Ketika Harus Menghukum Anak

MuslimahZone.com Salah satu bagian tersulit menjadi orangtua dan pendidik adalah ketika memberikan hukuman kepada anak atau peserta didik. Karena menghukum dengan cara yang tidak tepat membawa banyak efek buruk terhadap anak-anak. Jika kita impulsif (hanya mengikuti suasana hati) dan tidak konsisten dalam memberikan hukuman, anak akan merasa dilecehkan. Ia menganggap orangtua sewenang-wenang. Selanjutnya anak dapat menjadi pribadi yang memberontak atau malah menjadi minder, penakut atau bahkan pengecut. Tetapi mendidik anak tanpa aturan yang harus dihormati, bisa membuat anak tidak mampu mengendalikan diri. Mereka bisa menjadi pribadi a-sosial, pribadi yang tidak mampu bermasyarakat.

 Dalam Saat Berharga untuk Anak Kita, Ustadz Faudzil Adhim memerikan beberapa poin yang perlu diperhatikan ketika kita harus menghukum anak:

Pertama, menghukum anak bukan sebagai luapan emosi, apalagi sebagai pelampiasan rasa jengkel karena perilaku mereka yang memusingkan kepala. Segala sesuatu berawal dari niat. Tampaknya sepele, tetapi yang sepele ini mempengaruhi sikap kita, dan cara kita bersikap akan mempengaruhi  penerimaan anak. Dengan selalu membenahi niat kita dalam menghukum anak, perilaku kita akan lebih terkendali.

Kedua, menghukum merupakan tindakan mendidik agar anak memiliki sikap yang baik. Hal terpenting dalam menghukum adalah anak mengerti apa yang seharusnya dilakukan dan memahami apa yang menyebabakan dia dihukum. Jika anak menyadari kesalahannya dan memperbaiki sikapnya, orangtua perlu memberi umpan balik yang positif. Tidak layak orangtua terus memberi tekanan mental kepada anak, padahal mereka telah menunjukkan penyesalan. Sebaliknya, yang perlu kita berikan adalah dukungan dan penerimaan yang tulus.

Ketiga, tindakan memberi hukuman adalah dalam rangka mengajari anak bahwa setiap perbuatan punya konsekuensi. Orangtua menghukum anak bukan untuk membalaskan rasa jengkel atau untuk mempermalukan anak. Karena jika anak merasa dipermalukan oleh hukuman kita, citra diri dan harga dirinya akan hancur. Ia belajar menjadi pemberontak, ia belajar membalas sakit hatinya, akan merasa senang apabila bisa membuat orangtuanya marah. Atau boleh jadi sebaliknya, anak merasa minder. Anak merasa dirinya tidak berharga.

Keempat, hukumlah anak, tapi jangan sakiti dia. Acapkali kita bermaksud menghukum anak, tetapi yang terjadi adalah menyakiti hati anak. Kita memojokkan anak dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya mati kutu. Atau menghujani anak dengan ancaman-ancaman yang menakutkan, meskipun anak sudah menunjukkan itikad baik.

Kelima, tetaplah berpikir jernih saat menghukum anak. Keputusan-keputusan dapat kita ambil hanya ketika pikiran kita jernih. Tanpa itu, tindakan kita justru bisa memperpanjang masalah dan memperumit keadaan. Begitu kemarahan memuncakakibat ulah anak-anak yang senantiasa berteriak-teriak, kita perlu segera meredakan gejolak. Kita perlu mendinginkan emosi. Jika kita tidak mampu melakukannya, tugas suami atau istri untuk mengingatkan.

Keenam, kasih sayang mendahului kemarahan. Meskipun kita memberi hukuman kepada anak, tunjukkanlah bahwa kita melakukannya karena didorong oleh rasa cinta dan kasih sayang. Imbasnya, jangan berat hati untuk mengusap kepala mereka atau mengecup keningnya dengan mesra ketika mereka menunjukkan keinginannya untuk memperbaiki diri. Tunjukkanlah kasih sayang sesudah menghukum, meski hati masih bergemuruh karena rasa jengkel yang belum pergi.

Wallahu’alam bish-shawab.

(esqiel/muslimahzone.com)

Komentar Anda

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Menikah Muda Why Not ?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Anak-anak dan Membaca
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Wanita Muslimah yang Tangguh
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Tips Kecantikan ala Aisyah Istri Nabi
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk