Keluarga Benteng Akidah Terkuat Bagi Anak

Muslimahzone.com – “Aduh, makin hari Si Dara makin ganteng aja sih, Bun?” seloroh seorang ibu.

“Iya tuh, gayanya sudah tomboy dari kecil, ya?” sambung ibu yang lain.

“Suka manjat-manjat pohon, katanya ribet kalau pakai rok. Eh, makin ke sini roknya sudah nggak muat. Jadi deh yang dipakai celana aja terus,” ucap sang Ibu tampak membela.

“Jangan dibiasain atuh. Nggak baik. Namanya anak cewek mah, sesuai kodratnya aja. Pakai rok, pakai jilbab,”

Ibu sang anak manggut-manggut, namun tetap pada pendiriannya.

“Biarin sajalah. Baru 9 tahun juga. Ntar kalau udah gede juga tau sendiri,”

Barangkali kasus seperti di atas mudah dijumpai di lingkungan sekitar. Anak perempuan dibiarkan berpakaian dan bertingkah laku seperti laki-laki atau anak laki-laki tak masalah meniru gaya perempuan.

Mirisnya, hal semacam tersebut terkadang dijadikan bahan candaan atau lelucon bagi orang dewasa.

Namun tanpa sadar, demikian itu sekaligus menjadi lampu hijau bagi anak bebas dan merasa tak masalah terus bertingkah seperti itu.

Hendaknya orang tua menyadari, perkembangan di usia anak-anak adalah lahan subur untuk menanamkan ideologi dan pertumbuhan psikologi serta organ fisik lainnya.

Sejak dini orang tua harus mendeteksi benih-benih yang tidak sehat akibat dari paparan pergaulan dan lingkungan sekitar anak.

Sebab tak sedikit orang tua yang hanya menganggap biasa perubahan tersebut. Anak yang ingin terlihat sebagai perempuan macho atau lelaki feminim, misalnya. Kelakuan itu hanya dianggap lumrah.

Para orang tua mungkin tidak menyadari bahwa dalam kondisi itu benih-benih perkembangan ideologi dan psikologi tumbuh secara  tidak sesuai dalam jiwa-jiwa yang masih terlalu muda.

Anak tidak diberikan koridor yang tepat untuknya bisa mengembangkan fitrah lahirnya sendiri.

Alhasil bibit transgender perlahan bersemayam dalam jiwa seorang anak tersebut tanpa disadari oleh orang tuanya.

Seiring waktu, orang tua akhirnya dibuat terperangah. Maksud hati sekedar memberi kebebasan kepada anak-anaknya dalam bergaul.

Ternyata berujung kepada sesuatu yang ditolak oleh akal sehatnya sendiri. Sang anak tumbuh dengan pergaulan dan perubahan yang tidak semestinya dilakukan.

Ia mulai menyukai sejenisnya dan ingin selalu tampil dengan apa yang menjadi fantasinya selama ini.

Jika hanya sekedar gesture, pembawaan yang tampak feminim atau macho, mungkin –bisa dianggap- tidak terlalu bermasalah.

Sebab dalam beberapa kasus yang terjadi, pada kondisi latar belakang tertentu hal itu mungkin bisa terjadi.

Namun ketika jiwa dan psikologisnya turut menyertai tampilan dan pembawaan tersebut, apakah itu suatu hal yang wajar?

Allah Subhanahu wa Ta’ala (Swt)  berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً

“Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya  Allah menciptakan istrinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain], dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (QS. An-Nisa [4]: 1).

Membiasakan anak berlaku sesuai fitrah kelahirannya tentu tidak dapat ditawar lagi. Sekuat apapun setan menggoda, niscaya sang anak bisa tergeming di atas kodratnya. Sebab hukum Allah bersifat pasti. Dia hanya menciptakan jenis laki-laki dan perempuan.

Menjadikan mereka berpasang-pasangan agar dapat berlangsung hidup yang selaras seimbang. Jika dua komponen ini melenceng, tentu ada ketidakstabilan yang terjadi pada lingkup kehidupan. Membiasakan anak bermain hanya dengan sesama jenisnya saja mungkin tidak selamanya bisa menjadi pilihan yang tepat.

Sebab, bagaimanapun ia juga butuh beradaptasi dengan lawan jenisnya. Di sini butuh peran orang tua mengajari anak-anak batasan-batasan yang harus diperhatikan di antara mereka.

Anak yang tidak diajarkan bermain dengan lawan jenisnya, disadari atau tidak akan terbiasa berinteraksi dengan sesama jenisnya saja.

Sehingga nantinya mungkin dapat menimbulkan rasa ketergantungan, bahkan ketertarikan kepada sesamanya.

Ketika anak memiliki ketertarikan dengan lawan jenis karena proses adaptasi tersebut, peran orang tua kembali dituntut untuk mengarahkan pada yang semestinya.

Sehingga ia tetap berada pada jalur yang benar dan memaknai ketertarikan itu dengan cara yang benar.

Sebab, ada pula kasus saat orang tua menyadari bahwa anaknya memiliki ketertarikan dengan lawan jenis di masa yang belum semestinya, ia malah memarahi dan membuat anak menjadi trauma sehingga mengalihkan perasaannya ke jalan yang salah.

Hingga kemudian, sulit untuk merehabilitasi dan memperbaiki apa yang sudah terlanjur terjadi.

Sekalipun kemudian dapat diperbaiki dalam waktu yang tidak sebentar, serta butuh orang-orang yang sabar untuk mengembalikan kepercayaannya, dan membuatnya kembali tertarik dengan lawan jenisnya.

Oleh : Rizky N. Dyahibu rumah tangga di Kutai Barat

(hidayatullah/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Pesta Seks Bukan Nikmat Terbesar di Surga
Secular Radicalism, The Real Blasphemy
Biasakanlah Anak Minta Izin Ketika Masuk Kamar Orangtua
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Hati-hati Merusak Kebahagiaan Orang Lain Tanpa Sadar
Berhenti Menghujat Saudara Sendiri di Sosial Media
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Nasehat Tere Liye Seputar Jodoh
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Tepuk Anak Sholeh dan Benih Radikalisme
Kerap Terlupakan Orangtua Mendidik Adab Anak
Mengapa Ayah Lebih Sabar daripada Ibu
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Jika Telah Caesar 3x, Apakah Boleh Steril/Tubektomi?
Sharing : Melahirkan Hanya 3 Kali Mengejan
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk