Kita atau Televisi yang Lebih Penting Bagi Anak?

Muslimahzone.com – Sebuah layar kaca bernama televisi rasanya sudah hampir memasuki setiap sudut rumah keluarga Muslim. Keberadaannya bahkan telah menggantikan peran orangtua bagi sebagian anak. Apakah ini berbahaya? Tentu saja.

Perilaku anak dapat terbentuk karena 4 hal:

  1. Siapakah yang lebih dulu mengajarkan kepadanya sebuah informasi yang menjadi dasar pemikirannya, kita atau TV?
  2. Siapa yang dia percaya, apakah anak percaya pada kata-kata kita sebagai orangtua atau ketepatan waktu program-program TV?
  3. Siapa yang cara menyampaikan informasinya lebih menyenangkan, apakah kita ketika menasehatinya atau program-program TV yang lebih menyenangkan?
  4. Siapa yang sering menemaninya: kita atau TV?

Dari 4 pertanyaan tersebut, tentu kita dapat menyimpulkan hasil akhir berupa perilaku anak yang terbentuk karena informasi terus-menerus yang dia dapatkan.

Pertama, informasi awal yang diterima atau kita sebut sebagai maklumat tsabiqoh adalah hal yang sangat penting yang menjadi salah satu komponen dalam terbentuknya sebuah pemikiran. Jika informasi yang diterima anak salah, maka dikhawatirkan akan membentuk pemikiran anak menjadi pemikiran yang salah pula. Pemikiran akan menjelma menjadi pemahaman dan keyakinan yang terealisasi menjadi sebuah tindakan atau biasa kita sebut perilaku.

Coba kita bayangkan seandainya anak melihat tayangan bahwa mencuri itu boleh seperti tokoh Robin Hood misalnya, harta yang dicuri dibagikan ke fakir miskin. Maka anak tidak mengetahui bagaimana konsep kepemilikan, mana yang halal dan haram. Dia hanya tahu bahwa tokoh idolanya melakukan itu dan orang-orang membolehkannya. Maka pemahaman ini tentu akan sangat berbahaya. Belum lagi informasi-informasi lainnya yang tidak terbendung arusnya.

Kedua, bayangkan bagaimana jika anak lebih percaya dan taat pada televisi dibanding apa yang kita sampaikan. Misalnya, dia lebih menganggap penting program TV favoritnya dibanding perintah untuk melaksanakan shalat.

Seorang anak harus ditanamkan perilaku baik sejak dini. Apa yang dia yakini haruslah berupa kebenaran yang datang dari sumber yang benar. Kita meyakini sumber tersebut haruslah Al Qur’an dan sunnah sehingga anak akan terbimbing memiliki perilaku yang mulia.

Ketiga, sudah kita ketahui bersama bahwa televisi adalah media kapitalisme dalam memasarkan produk mereka. Maka apa yang disajikan televisi pastilah telah dikemas semenarik mungkin agar layak tonton. Dan jika orangtua tidak pandai dalam menyampaikan nasehat menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi anak, sudah dapat ditebak siapa yang akan lebih mereka dengar atau terima.

Keempat, tidak dapat dipungkiri bahwa tidak hanya kualitas yang penting dalam pendampingan tumbuh kembang anak. Kuantitas juga menjadi penunjang seberapa sukses kita menjadi ‘teman’ anak. Siapakah yang lebih banyak menemani mereka, ada saat mereka kesepian, membutuhkan solusi, maka dialah yang akan menjadi sahabat mereka.

Apa yang seharusnya kita lakukan?

Dari 4 hal tersebut dapat disimpulkan bahwa peran utama orangtua sebagai pendidik seharusnya tidak boleh tergantikan oleh sebuah kotak benda mati.Televisi tidak boleh menjadi agen pendidikan bagi anak mengingat dampaknya yang luar biasa bagi perilaku anak.

Maka salah satu solusi adalah dengan membangun komunikasi dan kedekatan dengan mengevaluasi 4 hal tersebut yang menjadi faktor pembentuk perilaku anak kita. Gantilah dengan kegiatan di rumah atau di luar rumah yang padat bagi anak-anak. Ganti pula program TV dengan film-film pengetahuan yang lebih mendidik dan menantang mulai dari kartun hingga CD dalam bentuk permainan edukatif. Semoga ini bisa memberikan sedikit solusi bagi orangtua.

Dan faktor yang terpenting yaitu menanamkan akidah Islam yang benar secara utuh kepada anak agar fondasi perilaku mereka menjadi kokoh dan lurus sebagaimana yang kita harapkan.

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Pesta Seks Bukan Nikmat Terbesar di Surga
Secular Radicalism, The Real Blasphemy
Biasakanlah Anak Minta Izin Ketika Masuk Kamar Orangtua
Meraih Sifat Qana’ah
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Hati-hati Merusak Kebahagiaan Orang Lain Tanpa Sadar
Berhenti Menghujat Saudara Sendiri di Sosial Media
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Nasehat Tere Liye Seputar Jodoh
Ketika Istri Marah
Tepuk Anak Sholeh dan Benih Radikalisme
Kerap Terlupakan Orangtua Mendidik Adab Anak
Mengapa Ayah Lebih Sabar daripada Ibu
Belajar Matematika Untuk Anak Usia Dini, Apa Dulu yang Diajarkan?
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Jika Telah Caesar 3x, Apakah Boleh Steril/Tubektomi?
Sharing : Melahirkan Hanya 3 Kali Mengejan
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk