Kunci Anak Agar Remaja Anda Jauh dari Kenakalan

Oleh : Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Muslimahzone.com – Ingin anak anda berkurang perbuatan buruknya? Ingin anak menurut dan patuh pada kita? AKRABLAH DENGAN ANAK ANDA

Seorang ayah di Aceh, dengan mimik sedih bercerita pada saya : “Abah, anak saya perempuan, kelas 2 SMA. Masuk sekolah favorit dan masuk kelas unggulan. Dia tidak bersemangat sekolah. Saya sangat susah mengorek apa yang terjadi. Saat masuk ke kamarnya, ibunya sering sekali menemukan handphone di bawah bantal.”

Saya wawancarai, saya korek. Lalu ujung-ujungnya saya bilang “Mulai sekarang, akrabi anak anda”

Setelah kira-kira dua tahun, ayah ini menelpon saya : “abah, terima kasih. Setelah konsultasi selama 2 tahun, anak saya memang berhenti sekolahnya. Tapi setelah saya mengakrabinya, saya jadi tahu yang dirasakannya. Ia memutuskan kejar paket dan bersemangat hidup lagi. Sekarang ia sudah kuliah di perguruan tinggi sesuai keinginannya.”

Parents, coba periksa anak-anak bermasalah di sekitar anda. Wawancarai dan periksa bagaimana hubungan mereka dengan orangtuanya. Apakah mereka sering diajak ngomong orangtuanya setiap hari? Diajak ngomong loh ya, bukan diomongin!

Wawancarai anaknya ya, bukan orang tuanya. Sebab sebagian orangtua dari anak bermasalah ini sering tidak menyadari bahwa mereka berkontribusi besar terhadap perilaku anaknya sehingga bermasalah meski mungkin tidak disengaja dan tidak disadari.

Ketika anaknya bermasalah, mereka terus saja mengatakan, “Apa yang kurang dari saya? Apa yang kurang? Handphone, mobil, motor, jalan-jalan ke luar negri, semua saya fasilitasi untuk anak saya! Apa lagi yang kurang dari saya?!”

Lalu, orang di sekitar Anda mungkin ada juga yang berkomentar, “yang kurang adalah teladan!” Apakah yakin karena kurang teladan?

Coba periksa orang-orang di sekitar anda. Tak sedikit anak yang ayahnya rajin shalat ke mesjid, anaknya begitu santai menunda-nunda shalat di rumah. Kurang teladan apa?

Anda lihat ke desa-desa. Sebagian ayah mereka bekerja keras di sawah atau ladang, sementara sebagian anaknya asyik Facebook-an. Kurang teladan apa?

Atau anda lihat sebagian anak pejabat, orangtuanya kaya, pengusaha sukses, ayahnya sukses jadi pejabat atau pengusaha, tetapi sebagian anaknya menghamburkan uang ayahnya, mengoleksi mobil atau motor balap, nongkrong di jalan, kongkow di kafe tiap hari menghabiskan uang orang tuanya. Kurang teladan apa?

Atau anda juga akan berkata, “kurang perhatian, kali!”

Mereka juga tak akan kalah argumen. Sebagian akan berkata, “Apa? Kurang perhatian? Anda tahu tidak, saya sudah bosan menasihati anak saya. Saya nasihati anak saya tiap hari. Itu kan bentuk perhatian dan kasih sayang saya”

Bahwa teladan itu penting, saya setuju. Itu hal “wajib a’in” yang tak usah lagi diperdebatkan. Bahwa perhatian itu penting, saya juga setuju. Tapi apakah menasihati anak tiap hari akan diterima anak sebagai sebuah bentuk perhatian?

Coba tanya anak, siapa di antara mereka yang betah dinasihati tiap hari? Bagaimana dengan anda? Posisikan diri anda sebagai anak, apakah dinasihati tiap hari itu membuat anda merasa diperhatikan? Merasa dicintai dan disayangi?

Mana yang membuat anda merasa disayangi orangtua anda : DIOMONGI orang tua tiap hari atau DIAJAK NGOMONG orangtua tiap hari?

Ini hasil riset tidak langsung saya. Ini fakta yang dapat anda temukan di sekitar anda dan mungkin tidak anda sadari. Ini bukti nyata yang sangat mudah anda temukan. Lihat kiri kanan anda.

Ajukan pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Siapa di antara anda yang waktu remaja dahulu sering curhat pada orang tua?
Dari sekian ribu yang ditanya, hanya sebagian kecil saja yang mengangkat tangan. Ciri akrab yang sederhana adalah sangat terbuka menceritakan masalah, mulai dari lawan jenis yang disukai, pelajaran, pertemanan, dll. Sering diajak ngomong orangtua, bukan hanya diomongin orangtua (beda, kan?)

2. Kepada yang akrab dengan orangtuanya ini, saya ajukan pertanyaan lagi : apakah anda merasa dekat dan lebih mudah mendengar nasihat orangtua plus jadi lebih menurut atau justru jadi lebih sering membantah orangtua? Jawaban mereka hampir kompak, “jadi lebih nurut dengan orang tua”

Banyak orangtua menyangka agar anak dapat dengan mudah dikuasai, agar anak patuh dan menurut, agar anak menghormati orangtua, adalah dengan mengedepankan hukuman fisik berupa kekerasan pada anak.

Bahkan dari sekira 100 di 27 propinsi yang sudah menyelenggarakan program pendidikan orangtua dengan saya, kekerasan fisik masih dilakukan sebagian kecil orangtuapada anak adalah seolah masih disebut keniscayaan. Istilah “kalau tidak dipukul, anak akan kurang ajar”, masih saja ada yang meyakininya.

Bahwa mencubit atau memukul supaya anak menjadi patuh, bisa jadi betul. Coba diingat-ingat kita yang pernah atau sering dicubit waktu kecil, apakah kepatuhan itu betul karena kesadaran atau karena TAKUT?

Kepatuhan karena keakraban sangat berbeda. Anak yang tanpa dipukul, tanpa dicubit, tanpa dibentak, ternyata lebih mudah dikuasai orangtuanya. Lebih mudah mendengar orangtuanya, lebih mudah patuh.

Bahkan saya ingin “memprovokasi” anda lebih keras lagi berkaitan dengan masalah keakraban ini. JANGAN PERNAH MENCOBA MENDISIPLINKAN ANAK JIKA ANDA TIDAK PERNAH MEMILIKI KEDEKATAN EMOSIONAL DENGAN ANAK.

Mendisiplinkan anak tanpa disertai kelengketan emosional hanya akan membuat hubungan orangtua dengan anak menjadi hubungan yang kering, garing, atau hubungan tanpa makna dan tanpa jiwa. Hubungan seperti ini hanya akan menjadi seperti “komandan dan prajurit” yang formalitas dan minim ekspresi emosi positif.

Fungsi pertama keakraban dengan anak adalah “penjaga kedamaian hati anak”. Ketika anda mendisiplinkan anak, ketika anda mencoba menghentikan perilaku buruk anak, maka suatu saat anda tidak dapat menghindari untuk memberikan konsekuensi pada anak.

Ketika anak berlebihan main game atau nonton tv, misalnya, anda bisa jadi mencabut hak main game atau nonton tvnya. Lalu karena tidak nyaman, kemudian anak mencoba mengekspresikan ketidaknyamanannya kepada orangtuanya “Ayah jahat!” atau “Mama tidak sebaik nenek” atau “temanku tidak pernah dibatasi nonton, kenapa aku dibatasi?!”

Dengan menerapkan hukuman atau konsekuensi pada anak, suatu saat anda akan sampai pada suatu titik keraguan yang akan menggoda anda untuk tidak konsisten menjalankan ketegasan anda. Mungkin sebagian orang tua khawatir “Apakah saya ini akan dianggap anak sebagai ayah/ibu yang jahat dan tidak sayang anak?”

Ada juga seorang ibu berkata dengan mimik sedih “Ya Allah..abah, anak saya ngomong saya jahat. Sedih betul saya!”

Saya akan katakan : TIDAK AKAN PERNAH! tidak akan pernah anak memiliki pemikiran dan perasaan bahwa anda adalah ayah atau ibu yang jahat meski mulutnya bicara seperti itu. Tidak akan pernah anak memiliki pikiran orangtuanya jahat hanya karena anda memberikan konsekuensi pada anak.

Bahwa anak tidak nyaman saat diberi konsekuensi, itu benar! Namun, konsekuensi tidaklah berarti otomatis akan membuat anak kemudian beranggapan bahwa orangtuanya tidak sayang padanya. Selama anda menjaga keakraban dengan anak. Itu hanya EKSPRESI EMOSIONAL sesaat dari anak.

Fungsi kedua keakraban adalah “pemupuk kasih sayang”. Maksud saya begini. Orangtua yang akrab dengan anaknya adalah tanda bahwa mereka menyediakan sebagian tubuh, waktu, pikiran, dan perasaan mereka untuk anak. Mereka memupuk cinta pada diri anak-anaknya. Tidak hanya sebatas merasa sayang dalam “pikiran”, tapi mengekspresikan kasih sayang itu secara konkret dalam tindakan nyata.

Maaf jika agak melebar sedikit. Pernah mendengar kisah nyata suami setia yang tidak pernah menikah lagi meski istrinya bertahun-tahun menderita penyakit? Pernah mendengar cerita cinta Habibie dan Ainun yang melankolis itu? Pernah mendengar cerita Muhammad sang Rasulullah yang ketika berumahtangga dengan Khadijah tidak melakukan poligami sama sekali?

Semua lelaki ini mungkin memiliki sejumlah alasan. Jauh hari sebelum sang istri sakit, jauh hari ketika sang Ainun meninggalkan dunia, jauh hari sebelum sang Rasulullah menjadi penguasa, para perempuan ini memiliki persamaan : mereka memberikan cinta terbaik mereka untuk suami mereka. Mereka membangun ikatan emosional dengan suami mereka. Menjalin keakraban.

Apa yang saya ingin ungkapkan adalah ketika kita merasa dicintai dengan sebenar-benarnya, ada perasaan tak nyaman jika kita menyakiti orang yang memberikan cinta itu. Semua lelaki, yang tak bersedia melakukan poligami di atas -meski mereka bisa melakukannya- bisa jadi karena memiliki perasaan tidak nyaman untuk melakukannya. Saking karena merasa sangat dicintai sang istri.
Demikian pula anak-anak kita.

Sekarang, anda coba fokuskan pikiran. Bayangkan anda adalah remaja lelaki berusia 14 tahun. Bayangkan anda sering menghabiskan waktu untuk kegiatan bersama ayah (walau tidak setiap hari). Atau setiap akhir pekan anda bersepeda atau main bulu tangkis dengan orangtua anda. Anda punya kegiatan insidental setiap bulan dengan orangtua. Dua bulan lalu kemping ke gunung, bulan lalu mancing di sungai. Pekan ini anda nonton bola di stadion bersama. Sementara musim liburan sekolah nanti, anda sudah bersepakat akan keluar kota selama 4 hari.

Kira-kira apa perasan yang muncul dalam benak anda? Lalu, apa yang akan anda berikan untuk orangtua anda?

Atau, bayangkan anda seorang anak perempuan, usia 13 tahun. Setiap hari anda bebas cerita masalah anda pada ibu anda di kasur, di meja makan, di sofa. Jika ada masalah, pasti anda akan meminta pendapat ibu anda. Ketika anda difitnah teman, anda menangis sesenggukan di pangkuan ibu. Lalu punggung anda diusap-usap ibu.

Anda pun sering melakukam kegiatan bersama ibu. Bulan lalu, anda diajak kursus membuat brownies. Ibu anda selalu menyempatkan nonton pertandingan basket anda meski kadang terlambat datang.

Kira-kira apa pula perasaan yang muncul dalam benak anda? Lalu apa yang ingin anda berikan untuk orangtua anda?

Apapun jawabannya, insya Allah yang positif kan? Mungkin sebagian anda akan rajin berdoa dan mendoakan orangtua “Ya Allah..aku sayang ayahku. Jaga ayahku, ya Allah. Bantu aku jadi anak yang menyenangkan orangtuaku, ya Allah”

Jadi, tidak berlebihan rasanya jika saya ingin mengatakan pada anda: ANDAIKAN SEMUA ORANGTUA DI DUNIA AKRAB DENGAN ANAKNYA, RASANYA KITA AKAN SULIT MENEMUKAN ANAK BERMASALAH DI DUNIA INI : terkena narkoba, hamil di luar nikah, tawuran, dsb

Buku “7 kiat orang tua shalih menjadikan anak disiplin dan bahagia” karya Ihsan Baihaqi halaman 40-47

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk