Keluarga Sakinah, Keluarga Qana’ah

Muslimahzone.com – Merengek minta dibelikan mainan seperti milik temannya, padahal ia sudah punya banyak mainan lain; tak tahan untuk tidak membeli barang dagangan yang digelar di arisan bulanan; atau hobi gonta-ganti aksesoris kendaraan, walau yang lama masih bisa dipakai. Perilaku tersebut bisa terjadi pada siapa pun, dari anak kecil sampai orang dewasa. Padahal, tanpa memiliki benda-benda yang diinginkan (bukan dibutuhkan) itu, hidup tetap baik-baik saja.

Kebiasaan yang Menular

Kebiasaan memperturutkan ‘selalu ingin punya’ tanpa dilandasi prioritas kebutuhan, jika tidak dikendalikan, bisa berpengaruh buruk bagi kehidupan berkeluarga. Bahkan, dapat menimbulkan pertengkaran karena adanya perbedaan sudut pandang.

Sesungguhnya, kebiasaan lingkungan yang dilihat, dirasa, dan didengar sehari-hari akan memengaruhi alam bawah sadar seseorang. Dalam hal ini, kesalahan tanpa sadar sering dilakukan para orangtua. Sehari-hari mengeluhkan anaknya yang sering merongrong minta dibelikan hal-hal yang tidak penting. Setelah memberi pengertian dengan marah-marah, ujung-ujungnya keinginan anak tetap diluluskan juga. Atau, tetap tidak mau memberikan yang anak minta dengan berbagai alasan, namun ayah atau ibunya bebas membeli barang kesukaan mereka.

Menumbuhkan sikap merasa cukup, mensyukuri apa yang ada, dan memenuhi keinginan berdasarkan prioritas kebutuhan harus ditanamkan sejak dini, berawal dari teladan orangtua. Alasannya, menurut Sri Wahyuni Rahmawati, M.Psi, anak-anak adalah pribadi yang paling rentan dan paling mudah melakukan imitasi terhadap apa yang dilakukan oleh orangtuanya. “Sebab, orangtua adalah role model bagi anak, termasuk dalam menampilkan sikap tidak qana’ah ini,” ujarnya.

Perasaan selalu tidak cukup, tambah Sri, mendorong seseorang untuk menampilkan tingkah laku tertentu, seperti berambisi dengan cara berlebih-lebihan untuk mencapai sesuatu, merasa tidak puas dengan apa yang ada sehingga menumbuhkan rasa gelisah, sibuk mengisi waktu dengan hal-hal yang bersifat duniawi untuk mencapai hal diinginkan. “Ini bisa menjadi pola hidup yang tidak sehat. Bila sikap ini terus-menerus ditunjukkan atau dominan dalam interaksi sehari-hari, tentu akan menimbulkan ketidaknyamanan yang memengaruhi kualitas relasi suami-istri dan anggota keluarga lainnya,” ungkap psikolog di Selaras Consulting ini.

Jika istri tidak qana’ah dengan apa yang diberikan oleh suami, begitu juga sebaliknya, akan berdampak pada pasangan. Rasulullah saw menasihati kaum wanita agar banyak bersedekah karena beliau saw melihat banyak sekali kaum wanita di neraka akibat sering mengeluh terhadap pemberian suami. “Itu dampak yang terjadi pada istri yang tidak mensyukuri pemberian suami. Suami pun bisa juga tertular berperilaku buruk. Karena ingin membahagiakan istri, dia menambah penghasilan tanpa mengindahkan halal-haram,” tutur Ustadz Farid Nu’man, SS, pengajar di BKB Nurul Fikri, Depok. Gara-gara istri, suami bisa masuk neraka. Pun sebaliknya, istri masuk neraka gara-gara suami. “Padahal, untuk menuju surga, suami istri perlu bekerja sama,” kata Farid 

Sakinah dengan Qana’ah

Pribadi yang qana’ah akan menumbuhkan ketenangan jiwa serta dapat memberi energi positif bagi lingkungan sekitarnya,baik terhadap relasi interpersonalnya, dalam keluarga, ataupun di komunitas yang lebih besar. Tidak ada rasa gelisah karena dorongan yang tidak terkendali untuk memperturutkan keinginan. Apakah sikap ini berkorelasi dengan kebahagiaan? “Jelas iya,” tegas Sri.

“Kebahagiaan, dalam kondisi apa pun, termasuk dalam lingkup keluarga, akan diawali oleh hati tenang yang dimiliki oleh masing-masing anggota keluarga. Di sini akan muncul subjective well being (perasaan sejahtera subjektif) pada diri yang mendorong seseorang untuk merasa bahagia,” jelasnya lagi.

Farid juga menegaskan, kunci kekayaan dan kebahagiaan adalah qana’ah. Sebagaimana perkataan Imam Syafi’i, “Idza kunta dza qalbin qonuu’ fa anta wa maalik ad dunya sawaa”, yang artinya, jika kalian punya hati yang puas maka posisi kalian dengan rajanya dunia adalah sama.

Luar biasa, bukan? Ternyata kebahagiaan sama sekali tidak terkait dengan seberapa banyak harta atau hal-hal keduniawian yang kita punya. Tapi seberapa puas dan nrimo kita dengan kondisi yang ada. Hakikat kebahagiaan inilah yang penting kita tanamkan pelan-pelan ke seluruh anggota keluarga, terutama anak.

Tanamkan Qana’ah di Keluarga

Didik diri dan pasangan agar lebih dulu qana’ah daripada anak. Di antaranya dengan saling mencontohkan sikap mulia ini, saling mensyukuri akan sikap positif pasangan, dan tidak mudah kecewa jika rezeki yang diperoleh tak sesuai harapan. Sedangkan untuk anak, kiatnya antara lain:

  •   Tanamkan tentang pentingnya mengutamakan bekal akhirat daripada dunia, sehingga segala perbuatan ditujukan agar semua anggota keluarga bisa berkumpul lagi di surga-Nya, bukan kesenangan dunia semata.
  •   Kenali kelebihan-kelebihan yang Allah berikan kepada keluarga dan anak. Apresiasi kelebihan itu sehingga anak menghayati bahwa apa yang dimiliki adalah sesuatu anugerah yang tidak dimiliki setiap orang dan harus disyukuri.
  •   Tanamkan sikap menghargai kelebihan yang dimiliki orang lain dengan tidak ada iri atasnya. Antisipasi mental follower pada anak.
  •   Ajarkan kemampuan membedakan antara apa diinginkan dan apa yang dibutuhkan, serta memanfaatkan barang yang ada ketimbang selalu membeli barang baru.
  •   Jangan segan meminta pertimbangan anak ketika orangtua ingin memiliki sesuatu. Atau ceritakan kepada anak betapa ayah atau ibu sudah menahan keinginan dengan tidak jadi membeli barang tertentu, dengan alasan-alasan logis yang bisa dicontoh anak.

Meutia Geumala

(ummi-online/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk