Kehilangan dan Anugrah

Muslimahzone.com – Wanita itu menikah di usia hampir 40 tahun.  Dia adalah teman dari teman saya. Mendengarnya menikah, tak urung memunculkan tanya dalam hati, akankah ia bisa mendapatkan keturunan mengingat usianya yang tak lagi produktif menurut pandangan medis?

Tapi dia hamil tak lama sesudah pernikahannya. Hingga sekitar 4 bulan kemudian saya dengar – dari teman saya itu- bahwa dia keguguran. Janinnya keluar dikarenakan lemahnya kandungan, begitu katanya.

“Mungkin faktor usia juga. Wanita hamil di atas usia 35 tahun memang rentan untuk keguguran atau lahir prematur,” ujar beberapa teman kala itu.

Maka nyaris tak terbayang dia akan bisa hamil kembali. Namun apa yang kita pikir tak terjadi jika dihadapkan pada kuasa Ilahi, menjadi tak ada arti. Ia hamil kembali dan 9 bulan kemudian melahirkan, dengan cara operasi caesar, seorang bayi perempuan yang cantik, sehat, dan berkulit putih.

Pasangan itu bahagia sekali.

Saya menjenguk bayi mungil itu beberapa hari setelah kelahirannya dan mendapati wajah gembira dan bangga sang bunda kala mendekap bayinya erat.

Waktu terus berputar, saya tak lagi mengingat wanita itu hingga satu hari kabar menyedihkan tentangnya kembali saya dengar. Anaknya meninggal dunia menjelang ulang tahun pertamanya. Saya tak dapat membayangkan kesedihan wanita itu apalagi sesudah saya mendengar penyebab kematiannya.

“Ayahnya sedang bermain-main dengannya, mengayun-ayunkannya di tempat tidur. Melempar dan menangkapnya sembari berbaring. Dan entah apa yang terjadi, tangkapan ayahnya meleset dan anak itu terpeleset, kepalanya terkilir di pinggir tempat tidur dar besi,” teman saya bercerita.

Saya terperangah, tercengang tak percaya. Ngeri sekali, saya membayangkannya.

“Anak itu muntah, sang Ayah segera melarikannya ke rumah sakit. Ia sempat dirawat di ICU beberapa hari. Kemudian dokter mengatakan anak itu tak tertolong lagi akibat gegar otak yang tak bisa ditangani.”

Saya terkadang berpikir, jauh lebih ringan tidak diberi sama sekali daripada sesudah diberi ditarik kembali? Karenanya saya tidak sanggup membayangkan kesedihan hati wanita ini dan lebih tidak sanggup lagi membayangkan siksaan hati suaminya karena rasa bersalah. Memang iya sih..tak ada yang meninggal dunia kecuali karena memang ajalnya telah tiba. Betul juga ajal itu datangnya tidak bisa dimajukan atau dimundurkan barang semenit pun. Tapi siapa orangnya yang tahan meghadapi kenyataan bahwa anak itu mati ditangannya sendiri, bahwa anak itu mati akibat tingkahnya yang tak hati-hati?

“Mereka memutuskan untuk berpisah sementara dan tinggal sendiri-sendiri,” ujar teman saya ketika saya tanyakan kabar sepasang suami istri itu.

Sebuah pilihan yang bijak, saya rasa, dalam dilema kebersamaan yang rentan untuk saling menyalahkan. Sebuah pilihan terbaik untuk menangani kesedihan yang betul-betul mengiris hati. Mereka adalah pasangan dewasa yang mengerti betul bagaimana mengola hati. Sebab dalam sendir, kita akan lebih mampu mengintrospeksi, dan tanpa bersama, kita –seringkali- akan lebih bisa melihat masalah dengan mata hati yang terbuka. Dan pula jangan abaikan fakta bahwa, “Waktu adalah obat paling ampuh untuk menyembuhkan hati yang luka.”

“Biarkan waktu berjalan dan lihatlah esok atau lusa, lukamu pasti akan mengering juga.” Begitu yang sering saya dengar.

Dan betul saja, sekitar enam bulan kemudian, saya dengar pasangan ini telah kembali tinggal serumah. Kisah tragis tentang anak mereka tak akan terlupa namun hati mereka kini lebih mampu menerima.

Sang istri datang mengetuk pintu tempat tinggal sementara  suaminya dan memintanya kembali tinggal bersamanya di rumah mereka. Suaminya menerima dengan senang hati da kembali meminta maaf untuk yang kesekian kali atas apa yang terjadi. Ia bertanya apakah istrinya sudah memaafkannya.

Dan untuk kesekian kalinya pula sang istri mengatakan bahwa itu semua bukan salah suaminya. Dan bahwa dia tahu betapa suaminya sangat mencintai anak itu. Dan ia mengingatkan suaminya bahwa tugas mereka berdua sekarang adalah saling mengoleskan krim pengering luka bagi satu sama lain.

“Jika aku memutuskan untuk berpisah dari suamiku, berarti aku mengizinkan hidupku kehilangan untuk kesekian kalinya. Padahal kehilangan yang ini bisa aku hindari,”  jelasnya kepada kami.

“Doakan agar kami mendapatkan gantinya,” lanjutnya.

Maka, meski penuh dengan keraguan akankah ia bisa mendapatkan momongan di usia yang tak lagi bisa dibilang muda, kami pun menganggukkan kepala.

Allah Maha Dermawan, Dia seringkali mengambil untuk mengganti. Beberapa bulan sesudah kedatangan kami, wanita itu hamil kembali dan melahirkan bayi laki-laki yang begitu menggemaskan di usia 45 tahun.

Saat saya menulis kisah ini, saya taksir anak mereka sudah masuk TK.

Diambil dari buku Muhasabah Cinta karya Ustadzah Halimah Alaydrus

(esqiel/muslimahzone.com)

Leave a Reply

Siapakah Dalang Dibalik Kenaikan Biaya STNK? Ini Penelusurannya
Tak Hanya Medsos; Whatsapp, Line, BBM Juga Jadi Pantauan Pemerintah
MHTI Kembali Menyelenggarakan Kongres Ibu Nusantara (KIN)
Miris, Pasca Gempuran ke Aleppo Jokowi Malah Tanda Tangan Kerjasama dengan Iran
Keutamaan Ilmu
Tata Cara Mandi Haid dan Mandi Junub
Peran besar muslimah dalam dakwah Islam
Aroma Mewangi Minyak Kasturi
Neraka Jahannam Sepanjang Hidup, Surga Sepanjang Hidup
Rizki di Tangan Allah
Pada Suatu Titik
Mencari Jalan Pulang
Jodoh : Memilih Atau Dipilih ?
Ketika Istri Merasa Tidak Bisa Membahagiakan Suami
Pastikan Izin Suami Jika Ingin Menjalankan Shaum Sunnah
Satu-satunya Cinta yang Perlu Ada dalam Pernikahan bahkan dalam Kehidupan
Kenapa Anakku Susah Banget Sih Disuruh Sholat?
Aku Peduli Iman Anakku
Anak Sukses Bermula dari Bangun Pagi
Jangan Sia-Siakan “Masa SMA”
Jadilah Cyber Army, Boikot Ide Sesat!
Jaga Aurat di Depan Kamera
Perilaku Selfie Menjamur, Pengaruh BDD Ikut Bertutur
Raditya Dika tak lagi Jenaka, Awkarin Malah jadi fenomena: Generasi Islam Mau Kemana?
Kisah Si Kaya dan Si Miskin (Pemilik Dua Kebun: Surat Al-Kahfi 32-44)
Gubernur Al-Hajjaj dan Pelajaran untuk Penguasa Durja
Nilai Ketaatan Isteri pada Suami
Nenek Penjaga Wahyu Al-Qur’an
Cara Mengatasi Anak Susah Makan
Asam Lambung Naik, Coba Obat Alami Ini
Popok Bayi Sekali Pakai VS Popok Kain
Bolehkah Ibu Hamil Makan Nangka?
Tips Merebus Telur yang Baik
Tips Meningkatkan Minat Membaca Buku
7 Tips Menyapih Anak
Tips Menyimpan Daging Kurban dengan Baik dan Sehat
Tips Merebus Telur yang Baik
Resep Aneka Olahan Singkong
Nikmatnya Pangsit Kuah Hangat Buatan Sendiri
Eksperimen Dapur : Kue Ketan Isi Mangga