Ketika Doa Ibrahim Al Khalil Dikoreksi oleh Allah Subhanahu Wata’ala

Muslimahzone.com“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al Qalam: 4)

Ayat ini merupakan ayat yang ditujukan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam  sebagai pujian, karena Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam memang terbukti berakhlak agung. Hal ini juga menunjukkan bahwa kebenaran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam bukanlah ajaran kosong atau teoritis semata, melainkan ajaran yang konkrit dan memiliki teladan nyata.

Rupanya pujian Allah kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam atas akhlak beliau yang agung berawal dari doa kakeknya, yakni Nabi Ibrahim ‘alahis salam yang dikabulkan oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam surat Al Baqarah: 129,

“Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al quran) dan Al Hikmah (As Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Al Baqarah:129)

Nabi Ibrahim memiliki dua orang anak, Ismail dan Ishak. Dari keturunan Nabi Ishak lahir banyak nabi, Nabi Ya’qub, Yusuf, Ayyub, Musa, sampai Isa ‘alaihis salam, semua Allah utus kepada kaum Bani Israil. Sementara dari keturunan Nabi Ismail hanya lahir seorang nabi, itupun setelah melewati periode generasi yang sangat lama; yakni Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam.

Dan ternyata, doa Nabi Ibrahim ini Allah kabulkan justru dengan diutusnya Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam yang menjadi penghulu para nabi dan rasul. Namun, doa itu Allah kabulkan dengan koreksi, sebagaimana  Allah sebutkan dalam Al Quran Surat Al Jumu’ah: 2-3, QS. Ali Imran: 164, dan QS. Al Baqarah: 151.

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata, dan (juga) kepada kaum yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Jumu’ah: 2-3)

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Ali Imran: 164)

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (QS. Al Baqarah: 151)

Dalam QS. Al Baqarah: 129, Nabi Ibrahim berdoa agar dari keturunannya lahir seorang rasul yang akan membacakan ayat-ayat Allah, mengajarkan Al Kitab dan Al Hikmah, dan mensucikan jiwa-jiwa kaumnya. Namun dalam tiga ayat jawaban atas doa beliau, Allah mengoreksi tahapan itu. Allah menempatkan pensucian jiwa menjadi urutan kedua setelah tugas membacakan ayat-ayat Allah, baru kemudian mengajarkan Al Kitab dan Al Hikmah.

Dalam ceramah berjudul Akhlak dalam Kurikulum Pendidikan, Ustadz Farid Okbah menjelaskan, di sini Allah seolah berkata kepada Ibrahim, bahwa membentuk manusia bukan dengan mengajarkan ilmu dulu melainkan dengan mensucikan jiwa mereka terlebih dulu. Mereka yang mempelajari agama tanpa mensucikan jiwa mereka terlebih dulu, maka akhlak mereka akan buruk. Tahu banyak tentang agama, tetapi minum dengan tangan kiri, tahu banyak tentang agama tetapi korupsi, dan seterusnya.

Sebagian mufasir berpendapat bahwa perubahan urutan ini karena saat itu Rasulullah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam, harus membersihkan jiwa-jiwa umatnya dari kemusyrikan dan hal-hal jahiliyah.

Tiga ayat jawaban diatas disebutkan pula sebagai metode pendidikan Nabi. Metode ini pulalah yang kemudian dilanjutkan oleh para salafashshalih dalam mendidik manusia. Mereka harus lebih dulu menginternalisasikan pensucian jiwa -yang akan melahirkan adab (termasuk akhlak mulia)- dalam diri murid-muridnya sebelum memberikan murid-muridnya asupan ilmu.

Wallahu a’lam.

(esqiel/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk