Keutamaan Ilmu

Muslimahzone.com – Menuntut ilmu tak semata menunaikan kewajiban yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan, tetapi juga sebuah tuntutan agar hidup kita terus berkembang. Karena tanpa ilmu, hidup kita jauh dari kebaikan. Seperti diingatkan oleh Imam Syafi’i, “Siapa yang tidak mencintai ilmu (agama), tidak ada kebaikan untuknya”

Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu juga mengingatkan, “Tuntutlah ilmu (belajarlah Islam) karena mempelajarinya adalah suatu kebaikan untukmu. Mencari ilmu adalah suatu ibadah . Saling mengingatkan akan ilmu adalah tasbih . Membahas suatu ilmu adalah jihad. Mengajarkan ilmu pada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah. Mencurahkan tenaga untuk belajar dari ahlinya adalah suatu qurbah – bentuk pendekatan diri kepada Allah”

Satu hal yang harus ditekankan dalam menuntut ilmu adalah kemurnian niat. Belajar semata karena Allah. Bukan untuk mengejar kesenangan dunia, kehormatan, popularitas, atau untuk memiliki kemampuan dalam mendebat ulama’

Nabi bersabda, “Barangsiapa yang mempelajari ilmu yang seharusnya ia niatkan untuk mengharap wajah Allah ‘Azza wa Jalla, namun ia malah niatkan untuk menggapai dunia, maka di hari kiamat ia tidak akan mencium bau surga” (HR. Abu Daud no. 3664 dan Ibnu Majah no. 252, dari Abu Hurairah ra)

Tantangan terbesar bagi penuntut ilmu diantaranya komitmen untuk menimba ilmu dengan mengorbankan harta, tenaga, dan waktu. Seperti yang diingatkan oleh Imam Malik rahimahullahu.

Diriwayatkan saat Khalifah Harun Ar-Rasyid sedang bersafar ke Madinah, beliau tertarik mengikuti kajian Al-Muwaththa’ Imam Malik, yang menghimpun 100.000 hadits. Khalifah mengutus Yahya bin Khalid al-Barmaki untuk memanggil Imam Malik.

Namun, Imam Malik menolak seraya berkata kepada utusan khalifah itu, “Ilmu itu dikunjungi, bukan mengunjungi; didatangi, bukan mendatangi.”

Akhirnya, terpaksa Khalifah Harun ar-Rasyid mendatangi Imam Malik dan duduk di majelisnya.

Kisah Inspiratif Para Penuntut Ilmu

Sebagaimana telah diketahui bahwa mempelajari ilmu agama memiliki keutamaan yang begitu banyak. Di antara keutamaan tersebut tersirat dalam sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam berikut,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ

“Barangsiapa dikehendaki baginya kebaikan oleh Allah, Maka Dia akan memberikan pemahaman agama kepadanya.” [HR Bukhari dan Muslim dari Muawwiyah radhiyallahu anhu]

Pada tulisan kali ini kami ingin sedikit menampikan cuplikan kisah para penuntut ilmu baik dari kalangan Nabi, sahabat maupun ulama’ setelah mereka.  Semoga kita bisa mengambil faedah dari cuplikan kisah mereka.

1. Kisah Nabi Musa alaihissalam

Tidak hanya manusia biasa, para Nabi pun juga menuntut ilmu. Diantaranya Nabi Musa , alaihissalam, kalimurahman. Beliau menutut ilmu pada Khidzir alaihissalam, sebagaimana Allah kisahkan dalam surat al Kahfi ayat 60-82.  Dari firman Allah ta’ala,

وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِفَتَاهُ لَا أَبْرَحُ حَتَّىٰ أَبْلُغَ مَجْمَعَ الْبَحْرَيْنِ أَوْ أَمْضِيَ حُقُبًا

Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya: “Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun”.

Sampai perkataan Khidhir,

وَمَا فَعَلْتُهُ عَنْ أَمْرِي ۚ ذَٰلِكَ تَأْوِيلُ مَا لَمْ تَسْطِع عَّلَيْهِ صَبْرًا

“Bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya”. (QS Al Kahfi: 82)

Faedah dari kisah ini bahwa para nabi pun juga menuntut ilmu. Faedah lainnya, bahwa jangan sampai kita merasa sombong dan tidak mau menuntut ilmu pada orang yang dibawah kita. Nabi Musa lebih mulia karena beliau termasuk seorang Nabi ulil azmi, sedang Khidir masih diperselisihkan kenabiaanya. Faedah lainnya juga bahwa hendaknya kita melakukan safar untuk menuntut ilmu.

2. Kisah Abu Hurairah radhiyallahu anhu

Para sahabat sangat semangat menuntut ilmu dari Rasulullah shallallahu alaihi wassallam. Diantara sahabat yang menonjol adalah Abu Hurairah, yang mana beliau adalah sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits (5374 hadits). Nama beliau adalah Abdurrahman bin Shokhr Ad Dausi al Yamani. Masuk Islam agak akhir yaitu sekitar tahun ke 7 Hijriyah saat perang Khaibar sehingga sekitar 4 tahun beliau hidup bersama Nabi. Diantara sebab beliau banyak meriwayatkan hadits dibanding sahabat lainnya:

  • Beliau ahlushshufah yang berdiam di Masjid Nabawi
  • Beliau fokus mengikuti Nabi kemanapun beliau pergi
  • Beliau memiliki hafalan yang kuat berkat do’a Nabi
  • Beliau hidup lama setelah Rasulullah wafat (beliau wafat sekitar 57H)

Beliau berkata, “Kalian akan menyatakan, bahwa Abu Hurairah banyak meriwayatkan hadits. Dan Allahlah tempat (untuk membuktikan) janji. Juga mengatakan ‘Mengapa orang-orang Al Muhajirin dan Anshor tidak banyak meriwayatkan hadits, seperti periwayatan Abu Hurairah?’ Sungguh, saudara- saudaraku dari Muhajirin disibukkan dengan jual-beli di pasar. Sedangkan saudara- saudaraku dari Anshor disibukkan oleh pengelolaan harta mereka. Adapun aku seorang miskin yang selalu mengikuti Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam selama perutku berisi. Aku hadir saat mereka tidak hadir, dan aku ingat dan paham saat mereka lupa.”

Faedah dari kisah Abu Hurairah adalah hendaknya  sabar diatas penderitaan dalam menuntut ilmu. Beliau rela menjadi ahlusshufah yang penuh keterbatasan secara ekonomi demi belajar pada Rasulullah. Faedah yang lainnya adalah hendaknya kita selalu semangat dalam belajar, memanfaatkan waktu sebaik-baiknya dan mulazamah pada seorang yang berilmu.

3. Kisah Ibnu Abbas radhiyallahu anhu

Ibnu Abbas adalah ahli tafsir dan anyak meriwayatkan hadits juga (terbanyak ke 5, setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik dan Ummul Mukminin Aisyah).  Dia adalah putera Abbas bin Abdul Mutthalib bin Hasyim, paman Rasulullah dan ibunya adalah Ummul Fadl Lababah binti harits saudari ummul mukminin Maimunah.

Beliau menuntut ilmu sejak kecil. Beliau kadang menginap di rumah bibinya Maimunah untuk agar dapat belajar dari Rasulullah. Ia mendapat keberkahan do’a Rasulullah. Rasulullah pernah mendoakannya “Ya Allah berilah ia pengertian dalam bidang agama dan berilah ia pengetahuan takwil (tafsir)”

Setelah Rasulullah wafat beliau banyak menimba dari para sahabat yang masih hidup. Suatu saat beliau pernah mendatangi salah seorang sahabat diwaktu siang untuk mendengar hadits darinya. Ternyata sahabat tersebut sedang istirahat siang.

Maka Ibnu Abbas pun menunggu di depan pintu dan ketiduran disitu sampai mukannya terkena debu. Ketika sahabat tersebut membuka pintu maka ia terkaget melihat Ibnu Abbas.

Ia pun mengatakan, “Wahai anak paman Rasulullah, apa yang membuat engkau datang? Kenapa engkau tidak mengutus salah seorang agar aku mendatangimu? Ibnu Abbas menjawab, Tidak, akulah yang lebih berhak mendatangimu. Telah sampai hadits kepadaku darimu bahwa engkau mendengar dari Rasulullah. Aku ingin mendengar langsung darimu.”

Salah satu faedah dari kisah Ibnu Abbas adalah hendaknya memanfaatkan waktu muda untuk belajar. Faedah lainnya yaitu menghormati ilmu dan ahli ilmu. Beliau mendatangi para sahabat untuk mendapat ilmu karena beliau merasa butuh dengan ilmu.

Dikisahkan pula ibnu Abbas melihat Zaid bin Tsabit mau menaiki tunggangannya. Maka Ibnu Abbas pun berdiri di depannya, lalu memegang tunggangan tersebut agar Zaid naik dan mengambil tali kekangnya.

Zaid pun mengatakan padanya, ”Tinggalkan itu wahai anak paman Rasulullah!” Abdullah menjawab “Demikian kami diperintah untuk memperlakukan (menghormati) ulama kami.”  Zaid pun mengatakan, “Keluarkan tanganmu”.

Lalu Ibnu Abbas mengeluarkan tangannya lalu Zaid menciumnya dan berkata, “Demikian kami diperintah untuk memperlakukan ahli bait Rasulullah.”

4. Kisah Imam Syafii rahimahullah

Imam Syafii adalah salah satu diantara aimmatul arba’ah (4 imam madzab Fikih). Beliau terkenal sebagi nashirussunnah (penolong sunnah) dan peletak ilmu ushul fikih.  Nama beliau adalah Muhammad bin Idris As Syafii, lahir tahun 150 H di palestina.  Ayah beliau wafat di masa muda.

Ketika berumur dua tahun, beliau dibawa ibunya ke negeri Hijaz dan berbaur dengan penduduk negeri itu yang keturunan Yaman karena sang ibu berasal dari kabilah Azdiyah (dari Yaman).  Lalu ketika berumur 10 tahun, beliau dibawa ke Mekkah.

Beliau hafal al Qur’an sebelum baligh. Beliau banyak belajar pada ulama’ Mekah saat itu diantaranya Sufyan bin Unaiyah, Fudhail bin Iyadh dan lainnya. Beliau juga belajar bahasa Arab pada suku pedalaman sekitar Makah. 

Salah seorang guru beliau membolehkan beliau untuk berfatwa disaat usia beliau masih sangat beliau.

Lalu beliau ke Madinah untuk belajar pada ahlul hadits di kota Nabi tersebut.  Beliau pun belajar pada Imam Malik sampai beliau wafat. Usia imam Syafii saat itu sekitar 29 tahun. Kemudian beliau balik ke Makah kemudian ke Yaman. Di Yaman nama beliau semakin tenar. Beliau lalu difitnah ikut dalam gerakan yang ingin memberontak pada khalifah.

Akhirnya beliau dibawa ke Baghdad, tetapi tuduhan pada beliau tidak terbukti. Lalu beliau belajar pada ahlur ra’yi di Baghdad, diantaranya Mumammad bin Hassan- salah seorang sahabat Imam Abu Hanifah yang menonjol-. Beliau pun mengabungkan fikih ahlul hadits dan ahlur ra’yi.

Setelah itu beliau kembali ke Makah dan mengajar di sana cukup lama kemudian kembali lagi ke Baghdad.  Setelah kondisi Baghdad tidak kondusif lagi beliau kemudian pindah ke Mesir dan menyebarkan madzhabnya disana. Beliau tinggal di Mesir sampai wafat beliau.

Salah satu faedah dari kisah Imam Syafii ini adalah bahwa jangan sampai kita segera puas dalam belajar. Meskipun beliau sudah mendapat izin untuk berfatwa di masa muda beliau tetap terus belajar.

Beliau belajar pada Imam Malik sampai beliau wafat. Beliau juga belajar pada ulama’ Baghdad padahal saat itu beliau juga sudah cukup terkenal.

5. Kisah Imam Bukhari rahimahullah

Tentu tidak ada yang asing lagi dengan Imam Bukhari, pengarang Jami’ Shahih yang merupakan kitab karangan manusia yang paling shahih. Imamnya para ahlil hadits. Muhammad bin Ismail al Bukhari lahir 194 H di daerah Bukhara. 

Beliau memiliki kecerdasan dan kekuatan hafalan yang luar biasa. Beliau menghafal al Qur’an sejak kecil. Beliau memulai menekuni ilmu agama sejak belia pula. Beliau memiliki kecintaan yang besar pada ilmu hadits.

Muhammad bin Abi Hatim Warraq Al Bukhari menceritakan: Aku mendengar Bukhari mengatakan, “Aku mendapatkan ilham untuk menghafal hadits ketika aku masih berada di sekolah baca tulis (kuttab).” Aku berkata kepadanya, “Berapakah umurmu ketika itu?” Dia menjawab, “Sepuluh tahun atau kurang dari itu. Kemudian setelah lulus dari Kuttab, aku pun bolak-balik menghadiri majelis haditsnya Ad-Dakhili dan ulama hadits lainnya. Suatu hari tatkala membacakan hadits di hadapan orang-orang dia (Ad-Dakhili) mengatakan, ‘Sufyan meriwayatkan dari Abu Zubair dari Ibrahim.’ Maka aku katakan kepadanya, ‘Sesungguhnya Abu Zubair tidak meriwayatkan dari Ibrahim.’ Maka dia pun menghardikku, lalu aku berkata kepadanya, ‘Rujuklah kepada sumber aslinya, jika kamu punya.’ Kemudian dia pun masuk dan melihat kitabnya lantas kembali dan berkata, ‘Bagaimana kamu bisa tahu wahai anak muda?’ Aku menjawab, ‘Dia adalah Az Zubair (bukan Abu Zubair, pen). Nama aslinya Ibnu Adi yang meriwayatkan hadits dari Ibrahim.’ Kemudian dia pun mengambil pena dan membenarkan catatannya. Dan dia pun berkata kepadaku, ‘Kamu benar’. Menanggapi cerita tersebut, Bukhari ini Warraq berkata, “Biasa, itulah sifat manusia. Ketika membantahnya umurmu berapa?” Bukhari menjawab, “Sebelas tahun.” (Hadyu Sari, hal. 640)

Suatu ketika Bukhari rahimahullah datang ke Baghdad. Para ulama hadits yang ada di sana mendengar kedatangannya dan ingin menguji kekuatan hafalannya. Mereka pun mempersiapkan seratus buah hadits yang telah dibolak-balikkan isi hadits dan sanadnya, matan yang satu ditukar dengan matan yang lain, sanad yang satu ditukar dengan sanad yang lain. Kemudian seratus hadits ini dibagi kepada 10 orang yang masing-masing bertugas menanyakan 10 hadits yang berbeda kepada Bukhari. Setiap kali salah seorang di antara mereka menanyakan kepadanya tentang hadits yang mereka bawakan, maka Bukhari menjawab dengan jawaban yang sama, “Aku tidak mengetahuinya.” Setelah sepuluh orang ini selesai, maka gantian Bukhari yang berkata kepada 10 orang tersebut satu persatu, “Adapun hadits yang kamu bawakan bunyinya demikian. Namun hadits yang benar adalah demikian.” Hal itu beliau lakukan kepada sepuluh orang tersebut. Semua sanad dan matan hadits beliau kembalikan kepada tempatnya masing-masing dan beliau mampu mengulangi hadits yang telah dibolak-balikkan itu hanya dengan sekali dengar. Sehingga para ulama pun mengakui kehebatan hafalan Bukhari dan tingginya kedudukan beliau (lihat Hadyu Sari, hal. 652)

Beliau banyak melakukan pengembaraan untuk mencari hadits. Banyak sekari daerah yang ia kunjungi seperti Madinah, Makah, Syam, Mesir, Baghdad dan lainya. Beliau sendiri mengatakan memiliki lebih dari seribu guru yang beliau tulis haditsnya. Diantara gurunya yang terkenal adalah Imam Ahmad bin Hambal, Imam Ali bin Madini, dan Yahya bin Ma’in.  

Di antara sebab beliau dapat memiliki banyak guru adalah beliau memulai belajar ilmu sejak kecil dan beliau banyak berkelana mencari ilmu.  Beliau juga memiliki banyak murid yang menjadi ulama’ besar dalam hadits seperti Imam Muslim, Imam Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Imam Abu Hatim, Imam Ibnu Abi Dunya, dan lainnya. Beliau wafat tahun 256H.

Referensi:

  • Fanpage Hizbut Tahrir Indonesia
  • ukhuwahislamiah.com

(fauziya/muslimahzone.com)

No Responses

Leave a Reply

Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Pesta Seks Bukan Nikmat Terbesar di Surga
Secular Radicalism, The Real Blasphemy
Biasakanlah Anak Minta Izin Ketika Masuk Kamar Orangtua
Meraih Sifat Qana’ah
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Hati-hati Merusak Kebahagiaan Orang Lain Tanpa Sadar
Berhenti Menghujat Saudara Sendiri di Sosial Media
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Nasehat Tere Liye Seputar Jodoh
Tepuk Anak Sholeh dan Benih Radikalisme
Kerap Terlupakan Orangtua Mendidik Adab Anak
Mengapa Ayah Lebih Sabar daripada Ibu
Belajar Matematika Untuk Anak Usia Dini, Apa Dulu yang Diajarkan?
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Jika Telah Caesar 3x, Apakah Boleh Steril/Tubektomi?
Sharing : Melahirkan Hanya 3 Kali Mengejan
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk