslim yang datang dari Eropa. Mereka membawa barang dagangan yang tidak dimiliki negeri-negeri Muslim dan mereka juga membeli barang dagangan yang tidak ditemukan di Eropa. Perdagangan ini semakin marak ketika sejumlah pemerintahan Salib berkuasa di negeri Syam.

Kebanyakan funduq dibangun di kota-kota pelabuhan seperti Alexandria dan Dimyath serta beberapa kota pesisir di Syam. Funduq memiliki sejumlah fasilitas yang sesuai dengan kebiasaan para pedagang Eropa, termasuk sebuah gereja kecil, disediakan pula dapur untuk memasak roti sesuai dengan menu mereka.

Para pedagang non-Muslim tidak diperbolehkan mengkonsumsi minuman keras kecuali ketika berada di dalam funduq. Mereka juga diharuskan untuk menutup pintu ketika shalat Jumat dan ketika umat Islam melaksanakan shalat.

Penguasa Muslim memberikan perhatian khusus terhadap para pedagang asing. Shalahuddin al-Ayyubi pernah mengundang para pedagang Italia dengan dua tujuan. Pertama, menguatkan perekonomian Mesir dan Syam. Kedua, melemahkan perekonomian Eropa. Seperti dinyatakan dalam suratnya kepada Khalifah Bani Abasiyah, al-Mustadhi’, Shalahuddin melakukan langkah itu juga untuk memperoleh senjata dari Eropa, sebagaimana dicatat oleh Abu Syamah dalam ar-Raudhatain.

Dari aktivitas perdagangan itu, negeri-negeri Muslim akhirnya bisa memiliki militer yang kuat. Akhirnya pihak keuskupan Eropa mengeluarkan perintah kepada para pedagang agar tidak melakukan transaksi di negeri-negeri Muslim. Namun ternyata perintah itu tidak diindahkan oleh para pedagang.

Sumber : Majalah Hidayatullah edisi SEPTEMBER 2016

(fauziya/muslimahzone.com)

No Responses

Leave a Reply

Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
Pesta Seks Bukan Nikmat Terbesar di Surga
Secular Radicalism, The Real Blasphemy
Biasakanlah Anak Minta Izin Ketika Masuk Kamar Orangtua
Meraih Sifat Qana’ah
Curahan Hati Petani
Babak Final Perjuangan Islam
Akhir Hidup Para Tiran
Jangan Sembarangan Menuduh Muslimah Sebagai Pelacur !
Nasehat Tere Liye Seputar Jodoh
Ketika Istri Marah
Mengukur Kembali Rasa Cinta
Agar Bahagia, Sesuaikan Harapan Pernikahan Anda
Mengapa Ayah Lebih Sabar daripada Ibu
Belajar Matematika Untuk Anak Usia Dini, Apa Dulu yang Diajarkan?
Pameran Kehebatan Anak
Apakah Pembicara Parenting Tak pernah Bermasalah dengan Anaknya?
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Mengenal Ulama Hadits Syu’bah bin Al-Hajjaj
Abdurrahman bin Auf ‘Manusia Bertangan Emas’
Ketika Bayi Menendang Perut Ibu
Menikmati Pengalaman Sebagai Ibu Menyusui
Dibalik Ketenaran Blewah di Bulan Ramadhan
Tetap Sehat Berpuasa Ketika Hamil
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Tips Merebus Telur yang Baik
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk