Keluarga Bejat Pembangkit Maksiat

Muslimahzone.com – Sungguh speechless menyimak berita di media. Kemaksiatan semakin menggila. Naik kuantitas maupun kualitasnya. Setelah pemerkosaan brutal yang tiada akhir, kejahatan miras yang kian mengganas, muncul penjualan adegan intim suami-istri (republika.com, 20/5/16).

Bukan, ini bukan transaksi video mesum. Suami-istri di Jakarta itu mengundang langsung pelanggannya untuk menyaksikan secara live. Lebih gila lagi, pelanggan yang bayar Rp800 ribu itu boleh berhubungan intim dengan sang istri. Motifnya uang.

Tak kalah bejat, muncul pula kasus pemuda yang bersetubuh dengan ibu kandungnya hingga melahirkan bayi. Karena malu, bayi itu pun dibuang (jawapos, 27/5/16). Na’uzdubillahi min zalik. Kiranya kebejatan apalagi yang belum ada di abad kapitalisme saat ini?

Kompak Bermaksiat

Tampaknya saat ini adalah era kebangkitan kemaksiatan. Bangkitnya segala bentuk kejahiliyahan yang belum pernah ada di masa-masa lalu dan bahkan tak pernah terbayangkan bakal ada. Ironisnya, kejahatan itu sudah dilakukan oleh skup keluarga. Ramai-ramai.

Mengapa ini terjadi? Ada lingkaran setan, pengaruh besar peradaban sekuler liberal yang eksis saat ini. Peradaban yang sengaja atau tidak, memaksa atau suka rela, telah mengajarkan nilai-nilai duniawi yang jauh dari nilai-nilai agama. Sistem yang sukses meliberalkan keluarga berikut individu-individu di dalamnya.

Keberadaan keluarga hari ini, telah menjadi tempat bersemainya kemaksiatan. Lokasi didesainnya persekongkolan kejahatan. Wadah lahirnya aneka kebiadaban. Bahkan inspirasi aneka kebejatan.

Lihatlah fakta-fakta yang tak habis diberitakan. Ada suami istri yang kompak korupsi. Ada satu keluarga sama-sama pemakai narkoba. Bahkan keluarga pembuat dan pengedarnya. Ada keluarga penipu. Ada keluarga pencuri. Ada keluarga perampok. Ada keluarga pemerkosa. Ada keluarga penghamil pacar.

Ada keluarga pengemis; termasuk anak-cucu keturunannya. Ada keluarga produsen makanan berbahaya dan bahkan haram. Ada keluarga penculik. Ada keluarga penjual bayi. Ada keluarga mucikari. Ada keluarga penjual diri. Duhai, keluarga macam apa ini? Keluarga kok jadi kedok untuk berbuat jahat.

Tergadainya Integritas

Peradaban sekuler kapitalis sukses merobohkan bangunan keluarga. Elemen terkecil dan terpenting sebuah masyarakat. Dimulai dari menghilangnya harga diri, menggantinya dengan materi. Ya, sistem ini telah mengajarkan, bahwa kemuliaan tertinggi sebuah keluarga dalam pandangan manusia adalah materi.

Dahulu, banyak orang miskin mempertahankan harga diri dengan tidak meminta-minta, tidak mencuri, tidak merampok, tidak menjual diri dan tidak terpikir secuil pun untuk berbuat keji. Demi integritas. Biarlah miskin, yang penting punya harga diri.

Ungkapan itu sangat dipegang teguh orang-orang tua zaman dulu. Mereka yang hidup hingga era 80-an. Terlebih jika berkaca pada abad-abad saat peradaban Islam diterapkan. Sungguh, harga diri dan kemuliaan masih bergantung pada nilai-nilai takwa.

Namun hari ini, harga diri tidak lagi menjadi ukuran penting bagi sebuah keluarga. Karena, ukuran terpenting dalam menjalankan hidup saat ini adalah materi. Harga diri diukur dari tempat tinggal. Nama komplek perumahan atau cluster pun sudah menunjukkan kasta diri.

Kemuliaan juga ditentukan oleh harga pakaian. Gadget kesayangan. Mobil impian. Dan segala kebendaan. Prinsip hidup manusia materialistis ini adalah mementingkan penampilan. Biar miskin, yang penting kelihatan kaya. Biar hasil kejahatan, dengan sombong dipertontonkan. Biar harga diri terjual, yang penting eksis dalam pergaulan.

Orangtua Permisif

Gejala itu bukan hanya melanda para remaja dengan alaynya. Robohnya harga diri itu juga menimpa para orangtua. Bahkan melanda keluarga-keluarga muslim di Indonesia. Keluarga yang telah berubah total menjadi keluarga kapitalis dengan ciri permisif (serba boleh) dan hedonis (gaya hidup mewah).
.

Maka, hari ini kita menyaksikan dengan mata kepala, banyak orangtua yang membiarkan anak-anaknya keluar rumah tanpa menutup aurat. Pakai baju tank top, hot pants seksi; orang tua tak merasa malu sama sekali. Anak perempuan mereka pun dibiarkan keluar malam dengan laki-laki, entah siapa dan kapan pulangnya, tak membuat orangtua merasa tercemarkan nama baiknya. Apalagi jika dilakukan malam Minggu atas nama pacaran. Terlebih sang pacar berpenampilan meyakinkan, secara materi tentunya. Malah bangga.

Anak teracuni virus ngartis, juga senang-senang saja. Bahkan seolah tuntutan zaman. Ibunya berkerudung rapi, mengantar anaknya nonton konser musik, tanpa ada rasa risih. Atau mendukung anaknya audisi supaya diorbitkan jadi artis. Miris.

Motivator Surga

Keluarga idealnya adalah tempat bersemainya kebaikan, kebajikan dan inspirasi menuju surga. Keluarga adalah wadah penempaan iman, takwa dan kemuliaan. Tempat menanamkan harga diri atau integritas. Keluarga adalah institusi kebaikan, bukan institusi kejahatan. Harus bebas dari kemaksiatan.

Tujuan dibentuknya keluarga, bukan dalam rangka memenuhi kebutuhan duniawi, melainkan mewujudkan cita-cita ukhrowi. Keluarga adalah tempat untuk membangun kekompakan dalam mewujudkan visi dan misi mulia menuju surga-Nya.

Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (TQS At-Tahrim: 6).

Keluarga adalah institusi terkecil dan terpenting untuk aktivitas amar ma’ruf nahi munkar. Satu sama lain saling mengingatkan dalam kebaikan, dilandasi kasih sayang. Maka, semestinya, tidak ada secuil pun peluang bagi individu di dalamnya untuk berniat maksiat. Apalagi sampai ramai-ramai, kompak dilakukan seluruh anggota keluarga.

Saatnya Ganti Peradaban

Sungguh, kerusakan keluarga akan berdampak besar pada kerusakan masyarakat. Ini harus segera diselamatkan. Tentu dengan membuang akar masalahnya. Sebab, persoalannya bukan terletak pada individu atau keluarga semata. Tapi sudah sistemik.

Maka sudah saatnya mengganti peradaban sekuler yang rusak dan merusak ini dengan peradaban Islam. Terapkan seluruh sistem Islam secara kafah. Sistem yang akan membawa suasana keimanan pada keluarga dan individu-individu di dalamnya. Sistem yang hanya menawarkan kebaikan dan kebajikan bagi manusia seluruhnya.

Asri Supatmiati

Sumber: Rubrik Muslimah Media Umat 175

(fauziya/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Menganggap Konflik Rohingnya Bukan Masalah Agama, Postingan Afi Kembali Menuai Kontroversi
Waspadalah, Kristenisasi Muslimah Lewat Jalur Pacaran
Pernikahan Pemuda dengan Nenek, Pemuda Dianggap Masih Dibawah Umur
Pendidikan Agama di Sekolah akan Dihapus?
Hukum Leasing dalam Islam
Batas Waktu Penyimpanan Daging Qurban
Negeri Tanpa Pajak, Hanya Islam yang Bisa
Kapan Memulai Puasa Dzulhijjah?
Terpesonalah pada Pembuat Keajaiban
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Di Antara 2 Pilihan
Untuk Apa Ujian Kehidupan?
Wajibkah Memenuhi Kebutuhan Sekunder-Tersier Istri?
Inikah Pelakor?
Bahagia Walau Tinggal di Kontrakan
Agar Istri Tak Futur Berdakwah
Membekali Anak tentang Pernikahan Sebelum Terlambat
Kapan Mengenalkan Anak Kisah Nabi
Kunci Pendidikan Anak-anak Palestina
Menanamkan Ketaatan Sejak Dini
Ramadhan, Bulan Memperbanyak Stok Sabar
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Kisah Taubat yang Mengagumkan
Kisah Wanita yang Masuk Neraka Karena Air Wudhu
Pahlawan yang Diragukan
Charlemagne, Harun Ar Rasyid, dan Lubang Ukhuwah Kita
Manfaat Menyusui bagi Ibu
Promil, Jangan Sembarang Minum Obat
Salah Paham Habatussauda
Inilah Beberapa Kesalahan Penderita Maag Menurut Medis
Tips Mengurangi Rasa Pahit pada Pare
Mengolah Ceker Agar Empuk dan Tidak Amis
Tips Mengatasi Penyakit Ujub
Memilih Buku Bacaan untuk Mengisi Ramadhan
Membuat Roti Cane Step by Step
Nikmati Segarnya Green Tea Smoothies
Segarnya Es Kuwut di Hari Lebaran
Biji Ketapang Gurih dan Empuk