Ketika Anak Tak Mau Mendengar Kata-Kata Ibunya

MuslimahZone.com – “Bagaimana sih caranya membuat anakku itu mau mendengarkan kata-kata ibunya sendiri? Pamorku kalah dengan gurunya di sekolah, padahal kan aku juga guru loh.”

Seorang teman pernah curhat pada saya tentang hal di atas. Sebagai seorang ibu, dia merasa anaknya tidak begitu mempedulikan omongannya. Apapun itu, selalu dibandingkan dengan kata-kata gurunya di sekolah.

Bila ada ketidaksesuaian, maka kata-kata gurunya selalu yang utama yang akan dia dengar dan turuti. Begitupun bila yang dikatakan ibunya dengan guru di sekolah sama, maka ia tetap menganggap bahwa gurunya pintar karena ibunya pun bisa mempunyai pendapat sama seperti si guru.

Sikap ini walhasil sedikit mengkhawatirkan. Ibu sebagai pendidik pertama dan utama kehilangan pamornya di hadapan anak. Ada yang salah pada interaksi anak dan ibu di sini. Orang pertama yang dipercaya anak, seharusnya adalah ibu. Guru, meskipun merupakan pengganti orang tua di sekolah, tetap saja orang lain dan sosok kesekian yang ditemui anak dalam kehidupannya. Katakanlah pada usia 5 tahun, si anak mulai masuk TK dan mengenal sosok guru. Lalu, usia 0-5 tahun sebelumnya, siapa yang menjadi panutan bagi si anak tersebut?

Usut punya usut, ternyata hanya berselang sekitar dua bulan saja dari kelahirannya, si anak diserahkan pada neneknya karena ibunya harus mengajar. Untuk menyewa baby sitter juga tak mampu. Melepaskan kariernya sebagai guru juga sayang karena sudah susah payah ia kuliah demi profesi ini. Walhasil, solusinya ya berjauhan beda kota dengan si anak. Di usia dua tahun, si nenek meninggal dunia. Hal ini membuat si cucu limbung.

Pola asuh nenek dan ibu kandung yang tak sama, membuatnya harus beradaptasi dari awal lagi. Adaptasi ini tak sepenuhnya berhasil ketika di usia 5 tahun ia masih melakukan pembangkangan dan tak mau mendengar kata ibunya. Merunut ke belakang, si nenek seringkali membela si cucu ketika ibunya melakukan pola asuh menurut caranya. Si cucu akan berlari ke nenek dan mendapat perlindungan penuh, bahkan menyaksikan ibunya dimarahi oleh si nenek karena memarahi dirinya. Kondisi ini sedikit banyak memperngaruhi psikis si anak untuk berani tidak hormat pada ibu kandungnya sendiri.

Si ibu kandung ternyata juga kurang memahami pola asuh yang baik pada si anak. Ia dengan mudah mencubit anaknya dengan keras sehingga si anak pun menangis dengan kencang tak peduli itu di depan orang banyak. Membentak dan memberi label ‘nakal’ pada anak semakin memperburuk keadaan. Menurutnya, itu adalah proses pendisiplinan yang perlu diterapkan pada si anak. Bila tidak begitu, maka si anak akan makin nakal.

Bunda shalihah, ilustrasi di atas sungguh tak ideal. Tapi bukan tak mungkin ada di antara kita yang pernah mengalami hal tersebut, bukan? Jangan biarkan kondisi ini berlarut-larut. Senyampang anak masih dalam tahapan usia pertumbuhan, bunda harus segera mau berbenah. Yang utama dulu harus ada adalah introspeksi. Si anak adalah tanggung jawab orang tua yaitu ibu dan bapaknya, bukan kakek dan neneknya. Ketika seseorang sudah berani menikah, itu artinya ia harus berani pula menerima kondisi yang menyertai yaitu anak dan segala kerepotannya.

Tidak bijak menyerahkan pengasuhan dan pendidikan anak pada nenek dan kakeknya. Memang sih, ada kalanya nenek dan kakek ini yang meminta sendiri agar si cucu tinggal bersama mereka. Di sini, ketegasan bunda sebagai ibunya dan suami sebagai ayah si anak sangat diperlukan. Harus ada prioritas dalam hidup, begitu juga dalam berumahtangga. Percayalah, hasil dari bunda bekerja di luar rumah tak sepadan dengan ongkos untuk ‘mereparasi’ anak yang salah asuh. Bijaklah dalam bersikap dan mengambil keputusan. (riafariana)

(fauziya/voa-islam/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk