Mahasiswi STIKIM Jakarta Dikeluarkan Karena Bercadar?

MuslimahZone.com  – Sikap phobia atau takut terhadap simbol ke-Islaman seperti cadar atau burka menjadi penyakit keijiwaan yang melanda negeri-negeri Barat. Seperti diketahui bersama, tahun lalu Pemerintah Perancis resmi memberlakukan larangan pemakaian cadar atau hijab syar’i bagi warganya saat berada di tempat umum seperti maal, kampus, dan lain sebagainya.

Setelah Perancis, negara Eropa lainnya yakni Pemerintah Belanda melarang penggunaan cadar, seperti burka dan segala bentuk hijab yang sesuai syar’i lainnya yang menutupi muka di tempat umum. Dan terakhir, pemerintah Swiss akan melarang penggunaan pakaian muslimah, setelah dilakukan referendum terhadap hal tersebut.

Ironi, ternyata islamo-phobia juga nyata-nyata ada di Jakarta. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia Maju (STIKIM) Jakarta bersikap diskriminatif terhadap mahasiswinya yang mengenakan cadar. Seperti yang dilaporkan oleh voa-Islam.com, Sumayyah, mahasiswi baru STIKIM tahun ajaran baru 2013 dikeluarkan pihak kampus hanya karena memakai cadar yang diyakininya sebagai sebuah kewajiban bagi seorang muslimah.

“Pada tanggal 21 September 2013 pada mata kuliah jam kedua, tepatnya jam 13.05 WIB, saya mendapat SMS dari Bu Siti, selaku Sekpro (Sekretaris Program –red) meminta untuk ketemuan,” kata Summayah kepada voa-islam.com, Ahad (22/9/2013) siang.

Awalnya, wanita yang akrab disapa Maya ini berbincang ringan dan santai dengan Bu Siti dan rekannya. Namun kemudian, Bu Siti menyampaikan sikap kampus yang tidak bisa menerima keadaan Maya yang memakai cadar.

 “Awalnya mereka memperkenalkan diri sambil menjabat tangan saya. Awalnya saya di tanya kapan saya mulai memakai cadar, lalu perbincangan selanjutnya mengarah pada sikap pihak kampus terhadap cadar yang saya pakai,” ucapnya.

“Mereka mengatakan bahwa ini adalah kasus spesial dan mereka pribadi tidak melarang dan faham bahwa prinsip saya bersinggungan dengan hak prerogatif (hak istimewa -red) saya kepada Tuhan kata mereka. Tapi mereka menjelaskan bahwa mereka tidak berwenang atas peraturan yang berlaku,” tambahnya.

Akhirnya, pihak kampus yang beralamat di Gedung HZ Jl. Harapan No 50 RT 014/07, Lenteng Agung, Jagakarsa, Jakarta ini memberikan pilihan kepada Maya, jika dirinya ingin tetap sekolah di STIKIM, maka cadarnya harus dibuka saat berada di kampus. Tapi, jika Maya tidak mau mebuka cadarnya selama di kampus maka Maya akan dikeluarkan dari STIKIM.

“Pihak kampus memberikan pilihan yang intinya apabila saya mau mengikuti perkuliahan, maka saya harus membuka cadar,” ujar Maya dengan suara lirih.

Komentar Anda

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Menikah Muda Why Not ?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Anak-anak dan Membaca
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Wanita Muslimah yang Tangguh
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Tips Kecantikan ala Aisyah Istri Nabi
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk